Bulutangkis.comBerita > Artikel
Catatan Lily Dian Usai Kekalahan The Minions
Oleh : admin Kamis, 07 Maret 2019 17:28:04
Pagi-pagi buka situs Bulutangkis.com sudah harus melihat hal yang tak terduga. Dari semua berita yang muncul, berita The Minions yang paling menarik perhatian saya. The Minions kalah di babak pertama All England Open 2019. Ini sungguh tak biasa. Di luar dugaan kita dan mungkin juga bagi semua orang yang mengikuti perkembangan bulutangkis dunia. Meski kalahnya dengan pemain yang juga sama bagusnya, juara dunia, tetapi tetap saja masih menimbulkan rasa kaget yang berbeda.
Pagi-pagi buka situs Bulutangkis.com sudah harus melihat hal yang tak terduga. Dari semua berita yang muncul, berita The Minions yang paling menarik perhatian saya. The Minions kalah di babak pertama All England Open 2019. Ini sungguh tak biasa. Di luar dugaan kita dan mungkin juga bagi semua orang yang mengikuti perkembangan bulutangkis dunia. Meski kalahnya dengan pemain yang juga sama bagusnya, juara dunia, tetapi tetap saja masih menimbulkan rasa kaget yang berbeda.

Terlepas dari apapun yang ada di balik kekalahan mereka, saya rasa kita tetap harus sikapi dengan pikiran positif. Saya percaya bahwa kekalahan ini sesungguhnya menyimpan banyak kebaikan di dalamnya. Entah itu bagi si pemain, pelatih, pengurus PBSI, maupun bagi kita para pecinta bulutangkis Indonesia. Bahwa dengan segala yang sudah dicapai, tetap ada keharusan untuk rendah hati dalam menjalani kehidupan. Bahwa dengan segudang prestasi yang sudah diperoleh, tetap tidak boleh ada kelengahan dalam setiap detik perjalanan. Bahwa dengan naiknya kelas dalam sebuah kehidupan, membuat sebuah improvement sekecil apapun dan dalam aspek apapun tetaplah menjadi sebuah kewajiban. Bahwa dengan kebanggan yang sudah terasa begitu besar dan tinggi serta kesempurnaan yang makin kian dekat, tetap harus tidak boleh terlena karena walau bagaimanapun juga pada dasarnya kita adalah manusia biasa dengan kata ‘tidak sempurna’ yang sudah menjadi bagian dari takdir kita.



Setiap orang memiliki kepribadian berbeda-beda. Kevin yang lebih cuek memang berbeda dari Gideon yang lebih lembut hati dan peka. Sebagai fans, saya tidak ingin merubah kepribadian Gideon untuk menjadi serupa dengan partnernya. Justru saya ingin memberikan dukungan bahwa sebenarnya ada sebuah kekuatan yang luar biasa dalam sebuah kelembutan. Teruntuk Gideon yang sudah menjadi idola, buktikanlah bahwa kelembutanmu adalah senjata mematikan bagi lawanmu di luar sana. Bahwa kelembutanmu bukan untuk sebagai objek serangan tapi justru akan menjadi bisa (racun) yang mematikan bagi lawan.

Saya yakin, kekalahan mereka yang tidak biasa ini akan menjadi pelajaran berharga buat mereka. Bahwa tidak melulu harus meningkatkan kemampuan teknis semata hanya untuk mengejar titel juara. Namun juga sisi non teknis di luar lapangan dan permainan yang harus juga diperkuat agar tidak terus menjadi sasaran tembak bagi lawan. Buat Gideon, bahwa harus bisa mengontrol hal-hal yang ada di dalam dirinya karena sejatinya dia sebenarnya adalah pribadi yang luar biasa. Saya ingin sekali mengatakan kepada Gideon bahwa lawan (dalam hal ini tidak hanya pemain, bisa jadi wasit ataupun pendukung lawan) mencecarmu bukan untuk membuktikan bahwa kamu pemain terlemah di lapangan. Justru Tuhan menakdirkan itu semua untuk memberikan kesempatan padamu bahwa sebenarnya kamu lebih kuat dari yang mereka kira. Oleh karena itu, jangan pernah lelah untuk membuktikan bahwa kamu pemain yang kuat dan bukti bahwa sepanjang dua tahun terakhir kalian sulit dikalahkan bukan hanya berdasarkan kebetulan semata.

Kekalahan ini tidak hanya semata-mata menjadi pelajaran bagi Gideon saja, tetapi juga bagi sang partner. Meski saya tidak melihat pertandingannya, tapi saya yakin dan percaya bahwa Kevin sudah berusaha semampunya. Kevin selalu dianggap luar biasa dengan skill yang tidak biasa. Kini sudah diperoleh kenyataan bahwa skill menakjubkannya belum mampu menolong sang partner dari keterpurukan permainannya di lapangan. Meski kemauan dari diri sendiri memiliki pengaruh besar dalam sebuah kebangkitan atas kekalahan, namun dukungan dari orang terdekat juga memiliki pengaruh yang tak kalah signifikan. Mungkin saja nanti Kevin tidak akan terus bersama dengan Gideon yang bisa saja akan pensiun lebih dulu mengingat adanya jarak pada usia mereka. Kelak di masa depan, Kevin akan berganti pasangan dan berperan menjadi leader. Ya, meski mungkin pasangannya bisa jadi akan berusia tidak jauh berbeda darinya namun Kevin lebih unggul pengalaman. Itu sebabnya di masa depan peran leader sudah akan menunggunya.

Seorang leader harus mampu mengangkat partnernya tidak hanya secara teknis namun juga non teknis. Saya sadar bahwa Kevin masih muda. Peran seorang leader masih akan jauh dari posisinya saat ini. Namun saya rasa, kejadian kekalahan ini akan menjadi titik awal bagi Kevin bagaimana ia akan menjadi leader yang bisa membantu partnernya agar mereka berdua bisa bangkit dan kembali menjadi pasangan yang menakutkan bagi lawan. Saya percaya bahwa jika nanti Kevin berhasil menjadi pemain yang mampu mengangkat permainan Gideon yang terpuruk di lapangan, Kevin akan mendapatkan banyak rasa hormat dari para pecinta bulutangkis dunia. Bahwa ia tidak lagi digemari hanya karena skillnya yang memang di atas rata-rata, tetapi juga karena kekuatan dalam dirinya yang kemudian mampu ia transferkan pada sang partner hingga membuat ia dan sang partner menjadi pasangan yang tangguh dalam kondisi apapun di lapangan.

Pelajaran dari kekalahan ini tidak hanya diperuntukkan bagi mereka berdua saja, namun juga bagi pelatih, pengurus PBSI dan pecinta bulutangkis Indonesia (kita). Sebenarnya hal ini sudah saya pendam sejak lama, bahkan dari sejak Liliyana menjadi rising star di pertengahan tahun 2000an. Bahwa pemberitaan, komentar ataupun perhatian yang begitu besar pada atlet-atlet kita yang menjadi andalan bisa menjadi bumerang tersendiri yang diibaratkan seperti sebuah bom waktu yang hanya menunggu waktu untuk meledak. Di satu sisi saya mengerti bahwa semua itu merupakan bagian dari promosi dan publikasi agar bulutangkis tetap hidup dan dicinta oleh masyarakat Indonesia. Namu di sisi lain, hal-hal seperti ini bisa menjadi sebuah tekanan atau bahkan malah jadi pemantik dalam penurunan kualitas sang atlet.

Tentu saja pasti akan ada rasa bahagia dan bangga akan sebuah kemenangan dan juara. Namun nikmatilah rasa itu dengan secukupnya dan sekadarnya, karena pada dasarnya sesuatu yang berlebihan itu akan selalu membawa bahaya untuk kedepannya. Pujilah mereka yang berprestasi sesuai porsinya, kritiklah mereka dengan sewajarnya, lalu berikan semangat dan motivasi dengan tiada henti. Jika hal-hal seperti tadi (pujian, kritikan, dll) kita berikan secara berlebihan maka akan memenuhi ruang hidup mereka dan akibatnya ruang tersebut akan menjadi sesak tanpa udara. Maka alangkah baiknya jika kita semua (tanpa kecuali) memberikan mereka ruang untuk bergerak dan bernafas agar mereka bisa bertumbuh dan berkembang untuk memperbaiki diri menjadi lebih baik lagi.

Tetap semangat para pejuang tepok bulu Indonesia, Fighting! (Lily Dian)
Bulutangkis.com : http://bulutangkis.com
Versi online: http://bulutangkis.com /mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=106636