Berita > Artikel

Jadi Anak Asuh Pelatih Untuk Wujudkan Mimpi

Selasa, 06 September 2016 11:38:02
1690 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Normaji M. Ramadani namanya. Ia baru berusia 14 tahun. Namun, kisah hidupnya sudah penuh dengan lika-liku. Normaji merupakan salah satu peserta final Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis 2016. Ia berasal dari kota audisi Makassar, namun berdomisili di Kota Gorontalo.

Tidak seperti anak lain pada umumnya, Normaji tinggal bersama sang pelatih. Padahal, ia masih memiliki keluarga yang utuh.

Adalah sang pelatih, Surya Ardi, yang membawa Normaji untuk tinggal bersamanya. Surya merasa prihatin dengan kondisi Normaji. Menurutnya, bakat dan kemampuan sang anak akan sia-sia jika tetap tinggal bersama orangtuanya.

“Saya melihatnya dia punya bakat dan kemampuan. Tapi, dari segi keluarga, eknomi, dan klubnya yang dulu tidak terlalu fokus sama dia. Jadi, saya tarik untuk tinggal dengan saya,” ungkap Surya di GOR Djarum, Jati, Kudus, Jawa Tengah, Sabtu (03/09).

Pertemuan Surya dan Normaji terjadi di sebuah turnamen lokal di Kalimantan. Surya kagum dengan kemampuan yang dimiliki Normaji. Semenjak itu, Surya sering mengajak Normaji bertanding ke berbagai turnamen.

Normaji menceritakan keadaan keluarganya kepada Surya. Merasa prihatin, Surya lantas menawari sang bocah untuk berlatih, sekaligus tinggal bersamanya.

Bak gayung bersambut, Normaji dan keluarganya menyetujui penawaran dari Surya. Akhirnya, tahun 2014, Normaji pindah dari Banjarmasin, Kalimantan Selatan ke rumah Surya di Paser, Kalimantan Timur.

“Dari latihan, daya juang dia kelihatan bagus. Walaupun anaknya kadang emosi, tapi materi apapun yang diberikan dia lahap. Jarang mengeluh. Sayang kalau dia tidak dibina lanjut,” tukas Surya.

Saat berpamitan, orang tua Normaji menitip pesan kepada Surya, “Ini adiknya tolong dijaga. Anggap saja kayak adik sendiri. Kalau hal postiif, kita dukung saja.”

Di Paser, Normaji berlatih di HAS Academy, klub tempat Surya biasa melatih. Selain melatih, Surya juga membiayai sekolah Normaji. Dan ternyata, selain Normaji, Surya memiliki satu lagi anak asuh yang juga tinggal bersama-sama dengan dia.

Saking bertanggung jawabnya, Surya turut memasukkan nama kedua anak asuhnya itu ke dalam Kartu Keluarga. Surya sendiri sudah memiliki isteri dan satu orang anak.

“Sayang kalau anak-anaknya yang berpotensi, tapi terkendala. Walau saya juga susah, minimal saya bisa bantu dia latihan,” tutur Surya.

Awal Januari lalu, Surya sekeluarga pindah ke Gorontalo karena pekerjaan. Ia mendapat pekerjaan sebagai staf Dispora Kota Gorontalo dan Pelatih Kepala Pelatkot Gorontalo. Normaji pun turut pindah dan berlatih di Pelatkot.

Kendati sudah tinggal bersama orang lain, Normaji tak lantas lepas hubungan dengan keluarganya. Secara rutin anak bungsu dari tiga bersaudara itu berkomunikasi dengan orangtuanya melalu telepon. Bahkan, Lebaran lalu ia juga pulang ke Banjarmasin untuk bertemu keluarganya.

Gagal, Berhasil, dan Kembali Gagal

Keinginan kuat untuk menjadi atlet top, mendorong Normaji untuk ikut Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis. Tahun 2015, ia ikut Audisi Umum untuk pertama kali. Namun, Normaji langsung gagal di Audisi Kota Balikpapan.

Kegagalan tersebut memacu Normaji untuk berlatih lebih giat. Ia pun mencoba lagi di tahun 2016. Kali ini, Normaji berhasil meraih Super Tiket dari Audisi Kota Makassar. Ia pun berangkat ke Kudus untuk mengikuti Final Audisi.

Namun, keberangkatan ke Kudus tidak dilaluinya dengan mudah. Kendala biaya kembali menjadi musuh nomor satu. Akan tetapi, pada akhirnya Normaji tetap bisa berangkat ke “Kota Kretek”.

Perjalanan ditempuh menggunakan pesawat dari Gorontalo menuju Makassar, dan kemudian berakhir di Surabaya. Dari “Kota Pahlawan” perjalanan dilanjutkan menggunakan bus umum sampai ke Kudus.

“Sama sekali tidak ada dana sebenarnya. Tetapi, dari pihak keluarga dia bantu. Saya carikan pinjaman, serta dari pengurus juga bantu. Subsidi dari Djarum dipakai untuk biaya sehari-hari di sini,” ujar Surya.

“Pulangnya belum tahu nanti pakai apa. Nanti saya coba usaha cari pinjaman lagi,” tambahnya.

Akan tetapi, keberuntungan belum menaungi Normaji seutuhnya. Ia gugur dalam seleksi awal di Final Audisi Umum. Mimpinya untuk masuk PB Djarum harus kembali terkubur.

“Lolos Alhamdulillah. Kalau pun tidak, tidak jadi masalah. Nanti saya akan coba dia ikut tes ke klub lain. Minimal dia harus punya jam terbang tinggi. Kalau di daerah selalu terkendala dana,” kata Surya.

Meski begitu, Surya tetap berkomitmen untuk mengasuh Normaji. Selama masih sehat, ia akan terus bertanggung jawab terhadap anak asuhnya.

“Dia masih 14 tahun. Jalani dulu sambil sekolah. Kayak air mengalir. Yang jelas pendidikan tidak ketinggalan dan badminton masih jalan,” jelas Surya. (jan)

Berita Artikel Lainnya