Berita > Artikel

Japan Open 2016, Bangkitnya Tunggal Putri Tiongkok?

Sabtu, 24 September 2016 18:14:13
3335 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

  • He Bingjiao

    ©BWFBadminton.com

  • Sun Yu

    ©BWFWorldSuperseries.com

Mundurnya sederet nama pebulutangkis dunia pasca pagelaran akbar Olimpiade Rio 2016 membuat peta kekuatan baru di panggung tepok bulu menjadi semakin sengit dan menarik.

Tiongkok menjadi salah satu negara yang dikenal memiliki stok pemain hebat dan berprestasi dalam persaingan elit dunia, sejajar dengan Korea Selatan dan juga Jepang.

Nama-nama seperti Zhao Yunlei, Tian Qing, Yu Yang, Wang Yihan dan Wang Shixian telah resmi mengundurkan diri. Kini, para penerusnya seperti Bao Yixin, Chen Qingchen, Huang Yaqiong, Sun Yu, He Bingjiao dan Chen Yufei siap menjadi andalan di kancah internasioal untuk bersaing dengan negara kuat lainnya.

Wang Yihan dan Wang Shixian sempat menjadi ratu di nomor tunggal putri, namun masa keemasannya telah berakhir. Dan saat ini duo Wang tersebut pensiun dengan hati yang lega karena para juniornya sudah sangat siap menjadi andalan bagi negaranya.

Bukan pincang namun semakin solid, itulah yang terlihat pada kondisi tunggal putri Tiongkok yang kini ambil bagian di kejuaraan Yonex Japan Open Super Series 2016 yang digelar di Tokyo Metropolitan Gymnasium, Tokyo, sejak Selasa (20/9) lalu hingga hari Minggu (25/9).

Secara mengejutkan, Tiongkok mampu memastikan gelar tunggal putri di turnamen berhadiah total 300.000 dolar Amerika ini, padahal hanya mengirimkan tiga nama, yakni Chen Yufei, Sun Yu dan He Bingjiao, namun dua dari tiga nama tersebut mampu menyingkirkan para pebulutangkis yang lebih diunggulkan.

He Bingjiao dan Sun Yu sukses melaju ke partai final. Di semifinal hari ini keduanya menaklukkan andalan tuan rumah. He menaklukkan Aya Ohori dua game langsung 21-17 dan 22-20, begitu juga Sun Yu menaklukkan Akane Yamaguchi dengan skor 21-17 dan 21-18.

Tampilnya kedua He (21 Maret 1997) dan Sun Yu (28 Februari 1994) di partai final besok memecahkan kebuntuan prestasi tunggal putri Tiongkok yang sepanjang tahun 2016 belum mencicipi gelar sama sekali.

Lalu bagaimana tunggal putri Indonesia? Pertanyaan yang kerap kali terlontar dari para netizen, khususnya pecinta bulutangkis Tanah Air yang merindukan prestasi manis srikandi-srikandi Indonesia.

Bila melihat stok tunggal putri di Pelatnas Cipayung, rasanya sudah sangat cukup dan sudah seharusnya sektor ini bangkit dari tidur panjangnya. Sejak era Susi Susanti, Mia Audina dan Maria Kristin tunggal putri kita sudah tak terdengar lagi torehan prestasi.

Lindaweni Fanetri, Fitriani, Gregoria Mariska, Hanna Ramadini dan Ruselli Hartawan adalah beberapa nama penghuni Pelatnas yang hingga kini terus berjuang dan berlatih untuk kebangkitan tunggal putri Indonesia.

Lindaweni menjadi satu-satunya tunggal putri senior yang masih bertahan di Pelatnas, sisanya adalah para junior yang masih banyak memerlukan bimbingan dan arahan dari para pelatih untuk meningkatkan kualitas permainan.

Selain bimbingan dan arahan, jam terbang serta memberi kesempatan menjadi syarat mutlak agar terciptanya mental dan semangat juang yang tangguh, yang kelak akan tertanam dengan sendirinya pada pribadi atlet masing-masing.

Latihan dengan porsi dan tensi yang berat saja tidak cukup untuk membentuk karakter dan mental para pemain. Berlatih setiap hari, namun hasil manis tak kunjung diraih, apa yang salah dan keliru dalam hal ini? Sistem pelatihankah yang seharusnya diubah? Atau peran pelatih sangat berpengaruh dalam hal merosotnya prestasi saat ini? (Irw)

Berita Artikel Lainnya