Bulutangkis.comBerita > Artikel > Pariwara
Juara Tanpa Harus Mencuri Usia
Oleh : admin Sabtu, 13 Mei 2017 17:17:32
Keluarnya SK tersebut, dengan kata lain sebetulnya PBSI mengakui bahwa sesungguhnya memang telah terjadi praktek pencurian usia di kalangan pebulutangkis Indonesia. Persaingan memperebutkan tempat di Pelatnas Cipayung disinyalir menjadi alasan terbesar praktek pencurian usia itu dilakukan.
Di pengunjung Maret 2017 lalu, PBSI mengeluarkan sebuah Surat Keputusan No. SKEP/021/0.3/III/2017 tertanggal 31 Maret 2017 tentang Pemutihan Data/Usia Atlet. SK ini dikeluarkan untuk menertibkan para pebulutangkis yang selama ini berkecimpung di turnamen di bawah naungan PBSI, terutama bagi mereka yang sudah melakukan pemalsuan atau pencurian usia. SK ini berlaku selama 3 bulan sampai dengan tanggal 30 Juni 2017. Dengan kata lain, jika selepas tanggal tersebut para pemain tidak melakukan pemutihan terhadap usia yang sesungguhnya maka akan diberikan tindakan tegas.

Dengan keluarnya SK tersebut, dengan kata lain sebetulnya PBSI mengakui bahwa sesungguhnya memang telah terjadi praktek pencurian usia di kalangan pebulutangkis Indonesia. Persaingan memperebutkan tempat di Pelatnas Cipayung disinyalir menjadi alasan terbesar praktek pencurian usia itu dilakukan.

Mekanisme yang berlaku untuk lolos ke Pelatnas Cipayung, seorang pemain akan dilihat prestasinya saat di kategori taruna (U-19). Mereka yang terbaik di taruna biasanya akan lolos ke Pelatnas. Bayangkan, ketika pemain itu melakukan pemalsuan usia dua tahun, maka saat ia lolos ke Pelatnas usianya sudah 21 tahun.

Entah sudah berapa tahun praktek ini berlangsung. Boleh jadi sudah terjadi seusia dengan mandegnya prestasi pemain Indonesia, terutama di sektor tunggal, baik putra maupun putri.

Awal Maret 2017 lalu PBSI memang telah menjatuhkan hukuman skorsing kepada empat pemain yang kedapatan melakukan pemalsuan. Mereka masing-masing Tabita Christian (PB Hiqua Wima Surabaya), Cahya Kristian Banjarnahor (PB Jaya Raya Abadi Probolinggo), Muh. Farhan S. dan Dhiva Ramadhan (PB Djarum Kudus).

Sayang, hukuman tersebut masih terkesan pencitraan. Tidak jelas yang disasar klubnya atau pemainnya yang notabene adalah pemain papan bawah. Lantas, bagaimana dengan pemain-pemain papan atas yang sudah terlanjur lolos ke Pelatnas?

Pada dasarnya, pemain bukanlah pelaku dari praktek pencurian usia. Karena otak dari itu semua adalah pembina atau orang tua sang pemain. Ironisnya, ketika hukuman itu harus dijatuhkan, hanya pemain yang dijadikan korban.

Demikian tulis Daryadi, Pemimpin Redaksi majalah Bulutangkis Indonesia pada kolom Salam Bulutangkis di edisi bulan Mei 2017. Masih ditemukannya praktek pencurian usia di kalangan pebulutangkis Indonesia menjadi salah satu sorotan Bulutangkis Indonesia kali ini. Latar belakang keluarnya SK ini pun dipaparkan Rachmat Setiawan, Kepala Bidang Keabsahan dan Sistem Informasi PP PBSI kepada Bulutangkis Indonesia.

Masih menyorot prestasi duo Kevin Sanjaya Sukamuljo/ Marcus Gideon Fernaldi yang sukses menciptakan treble winner, tiga gelar beruntun di ajang super series. Sukses duo Kevin/Marcus ini menjadi sajian utama Bulutangkis Indonesia dengan mengangkat torehan manis keduanya dengan titel Treble Winner.

Tak hanya menyorot sukses ganda putra Indonesia lewat Kevin/Marcus, kali ini Bulutangkis Indonesia pun menyorot kiprah tiga tunggal putra Pelatnas Cipayung (Jonatan Christie, Anthony Sinisuka Ginting dan Ihsan Maulana Mustofa) lewat titel Pasang Surut Trio Aji. Tunggal putri yang masih belum mampu bersinar pun jadi sorotan lewat titel Tunggal Putri Jalan Di Tempat. Tak ketinggalan ganda putri dan ganda campuran pun jadi sorotan utama kali, Kapan Ganda Putri Bangkit Lagi? dan Melepas Ketergantungan Owi/Butet.

Masa jaya sebagai pebulutangkis pasti ada batasnya. Tak sedikit mantan pebulutangkis yang tak siap harus berbuat apa ketika masa jayanya telah memudar hingga akhirnya gantung raket. Sony Dwi Kuncoro, peraih medali perunggu Olimpiade Athena 2004, mulai menata masa depannya. Temukan cerita perjalanan Sony memulai bisnisnya.

Tak hanya mengupas bulutangkis Tanah Air, edisi Bulutangkis Indonesia bulan ini pun mencoba mengintip bulutangkis Negeri Tirai Bambu pasca pensiun bintang-bintangnya usai Olimpiade Rio 2016. Bulutangkis Indonesia pun mengupasnya lewat Regenerasi Tiongkok Tidak Pernah Padam.

Wow, tak hanya itu. Masih banyak artikel menarik lainnya yang masih hangat. Dan jangan lewatkan satu bonus dari Bulutangkis Indonesia berupa poster Duo Kevin/Marcus pun bisa menghias dinding kamar. (*)

Majalah BULUTANGKIS INDONESIA
Alamat redaksi:
Grand Depok City
Sektor Melati Blok D1 No.5
Depok 16413
Telp/fax: (021) 8760254
Email: majalahbulutangkisindonesia@gmail.com

Info berlangganan :
WA : 0817-734-835
Line : majalahbulutangkis
Bulutangkis.com : http://www.bulutangkis.com
Versi online: http://www.bulutangkis.com/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=104236