Bulutangkis.comBerita > Artikel
Asa Ganda Putra Pelapis Usai Thailand Open
Oleh : admin Rabu, 27 Januari 2021 05:53:46
Capaian ganda putra Indonesia pada dua turnamen Thailand Open (Yonex Thailand Open 2021 dan Toyota Thailand Open 2021) memang kurang menggembirakan. Langkah terjauh skuad ganda putra hanya bisa mencapai babak semifinal. Dua pasangan ganda putra senior, Mohammad Ahsan/ Hendra Setiawan dan Fajar Alfian/ Muhammad Rian Ardianto yang diharapkan bisa meraih gelar juara, memberikan capaian yang kurang maksimal pada dua turnamen seri HSBC BWF World Tour Super 1000 tersebut.
Capaian ganda putra Indonesia pada dua turnamen Thailand Open (Yonex Thailand Open 2021 dan Toyota Thailand Open 2021) memang kurang menggembirakan. Langkah terjauh skuad ganda putra hanya bisa mencapai babak semifinal. Dua pasangan ganda putra senior, Mohammad Ahsan/ Hendra Setiawan dan Fajar Alfian/ Muhammad Rian Ardianto yang diharapkan bisa meraih gelar juara, memberikan capaian yang kurang maksimal pada dua turnamen seri HSBC BWF World Tour Super 1000 tersebut.

Namun, capaian tiga pasangan ganda putra muda, Leo Rolly Carnando/ Daniel Marthin, Muhammad Shohibul Fikri/ Bagas Maulana, dan Pramudya Kusumawardana/ Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan, boleh dibilang cukup baik.

Mengutip laman resmi PBSI, disebutkan Herry Iman Pierngadi, pelatih ganda putra bahwa
penampilan ketiga pasangan pelapis ini cukup baik selama bertanding di Impact Arena, Bangkok tersebut. Mereka dinilai memiliki harapan. Padahal ini merupakan debut mereka di turnamen level super 1000.

"Mereka pertama kali turun di super 1000, tapi bisa melawan dan oke mainnya. Jadi di satu sisi, ada harapan dengan tiga pasangan-pasangan muda ini. Mulai kelihatan hasil latihan mereka, bisa bersaing dengan lawan-lawan negara lain juga," jelas Herry, mengutip wawancara tim Humas dan Media PP PBSI.

"Jadi ada dua sisi. Memang satunya gagal, yang satunya ada harapanlah," ungkapnya.

Pada seri pertama Yonex Thailand Terbuka pekan lalu, Leo/Daniel mampu mengalahkan seniornya, Fajar/Rian di babak kedua dengan rubber game 16-21, 21-17 dan 22-20. Sayang, langkah mereka dihentikan ganda Malaysia, Goh V. Shem/ Tan Wee Kiong di babak semifinal dengan skor 19-21 dan 10--21.

Sedangkan pada seri kedua ini, di babak pertama Fikri/Bagas menyingkirkan juara All England 2016 dari Rusia, Vladimir Ivanon/ Ivan Sozonov dengan rubber game 21-15, 16-21 dan 21-13. Namun di babak kedua, mereka tersingkir oleh pasangan Jerman, Mark Lamsfuss/ Marvin Seidel dengan skor 16-21 dan 15-21.

Sementara Pramudya/Yeremia, pada babak pertama seri kedua mengalahkan pasangan Prancis, Eloi Adam/ Julien Maio, 21-14 dan 21-16. Kemudian dikalahkan kompatriotnya, Ahsan/Hendra di babak kedua, 18-21 dan 18-21.

Melihat hasil tersebut, menurut Herry, ketiga pasangan muda binaannya ini sudah menunjukkan hasil latihan yang diharapkan. Apalagi, selama 10 bulan vakum dari pertandingan, mereka telah banyak melakukan sparing dengan para seniornya.

"Itu hasil selama 10 bulan lebih sparing dan latihan bersama dengan pemain-pemain top 10 yang ada di Indonesia. Seperti Kevin/Marcus, Ahsan/Hendra, dan Fajar/Rian," sebut Herry.

"Kan tidak berbeda terlalu jauh dengan negara lain. Menurut saya kemarin mereka bertanding bisa memberikan hasil latihannya sesuai dengan yang diharapkan," tuturnya.

Bagi sang pelatih, bukan kemenangan yang menjadi tujuan utama dalam debut pertama mereka ini. Setidaknya, pola permainan sudah terbentuk pada ketiga pasangan pelapis.

"Saya sih tidak selalu melihat menang atau kalahnya. Saya melihat cara mereka bermain, pola mereka bermain sudah terbentuk, sudah sesuai dengan apa yang kita harapkan. Tinggal nanti ditambahin jam pertandingan dan ada beberapa teknik yang harus diperbaiki," ucap Herry mengevaluasi.

Selama jalannya pertandingan, Herry kerap mengingatkan ketiga pasangan untuk menerapkan apa yang sudah dilatih. Rupanya, sang pelatih ini ingin anak asuhannya agar lebih menghargai proses yang mereka lakukan selama 10 bulan latihan.

"Setiap pasangan saya bilang, kamu main nothing to lose, karena kan kamu baru pertama kali ikut pertandingan series 1000. Kalau masalah teknik sih tergantung situasi lawannya. Pokoknya yang penting sesuai apa yang kamu latih selama 10 bulan, sesuaikan mainnya seperti itu," ucap Herry menirukan apa yang dia sampaikan kepada atlet-atlet mudanya.

"Garis besarnya sih pola main mereka bisa jalan. Banyak main pola no lob itu sudah jalan. Mereka bisa menerapkan di lapangan saat pertandingan. Walaupun masih turun-naik begitu. Kalah jam terbang lah," Herry menambahkan. (*)
Bulutangkis.com : http://bulutangkis.com
Versi online: http://bulutangkis.com /mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=108204