Berita > Artikel > Sosok

Menjadi Wasit Bulutangkis, Dedy Menemukan Passionnya

Selasa, 20 Desember 2016 16:57:45
53910 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

  • Dedy Darmawan

  • Marfuah Victor Exist Open Junior Int 2016

  • Team wasit & Refeee Jaya Raya GP Junior 2016

  • Daihatsu Astec Open 2016

Beberapa tahun silam, saat menjelang Kejuaraan Piala Thomas Uber 2008, seorang wanita berpendidikan S2, yang berprofesi sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta mengajukan lamaran ke PBSI untuk menjadi tukang pel lapangan bulutangkis. Bagi sebagian orang ini terasa ganjil, namun bagi Melok Roro Kinanthi tidaklah terasa aneh, dengan menjadi tukang pel lapangan dirinya akan semakin dekat dengan idolanya yang bermain di lapangan bulutangkis.

Demikianlah sepenggal kisah menarik dari dunia bulutangkis dari seribu kisah lainnya yang mengharukan dan menginspirasi. Tak hanya bercita-cita menjadi atlet bulutangkis yang berprestasi cemerlang yang menjadi magnit bulutangkis. Namun bagi sebagian orang, magnit bulutangkis mampu membuat mereka melakoni apa saja asal diri mereka bisa dekat dengan bulutangkis.

Begitu jugalah bagi Dedy Darmawan, pria plontos berkumis tebal asal Bogor ini. Kecintaannya terhadap bulutangkis akhirnya mengantarkannya menjadi seorang wasit bulutangkis. Sedari muda, Dedy yang lahir di Bogor, 13 Mei 1971 ini, memang sudah menggemari olahraga bulutangkis. Walau tak bercita-cita menjadi seorang atlet, kecintaannya terhadap bulutangkis dilakoninya dengan main bulutangkis bersama teman-teman di sekitar tempatnya tinggal. Tak hanya disitu, perkembangan bulutangkis di Tanah Air dan internasional pun diikutinya.

Semarak maen bareng bulutangkis pun diikuti Dedy dengan antusias. Mulai dari Mabar MBI, Mabar PB Djarum, Mabar Brondong Tua Community, Mabar Forum Bulutangkis.com dan mabar-mabar lainnya. Bahkan mabar keluar negeri pun dilakoni Dedy. Bersama Brondong Tua Community, Dedy ikut mabar ke Kinabalu, Sabah, Malaysia bertemu dengan komunitas Tangkas Kinabalu Badminton Racket. Namun, mabar PB Djarum yang digelar di berbagai kota, sejak mulai digelar dari tahun 2010 hingga mabar yang ke XIII di Lampung merupakan mabar yang paling sering diikutinya. Tercatat Dedy hanya sekali absen Mabar PB Djarum tepatnya saat mabar kesebelas di Purwokerto bulan November tahun lalu. Dedy harus absen karena menjalankan Ibadah Umroh. Bahkan untuk mengikuti Mabar PB Djarum, Dedy tak segan-sengan untuk mengambil cuti bila harus mengikutinya diluar kota yang jauh dari Bogor.

“Saya hobinya jalan-jalan dan kuliner makanan daerah,” cerita Dedy mengenai hobinya mengikuti mabar keluar kota. “Selain itu, saya gemar mengoleksi kaos Mabar PB Djarum yang ciamik,” ungkap Dedy.

Kecintaan bulutangkis di dalam diri Dedy ternyata begitu membungkah, tak puas hanya mengikuti mabar saja. Akan tetapi bagi pria lulusan perguruan tinggi negeri di Bogor tahun 1994 ini akhirnya terbersit keinginan untuk menjadi wasit bulutangkis. Dan di tahun ini, Dedy pun mengikuti penataran wasit di Pengcab PBSI Jakarta Pusat, dan lulus sebagai wasit bersertifikat dari Pengprov PBSI DKI Jakarta. Ajang pertama yang dilakoni Dedy sebagai wasit adalah ajang Kejurkot PBSI Jakarta Pusat pada bulan April 2016.

Hasil yang memuaskan, Dedy pun direkomendasikan untuk menjadi hakim garis di ajang Djarum Sirnas Premier Jakarta Open 2016 pertengahan bulan Mei 2016, dan dilanjutkan menjadi hakim garis di ajang BCA Indonesia Open Super Series Premier 2016. Ajang BCA Indonesia Open menjadi berkah yang luar biasa bagi Dedy mengingat dirinya baru saja mendapat sertfikat wasit dari PBSI Pengprov DKI. Selain kecakapan sebagai wasit, maka kemampuan berkomunikasi dalam bahasa Inggris menjadi syarat utama untuk lolos sebagai wasit internasional.

Beberapa laga pertandingan BCA Indonesia Open Super Series Premier 2016 dilakoni Dedy dengan baik tanpa kesalahan. Dan ada pengalaman menarik yang tak bisa dilupakannya saat menjadi hakim garis pada pertandingan tunggal putri saat jagoan Spanyol, Carolina Marin melawan andalan Taiwan, Tai Tzu Ying. Dalam laga tersebut, Marin yang merasa yakin bolanya masuk, dua kali meminta “challenge” kepada wasit atau keputusan Dedy yang menyatakan bola yang jatuh di bidang Tai dinyatakan “out” oleh Dedy. Kedua challenge yang diminta hasilnya “Unsuccessful” bagi Marin. Dedy pun merasa lega bahwa putusannya yang terekam oleh kamera merupakan keputusan yang tepat.

Dua kejadian kecil tersebut mungkin tak berarti apa-apa bagi penonton yang menonton begitu banyak perebutan poin dari serangkaian poin yang diraih atlet yang berlaga di lapangan. Namun bagi seorang Dedy, putusan “Unsuccessful” bagi Marin tersebut menambah keyakinan diri bahwa dirinya telah menjalankan tugas sebagai hakim garis dengan baik dan penuh tanggung jawab.

Banyak suka duka menjadi wasit telah dilakoni Dedy yang baru setahun menjadi wasit. Ajang BCA Indonesia Open 2016 menjadi salah satu ajang yang paling disukai Dedy dimana Dedy bisa melihat dari dekat bintang-bintang bulutangkis dunia dari dekat saat menjalankan tugasnya sebagai hakim garis. Saat tidak bertugas, Dedy pun dapat berkesempatan berfoto bareng dengan beberapa atlet-atlet bulutangkis dunia. Sebuah kejadian yang langka tentunya, tak semua penggemar bulutangkis bisa berkesempatan sama seperti yang dijalani Dedy.

Pengalaman menarik lainnya pun dialami Dedy saat di ajang Daihatsu Astec Open 2016. Saat memimpin pertandingan semifinal ganda putra dewasa antara Andi Nugroho “Gepeng”/ Ade Yusuf melawan pasangan Senatria/M. Ridho. Dedy kerap memberikan hukuman “fault” kepada Gepeng yang salah melakukan servis. Gepeng tidak terima, ia ngedumel, kan ini pertandingan sesama teman, wasit kan teman juga, gak usah pake fault segala, protes Gepeng.

“Saya senyum aja. Saya bilang ke Gepeng, referee tetap memantau kerja wasit, kalau saya jelek mimpinnya nanti susah dong jadi wasit nasional,” demikian Dedy menuturkan pengalamannya memimpin saat teman bertanding. “Diluar kita berteman, tapi pas jadi wasit saya harus tegas dan fair,” tambah Dedy.

Ketegasan wasit dan bersikap netral tentunya sangat dibutuhkan dalam memimpin suatu pertandingan agar berjalan dengan baik dan fair.

“Yang paling seru juga saat memimpin pertandingan atlet-atlet junior, kadang mereka suka protes ke wasit apalagi kalau minta ganti shuttlecock tidak diturutin. Kita sebagai wasit juga diingatkan panitia agar bisa berhemat dalam pergantian kok. Tapi adanya atlet yang suka ngedumel kalau ditolak permintaannya, mereka suka bilang, Om aja yang main. Biasanya kalau begini, mereka kita panggil, dan sedikit “ancaman, ntar dikasi kartu kuning ya”. Biasanya mereka tidak akan boros ganti kok,” papar Dedy tersenyum.

Dua pertandingan junior internasional telah diwasit Dedy. Yang pertama Marfuah Victor Exist Jakarta Open Junior International 2016 (U17 & U15) dan Jaya Raya Grand Prix Junior 2016 (U19, U17 & U15).

Pertandingan bulutangkis berjalan dari pagi hingga larut malam, apalagi di awal-awal turnamen babak penyisihan dimana banyak pertandingan berjalan lebih lama dari yang diperkirakan. Bagi Dedy yang tinggal di Bogor, ini merupakan kendala lain. Dedy pun harus menyiasatinya dengan tinggal di hotel atau pun tempat kos-kosan yang dekat dengan arena turnamen bulutangkis. Untuk ini pun Dedy harus berkorban dari kantong sendiri agar tugasnya sebagai wasit bisa berjalan baik.

“Honor sebagai wasit kan gak besar, saya kadang keluar dari kantong sendiri untuk nginap di hotel dekat gor agar besoknya bisa ngejar waktu. Kadang saya siasati naik grabcar pulang ke Bogor kalau sudah larut malam,” cerita Dedy, yang punya hobby lainnya, menonton film di Botani Square Bogor.

Semua dilakoni Dedy Darmawan dengan kegembiraan. Sukacita dekat dengan bulutangkis membuat pengalaman yang tidak menyenangkan tidak membuat surut langkahnya.

“Saya bercita-cita jadi wasit BWF. Semoga tidak ada halangan,” tutur Dedy.

“Saat ini saya masih besertifikat wasit DKI, untuk menjadi wasit BWF harus menjadi wasit bersertifikat Asia, dan itu harus tiga kali saya tempuh ujiannya. Dan wasit BWF diberikan pihak BWF, kita harus memimpin kejuaraan setingkat GPG ke atas,” ungkap Dedy mengakhiri.

Jalan memang masih panjang bagi Dedy Darmawan. Sebelum menjadi wasit bersertifikat BWF, Dedy akan melewati ujian untuk menjadi wasit bersertifikat nasional. Namun, dengan kerja keras Dedy berkeyakinan sebuah cita-cita bisa dicapai. Apalagi Dedy terlihat disiplin saat memimpin pertandingan di lapangan. Suaranya yang nyaring lantang pun membuatnya terlihat berwibawa memimpin pertandingan.

Semoga berhasil Kang! (fk)

Berita Sosok Lainnya