Bulutangkis.comBerita > Artikel
All England Gagal, tapi Belum Terkunci Mati
Oleh : admin Rabu, 25 Januari 2006 08:04:08
INDONESIA gagal merebut gelar juara di kejuaraan bulutangkis bergengsi All England di Birmingham, Inggris, 19-22 Januari. Awal yang buruk di tahun 2006, setelah pada dua kejuaraan penting lainnya, yakni Swiss Terbuka (3-8 Januari) dan Jerman Terbuka (9-15 Januari) para pemain Indonesia juga gagal.
INDONESIA gagal merebut gelar juara di kejuaraan bulutangkis bergengsi All England di Birmingham, Inggris, 19-22 Januari. Awal yang buruk di tahun 2006, setelah pada dua kejuaraan penting lainnya, yakni Swiss Terbuka (3-8 Januari) dan Jerman Terbuka (9-15 Januari) para pemain Indonesia juga gagal.

Sony Dwi Kuncoro, satu-satunya pemain tunggal yang dikirim ke Birmingham, kandas di babak awal. Demikian pula tiga ganda putra, Candra Wijaya/Sigit Budiarto, Luluk Hadiyanto/Alvent Yulianto dan Markis Kido/Hendra Setiawan, kandas di tangan lawan-lawan mereka. Ganda putri, Jo Novita/Greysia Polii juga bernasib sama. Hanya ganda campuran Nova Widianto/Lilyana Natsir yang merupakan juara dunia, mampu sampai babak semifinal.

Paceklik gelar juara yang dialami perbulutangkisan Indonesia kali ini mengundang keprihatinan. Reaksi muncul dari masyarakat maupun internal Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PB PBSI). Salah satu keprihatinan tertuju pada ketatnya seleksi pengiriman pemain ke turnamen internasional.

TURNAMEN merupakan arena terbaik untuk mengasah sekaligus membuktikan kemampuan pemain. Melalui turnamen, para pemain akan tahu persis kekuatan dan kelemahan lawan. Demikian pula bagi para pelatih.

Seleksi yang ketat dalam pengiriman pemain ke luar negeri kali ini, terkait erat dengan keterbatasan dana PB PBSI. Perekonomian Indonesia yang belum pulih berdampak luar biasa besar pada pengembangan prestasi atlet di Indonesia. Kesulitan mendapatkan sponsor dari dunia usaha untuk menyelenggarakan pemusatan latihan nasional, menggelar kompetisi, dan mengirim atlet ke kejuaraan internasional, dirasakan sampai sekarang.

Kita tidak mungkin mengharapkan dana dari pemerintah yang juga sedang kesulitan. Sementara keberadaan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga dan disahkannya Undang Undang Olahraga, belum dapat melahirkan langkah terobosan dalam penggalangan dana dan peningkatan prestasi atlet.

Sementara itu,Cina, Korea Selatan, Malaysia, saingan utama Indonesia di cabang bulutangkis, dari segi dana tidak mengalami masalah berarti. Demikian pula negara-negara dengan prestasi bulutangkis yang baik di Eropa.

Khusus Cina, saat ini memiliki berlapis- lapis pemain dengan prestasi yang mengesankan. Dengan dukungan sponsor yang baik, Cina dapat mengirimkan banyak pemain ke kejuaraan-kejuaraan penting internasional. Itu sebabnya Cina mendominasi kekuatan bulutangkis dunia dalam beberapa tahun terakhir.

Pada kejuaraan All England kali ini, Cina merebut empat gelar juara yaitu tunggal putra, tunggal putri, ganda putri dam ganda campuran. Satu gelar juara lainnya, yakni ganda putra, menjadi milik pasangan Denmark.

KITA sadar sangat berat beban yang dipikul PB PBSI untuk memenuhi harapan masyarakat terhadap prestasi terbaik. Indonesia belum sepenuhnya terkunci mati. Masih ada jalan dan pilihan yang dapat ditempuh. Para pengurus perlu duduk bersama membicarakan kembali dengan tenang dan jernih kebijakan pengiriman pemain ke turnamen internasional. Diperlukan upaya lebih maksimal untuk merangkul dunia usaha agar sudi mendukung pengiriman lebih banyak pemain ke kejuaraan internasional.

Kita percaya pengurus PB PBSI memiliki kapasitas untuk mengatasi kebuntuan prestasi tersebut. Semua pihak, termasuk pemerintah, diharapkan mendukung upaya yang akan ditempuh. Di depan mata telah menunggu tantangan berikutnya sederetan turnamen seri grand prix, yang paling bergengsi perebutan Piala Thomas dan Uber di Jepang, 28 April hingga 7 Mei 2005.

Sumber:suarapembaruan.com
Bulutangkis.com : http://bulutangkis.com
Versi online: http://bulutangkis.com /mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&artid=236