Berita > Berita

Resep Tontowi/Liliyana Akhiri Kutukan Zhang/Zhao

Jumat, 02 September 2016 14:41:57
3961 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Pada Olimpiade Rio 2016 lalu, selain meraih medali emas, juga ada catatan membanggakan lainnya yang diraih oleh Tontowi Ahmad/ Liliyana Natsir. Pasangan ganda campuran Indonesia itu berhasil memutus rekor delapan kali kekalahan beruntun dari Zhang Nan/Zhao Yunlei.

Sejak kalah di final ASEAN Games 2014 lalu, Tontowi/Liliyana selalu mengalami kekalahan dalam delapan laga berikutnya melawan Zhang/Zhao. Ganda Tiongkok itu seakan menjadi kutukan bagi Tontowi/ Liliyana.

Lalu, apa resep rahasia Tontowi/Liliyana saat mengalahkan ganda nomor satu dunia itu di babak semifinal Olimpiade Rio?

"Setelah menang lawan teman sendiri (Praveen Jordan/Debby Susanto) di babak perempat final, kita diskusi," kata Liliyana pada acara pemberian hadiah dari Djarum di GOR Djarum, Jati, Kudus, Jawa Tengah, hari Kamis (01/09/2016) malam.

"Kita sepakat tidak memikirkan hasil sebelumnya (melawan Zhang/Zhao). Kita anggap dari nol, apalagi ini Olimpiade. Mereka juga pasti ada tegang dan beban," sambung Liliyana.

"Kita ubah mindset. Anggap dia bukan ranking satu dunia dan pernah ngalahin kita."

Kemenangan dengan skor 21-16 dan 21-15 akhirnya berhasil ditorehkan. Setelah misi balas dendam selesai, Tontowi/ Liliyana tampil sempurna di final. Mereka pun sukses mempersembahkan satu-satunya medali emas untuk Indonesia.

"Sampai sekarang masih belum percaya. Masa sih saya juara Olimpiade?" ungkap Liliyana.

"Kita sempat terpuruk tahun 2015 dan baru dapat satu gelar di Malaysia Open pada tahun 2016 ini. Banyak orang yang berkomentar bahwa kita sudah habis. Namun, kita jadikan hal itu sebagai motivasi untuk tampil baik di Olimpiade ini," lanjutnya.

"Intinya spirit dan kemauan, tapi juga didukung dengan persiapan. Baik persiapan teknik maupun mental. Jadi, pas main di Olimpiade kita sudah benar-benar siap," timpal Tontowi.

Keberhasilan Tontowi/Liliyana di Rio ini juga seakan membayar kegagalan mereka pada ajang serupa empat tahun silam. Mereka yang menjadi tumpuan terakhir Indonesia untuk merebut emas di bulutangkis, pada akhirnya harus pulang dengan tangan kosong. (jan)

Berita Berita Lainnya