Berita > Artikel > Wawancara

Eng Hian: ''Menangani pemain putri itu lebih ribet''

Jumat, 03 Oktober 2014 07:55:53
2799 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

  • Greysia, Eng Hian & Nitya

    © Badmintonindonesia.org

  • Greysia, Eng Hian & Nitya

    Yonex Sunrise Men’s Double Championship 2014
    © Bulutangkis.com

Masih terekam di ingatan bagaimana kegembiraan pasangan ganda putri Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari saat berhasil memenangkan medali emas di Asian Games 2014. Medali emas ini sekaligus menjadi medali emas pertama yang diraih kontingen Indonesia pada pesta olahraga negara-negara Asia yang berlangsung di Incheon, Korea, 20-29 September 2014.

Saat sukses mengalahkan Ayaka Takahashi/Misaki Matsutomo (Jepang) dengan skor 21-15, 21-9, Greysia/Nitya langsung lari berhamburan ke arah sang pelatih, Eng Hian, yang mendampingi mereka sepanjang pertandingan. Momen haru pun terjadi saat ketiganya berpelukan erat sambil menitikkan air mata bahagia atas keberhasilan besar yang baru mereka capai.

Sebelum menangani skuat ganda putri Pelatnas Cipayung, Eng Hian yang akrab disapa Didi ini merupakan Kepala Pelatih Tim Nasional Singapura selama enam tahun lamanya. Belum genap setahun melatih Greysia/Nitya, ayah dua anak ini sukses mengantar Greysia/Nitya meraih medali emas Asian Games setelah 36 tahun lamanya Indonesia merindukan emas ganda putri di Asian Games.

Lalu apa yang dibekali pelatih kelahiran Solo, 17 Mei 1977 ini kepada anak-anak didiknya? Berikut petikan wawancara Badmintonindonesia.org bersama Eng Hian.

Apa perasaan anda saat Greysia/Nitya memastikan medali emas pertama untuk Indonesia di Asian Games 2014?

Senang sekali, sudah pasti itu. Kalau dibilang sudah menyangka juga tidak, dibilang punya feeling juara juga tidak, karena saya tidak berpikir jauh, tapi fokus satu demi satu pertandingan saja. Setelah melewati babak semifinal, saya memang punya keyakinan lebih, walaupun sempat stress juga saat laga semifinal saat Greysia/Nitya melawan Tian Qing/Zhao Yunlei (Tiongkok).

Sebagai pelatih, menurut anda apa senjata utama Greysia/Nitya sehingga bisa mengalahkan deretan ganda putri kelas dunia?

Menurut saya yang paling utama adalah rasa percaya diri. Selain itu, Greysia/Nitya sangat-sangat disiplin dalam menjalankan strategi, artinya mereka bisa mempertahankan fokus di satu demi satu poin, tanpa memikirkan 'Gue pasti menang, nih'ť. Saya lihat dua hal ini yang berperan penting dalam kemenangan mereka.

Apa PR Greysia/Nitya usai Asian Games 2014 ?

Mendapat hasil bagus dalam waktu yang cepat pastinya menjadi keinginan semua orang. Yang susah itu mempertahankan. Saya akan mencoba untuk membantu Greysia/Nitya untuk mempertahankan peak performance mereka, serta menanamkan pola pikir supaya mereka tidak cepat puas.

Bagaimana soal program latihan di Pelatnas Cipayung, menurut Greysia/Nitya, anda membuat program latihan yang lain dari biasanya di hari Sabtu?

Saya mulai melatih mereka bulan Maret 2014, sesudah turnamen All England, saat itu kami duduk bersama dan berdiskusi soal program latihan. Mengenai program di hari Sabtu ini memang benar, karena di hari itu lah peak penampilan pemain paling tinggi, kalau di turnamen kan hari Sabtu itu berat. Jadi di latihan kita terapkan seperti itu, kalau biasanya Sabtu agak ringan, kali ini dibuat berat seperti pertandingan.

Saat pertama kali ditugaskan menangani ganda putri di Pelatnas Cipayung, apa yang ada di benak anda?

Awalnya saya menangani ganda putri potensi lewat proses negosiasi yang cukup lama dengan Rexy Mainaky (Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PBSI). Rexy mau ganda putri bisa juara di ajang All England, BWF World Championships dan selevelnya. Kala itu saya bilang kalau saya butuh waktu yang lebih panjang untuk membangkitkan sektor ini. Saya bilang saya perlu waktu enam tahun untuk itu, karena saya mau merombak total. Mulai dari keseharian para atlet. Karena saya lihat ganda putri kita seperti 'empty', teriakannya saja yang ramai, tetapi tidak ada 'soul' nya. Namun sekarang saya cukup optimis dengan ganda putri kita.

Menurut anda, apa kekurangan tim ganda putri yang saat itu perlu dibenahi?

Saya rasa kendala pertama ada di fisik, bukan cuma dari pertahanan, tapi kekuatan otot, postur tubuh.

Greysia/Nitya juga bicara soal bagaimana anda melatih mental mereka dan mengubah mindset saat bertanding, seperti apa prosesnya?

Wah sebetulnya biasa-biasa saja kok, saya tidak bicara banyak, lebih ke arah diskusi. Saya ingin mereka menyadari apa tujuan mereka ke Cipayung dan main badminton itu buat apa? Kalau mereka sudah mengerti bahwa ini profesi mereka, pasti lebih total.

Saya menerapkan ini ke semua pemain ganda putri, bukan cuma Greysia/Nitya. Namun Greysia/Nitya kan lebih dewasa dari segi usia dan pengalaman, jadi lebih cepat menyerap apa yang saya sampaikan. Kalau pemain-pemain lain yang masih muda, mungkin belum secepat Greysia/Nitya menyerapnya, ada yang masih coba-coba, ada yang 'nantangin'. Tapi kondisi ini seru juga, ini menjadi tantangan buat saya sebagai pelatih.

Disebutkan Rexy, nomor ganda putri telah siap dijadikan nomor andalan bersama ganda putra dan ganda campuran. Bagaimana komentar anda?

Soal target ke level yang lebih tinggi, tentunya kami juga mau dapat hasil yang lebih baik. Apalagi sebelumnya ganda putri hasilnya kurang memuaskan, pasti saya ingin sekali meningkatkan kualitas dan prestasi pemain. Tapi saya tak mau menjadikan ini sebagai beban karena semua pekerjaan pasti ada beban dan target. Sekolah saja ada target, apalagi bekerja. Nah saya akan berusaha menyeimbangkan hal ini.

Melatih sektor ganda putri yang semua atletnya pemain putri pasti bukanlah hal yang mudah, terutama jika bicara soal non teknis. Apa komentar anda?

Benar sekali, menangani pemain putri itu lebih ribet karena perasaannya lebih sensitif. Untuk itu saya banyak berdiskusi dengan istri saya soal bagaimana menghadapi anak perempuan. Saya sering cerita soal anak-anak sama istri di rumah, katanya kalau sama perempuan nggak bisa main 'tembak', bisa-bisa anak itu nangis nggak karu-karuan. Istri saya yang juga dekat dengan anak-anak didik saya, sering memberi masukan kalau sebaiknya saya menyelesaikan dengan cara perempuan juga, ha ha ha. Ya, lebih diatur ke kanan, ke kiri dulu, baru ke inti pembicaraannya. (badmintonindonesia.org)

Berita Wawancara Lainnya