Bulutangkis.comBerita > Artikel > Wawancara
Rionny Mainaky: “Jabatan Kabid Binpres Itu Sangat Menantang”
Oleh : admin Selasa, 05 Januari 2021 18:12:37
Ini adalah sebuah tantangan baru bagi saya. Jabatan baru tersebut sangat menantang bagi saya. Dulu saya pernah menjadi pelatih dan kemudian menjadi pelatih kepala di Jepang. Tugas saya adalah melayani. Di sini pun sama. Terus terang memang agak kaget juga saya mendapat posisi itu. Memang agak lama saya pertimbangkan.
Di bawah nakhoda baru, Agung Firman Sampurna, PP PBSI masa bakti 2020-2024 akhirnya memilih Rionny Frederik Lambertus Mainaky sebagai Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi (Kabid Binpres). Pelatih yang sebelumnya menangani sektor tunggal putri di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jakarta Timur ini siap menggantikan kursi yang sebelumnya ditempati Susy Susanti.

Pengalamannya selama 23 tahun ikut membidani klub dan tim nasional Jepang, akan banyak memengaruhi kinerja Rionny bersama tim nasional bulutangkis Merah-Putih. Apa komentar Rionny tentang penunjukkannya tersebut? Apa pula target dan harapannya? Berikut petikan wawancara dengan Rionny di Pelatnas Cipayung, Jakarta Timur, pekan lalu, yang kami kutip dari laman resmi PBSI.

Pertama, selamat ditunjuk menjadi Kabid Binpres PBSI. Dari posisi sebagai pelatih, sekarang naik kelas menjadi Kabid Binpres. Apa komentarnya?

Ini adalah sebuah tantangan baru bagi saya. Jabatan baru tersebut sangat menantang bagi saya. Dulu saya pernah menjadi pelatih dan kemudian menjadi pelatih kepala di Jepang. Tugas saya adalah melayani. Di sini pun sama. Terus terang memang agak kaget juga saya mendapat posisi itu. Memang agak lama saya pertimbangkan. Menjadi Kabid Binpres itu terus terang tidak gampang. Awalnya, mengapa yang menjadi Kabid Binpres ini saya dan kenapa bukan dari pelatih ganda putra atau pelatih-pelatih lain yang telah matang? Apalagi, sebenarnya saya terus terang masih fighting untuk melatih.

Akhirnya, kenapa bersedia menerima jabatan tersebut?

Ya, saya pikir karena sudah kembali ke sini, saya ingin berbuat sesuatu. Saya pun punya pengalaman melatih di semua sektor saat di Jepang. Selain itu, pelatih-pelatih di sini pun sudah memiliki banyak pengalaman, pemainnya juga sudah teruji. Jadi bisa bekerja sama tanpa mengganggu program latihan yang sudah ada. Karena berbagai pertimbangan tersebut, akhirnya saya beranikan diri untuk mengambil keputusan itu. Terus terang, saya tidak takut dengan hasil di sebuah kejuaraan, entah itu gagal atau berhasil. Yang terpenting harus berusaha maksimal dulu. Kalau kita sudah berjuang mati-matian, dan hasilnya kalah, itu bukan berarti gagal tetapi memang ada yang lebih baik. Menurut saya, ya harus berjuang semaksimal mungkin dulu dan jangan main-main.

Sebagai Kabid Binpres, tugas Rionny tidak hanya terfokus di Pelatnas PBSI Cipayung, tetapi juga harus mengurus pembinaan bulutangkis di seluruh Tanah Air?

Memang tugas Kabid Binpres seperti itu. Tak hanya menangani di Pelatnas Cipayung ini. Cuma kalau misalnya saya nanti dibantu dengan staf ahli segala macam, mungkin bisa membantu dan meringankan tugas saya. Tapi kalau untuk menjadi pelatih, saya lebih suka. Saya memang suka membimbing dan melatih anak-anak.

Harapan Ketua Umum Pak Agung Firman Sampurna, salah satunya ingin menonjolkan pembinaan daerah. Artinya tugas Rionny bertambah, tidak hanya mengurusi yang di Cipayung saja, tapi di daerah juga?

Ya. Saya harus juga sering turun ke daerah-daerah. Apalagi, banyak pengurus-pengurus daerah sebenarnya teman juga sih. Itu malah menguntungkan bisa membantu tugas saya. Memang tugas saya ini tidak gampang karena harus berbagi konsentrasi antara pelatnas dan daerah. Tetapi, sepanjang program dan tujuan di daerah itu jelas, saat-saat tertentu saya pun bisa ke daerah. Saya senang jalan keliling Indonesia.

Apa yang membedakan antara tugas Kabid Binpres dan pelatih itu?

Kalau sebagai pelatih, itu sudah menjadi tugas yang saya lakoni sejak dulu. Sementara sebagai Kabid Binpres, memang tidak mudah. Terutama harus membuat statement-statement dan lebih banyak bertemu dengan teman-teman media. Terus terang, itu saya yang masih gamang. Kalau melatih kan normal-normal saja. Tetapi saya masih takut ketika harus menghadapi media. Saya tidak ingin salah membuat statement. Apalagi, karena lama di Jepang, bahasa Indonesia saya juga belum begitu baik. Saya belum terbiasa menghadapi media, tetapi mau tidak mau harus belajar bertemu media.

Setelah menerima tugas baru, bagaimana dengan target terdekat di tiga turnamen pembuka tahun 2021 di Thailand?

Ya memang semuanya baru dimulai lagi. Ini menjadi tantangan baru. Setelah ada pandemi Covid-19 ini, para pemain harus kembali beradaptasi lagi dengan atmosfer pertandingan. Ini tentu tidak mudah karena selama sembilan, pemain tidak pernah turun bertanding. Jadi tiga turnamen di Thailand itu sangat penting karena juga sebagai bagian untuk menghadapi Olimpiade Tokyo nanti yang persaingannya jauh lebih sulit. Meskipun begitu, tetap ada nilai positifnya. Kita jadi tahu bagaimana cara untuk menghadapi kondisi pandemi ini. Antisipasinya seperti apa dan apa yang harus dipersiapkan? Kan, pandemi Covid-19 ini tidak ada yang tahu akan sampai kapan berakhir. Jadi banyak hal teknis dan nonteknis, serta pelajaran yang bisa di ambil dari pertandingan Thailand ini.

Sebagai dampak dari pandemi ini, apa yang telah dilakukan?

Selama sembilan bulan ini kita tidak kemana-mana. Menunya hanya latihan terus. Fokus para pemain memang hanya latihan saja. Yang terpenting, para pemain bisa makan aman, tenaganya tetap kuat, dan imunitasnya juga bagus. Semua tahu, kondisi kita dengan pemain dari negara-negara lain juga sama.

Bagaimana dengan persiapan ke Olimpiade Tokyo 2021?

Kalau target utama, tahun depan ada Olimpiade. Kita jangan sampai hilang fokus. Tentu targetnya adalah merebut medali emas. Target kita tentu mau juara di Olimpiade Tokyo. Tetapi, dalam pertandingan pembuka di Thailand nanti, kita juga tidak bisa mengabaikan. Karena dari turnamen ini, kita jadi tahu bagaimana kemampuan dan kualitas teknik para pemain kita setelah sembilan bulan hanya berlatih di sini. Bagaimana pula perkembangan lawan. Jadi bisa menjadi bahan evaluasi untuk diperbaiki ke depannya. Jadi kalau punya target, ya dari sekarang harus dipersiapkan. Kalau selama persiapannya bagus, harapannya ke depan juga bisa mencapai hasil bagus di Olimpiade Tokyo.

Optimistis para pemain Indonesia kelak akan merebut emas di Olimpiade Tokyo?

Ya, harus! Kita wajib yakin. Sepanjang persiapannya maksimal, harapan itu ada. Saya sangat yakin karena kualitas para pemain yang kita miliki memang sangat bagus. Jadi saya harus yakin dapat merebut emas di Olimpiade Tokyo nanti. Hanya, untuk meraihnya perlu perjuangan, kerja keras, semangat, disiplin, dan juga pengorbanan. Ya, pokoknya harus mati-matianlah.

Kalau boleh tahu, apa perbedaan pembinaan antara Jepang dan Indonesia?

Memang mereka lebih disiplin. Lalu soal semangat pantang menyerah, mereka memang sudah terbiasa karena dilatih sejak kecil dari sekolah. Selama bertanding, mereka juga tidak pernah merasa panik. Pemain-pemain kita sering kurang sabar. Jadi, mau tidak mau di sini harus melatih soal kesabaran ini. Selain itu, setiap turun ke lapangan, misalnya untuk berlatih, pemain-pemain Jepang selalu bersuara yang menyemangati diri mereka sendiri.

Bagaimana pula dengan peran dan dukungan media terhadap pemain-pemain di Jepang?

Kalau di Jepang kan medianya lebih memberi semangat atau memuji. Itu pentingnya. Harapannya, lewat tulisan-tulisannya itu lebih memberi semangat lagi bagi pemain. Di Jepang, misalnya kalau ada wartawan televisi yang datang, gambar yang dimunculkan selalu yang bagus-bagus, yang memberi semangat. Mereka kan juga mengambil gambar yang terbaik, seperti juara-juaranya. Semua itu berpengaruh untuk meningkatkan semangat dalam menghadapi latihan dan pertandingan.

Bagaimana dengan kritik di Jepang dan di sini?

Di sana, media memang biasa memberi kritik, tetapi selalu kritik yang membangun. Di sini, saya berharap kritik itu jangan sampai menghakimi dan berkomentar yang jelek yang membuat semangat pemain jadi semakin down. Kalau pelatih kan sudah lebih berpengalaman, tidak terlalu berpengaruh terhadap kondisi mental. Kita sudah bisa mengolah dan mengelola soal kritik ini. Tetapi, kalau pemain kan beda.

Jadi apa harapannya terhadap rekan-rekan media?

Kritik dan masukan, ya boleh. Akan saya terima dengan senang hati. Tidak ada masalah dengan kritik yang membangun. Saya tahu kritik itu agar bulutangkis Indonesia terus maju dan berprestasi. Apalagi kita tahu, olahraga bulutangkis itu kan punya semua. Yang pasti, liputan dan tulisan media itu akan memengaruhi sekali terhadap prestasi dan semangat pemain.

Ngomong-ngomong, bagaimana karakter Rionny saat melatih?

Saya selalu disiplin, semangat, dan pantang menyerah itu harus. Selain itu, saya termasuk keras dalam berlatih. Tetapi, maksudnya latihan keras ini saya harapkan juga muncul dari kemauan si atlet sendiri. Mereka harus menyadari bahwa hanya dengan latihan keras akan menghasilkan prestasi terbaik. Kalau tidak mau berlatih keras, saya kira percuma saja, karena hanya membuang waktu dan membuang harapan orang saja. (*)

Profil Rionny Frederik Lambertus Mainaky
Lahir di Ternate, 11 Agustus 1966
Ayah tiga anak ini punya pengalaman 23 tahun melatih di Negeri Sakura. Baik sebagai pelatih klub dan maupun tim nasional Jepang.

Karier Pemain :
• 1987: Pemain PB Tangkas Jakarta
• 1989 – 1993: Pemain Timnas Indonesia

Karier Pelatih :
• 1993 – 2006 : Pelatih Klub YKK Kumamoto, sekaligus Timnas Jepang
• 2006 – 2008 : Pelatih PB Ratih, Banten
• 2007 – 2008 : Asisten Pelatih Pelatnas PBSI ke Olimpiade Beijing
• 2009 – 2019 : Pelatih Klub Unisys, sekaligus Pelatih Timnas Jepang
• 2019 – 2020 : Pelatih Tunggal Putri Pelatnas PBSI di Cipayung
• 2020 – 2024 : Kabid Binpres PP PBSI
Bulutangkis.com : http://bulutangkis.com
Versi online: http://bulutangkis.com /mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=108164