Berita > Berita > Klub

Kilas Balik Atlet-atlet PB Djarum di Tahun 2016

Sabtu, 31 Desember 2016 19:30:43
1278 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

  • Olimpiade Rio 2016

  • Kevin & Marcus

  • Debby & Praveen

  • Mohammad Ahsan

  • Melati Daeva Oktaviani

Siapa yang menyangka jika pasangan ganda campuran Indonesia Tontowi Ahmad/ Liliyana Natsir bisa merebut medali emas di ajang terbesar dan bergengsi Olimpiade. Padahal di awal tahun prestasinya di bulutangkis tidak begitu menjanjikan. Pasangan yang biasa di sapa dengan sebutan Owi/Butet ini beberapa kali gagal menyentuh gelar juara. Dari sekian turnamen yang diikuti, hanya gelar juara dari kejuaran Malaysia Open Super Series Premier 2016 yang didapat.

Owi/Butet mengawali perjalanan tahun 2016 dengan gagal menggapai juara di beberapa kejuaraan. Malah di kejuaraan Malaysia Masters 2016, mereka menyerah di babak pertama dari pasangan muda Tiongkok, Zheng Siwei/ Li Yinhui. Di kejuaraan yang telah direbut sebanyak tiga kali, yakni All England, Owi/Butet menyerah di babak perempat final dari ganda suami istri Chris Adcock/ Gabrielle Adcock.

Barulah pada percobaan ketiga di kejuaraan Malaysia Open Super Series Premier 2016 Owi/Butet bisa membawa pulang gelar juara. Mereka mengandaskan beberapa nama besar seperti Joachim Fischer Nielsen/ Christinna Pedersen, juga pasangan yang mengalahkan di All England Chris Adcock/ Gabrielle Adcock. Di final, Owi/Butet menekuk andalan Malaysia Chan Peng Soon/ Goh Liu Ying melalui rubber game.

Di kejuaraan Singapore Open Super Series 2016, langkah Owi/Butet terjungkal di babak semifinal. Di kejuaraan Asia mereka kembali kalah. Musuh bebuyutannya Zhang Nan/ Zhao Yunlei yang menghentikan di partai puncak. Dari dalam negeri, di kejuaraan BCA Open Super Series Premier 2016 Owi/Butet kembali kandas menggapai juara. Mereka terhenti di babak kedua di tangan ganda Denmark Kim Astrup/ Line Kjaersfeld. Di kejuaraan Australia Open Super Series malah perjalanan Owi/Butet terpuruk di babak pertama.

Kegagalan demi kegagalan yang dialami ganda campuran terbaik yang dimiliki Indonesia ini membuat Owi/Butet membuka diri belajar untuk introspeksi diri. Apalagi Olimpiade Rio 2016 sudah di depan mata. Owi/Butet pun lantas mempersiapkan diri semaksimal mungkin. Tak jarang, latihan tambahan mereka lahap tanpa pernah ada kata membantah.

Hasilnya pun luar biasa. Owi/Butet menjadi pasangan ganda campuran pertama Indonesia yang bisa merebut medali emas Olimpiade. Medali emas yang didapat sekaligus merupakan satu-satunya medali emas bagi kontingen Indonesia. Perjalanan Owi/Butet menuju puncak medali emas dilalui dengan tanpa kehilangan satu game pun.

Di babak penyisihan grup C, Owi/Butet menjadi yang terbaik dari Robin Middleton/ Leanne Choo, Bodin Isara/ Savitre Amitrapai dan Chan Peng Soon/ Goh Liu Ying. Sayangnya undian belum berpihak kepada Indonesia. Di babak perempat final, Owi/Butet harus tega menghentikan rekannya Praveen Jordan/ Debby Susanto. Di babak semifinal, dengan meyakinkan Owi/Butet mengalahkan musuh abadinya dari Tiongkok, Zhang Nan/ Zhao Yunlei. Di final, lagi-lagi mereka mengandaskan harapan Malaysia, Chan Peng Soon/Goh Liu Ying.

Usai Olimpik, Owi/Butet kembali memburu gelar. Tetapi nampaknya kejuaraan Denmark Open Super Series Premier 2016 belum berpihak kepada mereka. Mereka terhenti di babak kedua dari ganda Tiongkok, Wang Yilyu/ Huang Dongping.

Dari kejuaraan bulutangkis seri Asia nama Owi/Butet berkibar. Dua gelar juara berhasil mereka sabet. Di kandang naga, pada kejuaraan China Open Super Series Premier 2016 Owi/Butet menjadi kampiun. Kejayaan Owi/Butet dilanjutkan di kejuaraan Hongkong Open Super Series 2016. Dalam keadaan cedera yang dialami Butet, ganda campuran nomor satu Indonesia ini kembali menjadi yang terbaik. Dalam partai All Indonesian Final, Owi/Butet menjadi juara dengan mengalahkan Praveen Jordan/ Debby Susanto.

Sayang, cedera yang dialami Butet masih berlanjut. Hal inilah yang membuat Owi/Butet tak bisa tampil maksimal di kejuaraan Dubai World Superseries Final 2016. Usai menyerah dari Praveen/Debby dalam putaran grup A, Owi/Butet memilih mundur saat tengah bertanding menghadapi ganda campuran Denmark, Joachim Fischer Nielsen/ Christinna Pedersen, dan memberikan kemenangan tanpa tanding kepada ganda Korea Selatan, Ko Sung Hyun/ Kim Ha Na.

Owi/Butet sepertinya masih dahaga akan gelar juara. Kita tunggu sepak terjang ganda campuran terbaik Indonesia ini di tahun 2017 mendatang.

Kevin Sanjaya Sukamuljo Sang Penerus Ganda Putra

Banyak yang telah memperkirakan jika Kevin Sanjaya Sukamuljo bakal pemain menjadi penerus di ganda putra. Tanda-tanda itu telah terlihat saat pemain kelahiran Banyuwangi ini bermain dari kelas junior. Pukulan ajaibnya sering kali membuat lawan hanya terpaku tanpa bisa menyentuh bola. Tak salah jika ia dijuluki sebagai titisan Sigit Budiarto, pemain yang juga memiliki pukulan aneh.

Beberapa kali Kevin dicoba dengan pasangan yang berbeda. Semasa junior ia di pasangkan dengan rekan satu klubnya Arya Maulana. Kemudian setelah itu ia ditemani oleh Selvanus Geh. Kejayaan Kevin tercipta saat ia dipasangkan bersama dengan Marcus Fernaldi Gideon.

Kevin dan Marcus mengawali tahun 2016 ini dengan menyabet gelar di kejuaraan Malaysia Masters 2016. Jago tua Malaysia, Koo Kien Keat/ Tan Boon Heong dibuat malu di hadapan publiknya sendiri pada babak final yang berlangsung rubber game. Di kejuaraan ini Kevin juga membabat andalan Korea Ko Sung Hyun/ Shin Baek Cheol dan juga ganda Jepang Takeshi Kamura/ Keigo Sonoda.

Di kejuaraan New Zaeland Open 2016 langkahnya terhenti di babak semifinal. Adalah pasangan Korea Selatan Ko Sung Hyun/ Shin Baek Cheol yang bisa membalas kekalahan.

Prestasi Kevin mulai menanjak. Dari kejuaraan level Grand Prix, ia mulai bisa merebut gelar di kelas Super Series. India Super Series 2016 menjadi gelar juara pertama bagi Kevin dan Marcus di kelas Super Series. Ganda China, Chai Biao/ Hong Wei dan Goh V Shem/ Tan Wee Kiong adalah beberapa pasangan yang dikalahkan. Di babak puncak, giliran rekannya sendiri Angga Pratama/ Ricky Karanda Suwardi yang dihentikan.

Di Australia, Kevin kembali berjaya bersama Marcus. Sempat kalah dari ganda nomor satu Zhang Nan/ Fu Haifeng di kejuaraan Singapore Open Super Series 2016, Kevin bisa membalas di Australia. Ganda China lainnya Liu Cheng/Zheng Siwei juga ditaklukan di babak semifinal. Lagi-lagi di partai puncak Kevin dan Marcus harus bertemu rekannya sendiri Angga/Ricky dan kembali bisa dikalahkan.

Dari dalam negeri, gelar juara juga bisa diraih. Di kejuaraan Indonesia Masters 2016. Kevin menjadi kampiun bersama Wahyu Nayaka disaat pasangannya Marcus sedang cedera. Dua ganda putra China, dua ganda rekannya sendiri dan satu ganda dari Malaysia bisa ditekuk untuk merebut gelar di kejuaraan yang menyediakan hadiah total USD 120.000.

Setelah beberapa kejuaraan di level Grand Prix Gold dan Super Series bisa diraih, Kevin pun melesat di kejuaraan level Super Series Premier. Prestasi spektakulernya diraih di negeri yang menjadi barometer bulutangkis dunia, yakni China. Kevin dan Marcus mampu menjadi yang terbaik diantara ganda putra dunia. Di babak final, andalan Denmark Mathias Boe/ Carsten Mogensen dihentikan hanya dalam dua game saja.

Dengan berbagai gelar juara yang sudah berada di genggamannya, tak salah jika kemudian Kevin Sanjaya Sukamuljo layak disebut sebagai generasi penerus ganda putra.

Praveen/Debby Raih All England

Tahun 2016 bisa dikatakan sebagai tahun prestasinya pasangan ganda campuran Praveen Jordan/ Debby Susanto. Di tahun yang disebut dalam penanggalan Tiongkok sebagai tahun Monyet Api, Praveen/Debby merebut salah satu gelar juara di kejuaraan yang paling bergengsi, yakni All England. Praveen/Debby menjadi pasangan ketiga setelah Christian Hadinata/ Imelda Wigoena dan Tontowi Ahmad/ Liliyana Natsir yang pernah merebut kejuaraan yang diselenggarakan di Inggris tersebut.

Langkah Praveen/Debby di kejuaraan tertua ini bisa dibilang spektakular. Bagaimana tidak, mereka bisa mengalahkan ganda campuran terkuat Tiongkok, Zhang Nan/ Zhao Yunlei di babak semifinal. Malah mereka bisa menang hanya dalam dua game dari ganda nomor satu dunia saat itu.

Sebelumya, di babak perempat final mereka menghentikan andalan Tiongkok lainnya Liu Cheng/Bao Yixin juga dengan dua game. Di babak pertama juga Praveen/Debby menang straight game atas ganda Singapura, Danny Bawa Chrisnanta/ Yu Yan Vannesa Neo. Hanya pada saat bertemu ganda Jepang Kenta Kazuno/ Ayane Kurihara di babak kedua, Praveen/Debby harus bermain ekstra tiga game. Di babak final, ganda terbaik Eropa Joachim Fischer Nielsen/Christinna Pedersen di buat kocar kacir oleh Praveen/Debby.

Sebelumnya di tahun yang sama, Praveen/Debby juga bisa memetik kemenangan di kejuaraan India Open Super Series 2016. Gelar ini juga menjadi penanda bahwa Praveen/Debby sudah tidak lagi bisa disebut sebagai spesialis runner up. Gelar ini juga menjadi gelar pertama bagi pasangan yang disatukan di tahun 2014 ini dalam kejuaraan yang diselenggarakan badan bulutangkis dunia.

Pasangan baru Tiongkok, Zheng Siwei/ Chen Qingchen sepertinya menjadi batu sandungan bagi Praveen/Debby. Di beberapa turnamen, pasangan Tiongkok ini bisa mengalahkan ganda campuran nomor dua Indonesia ini. Di babak perempat final French Open Super series 2016, perempat final Denmark Open Super Series Premier 2016 serta semifinal Australian Open Super Series 2016, langkah Praven/Debby terhenti di tangan pemain muda China ini.

Di kejuaraan akbar Olimpiade Rio 2016 langkah Praveen/Debby terhenti di tangan rekannya Tontowi Ahmad/ Liliyana Natsir di babak delapan besar.

Mendekati akhir tahun Praveen/Debby nyaris menjadi juara di kejuaran Hongkong Open Super Series 2016. Sayang langkahnya terhenti lagi-lagi di tangan senior mereka, Tontowi Ahmad/ Liliyana Natsir di partai puncak. Di kejuaraan Dubai World Superseries Finals 2016, Praveen/Debby menyerah di babak semifinal di tangan ganda suami istri asal Inggris Chris Adcock/ Gabrielle Adcock.

Tahun Perceraian Ahsan – Hendra

2016 menjadi tahun yang kurang menyenangkan bagi pebulutangkis spesialis ganda putra, Mohammad Ahsan. Ia yang begitu diandalkan Indonesia untuk meraih medali emas di Olimpiade Rio 2016 bersama pasangan tetapnya Hendra Setiawan, akhirnya harus mengubur impian dalam-dalam. Dari tiga kali pertandingan di babak kualifikasi grup D, Ahsan/Hendra hanya bisa meraih satu kali kemenangan.

Di beberapa turnamen, Ahsan/Hendra juga kurang beruntung. Di kejuaraan All England, Ahsan yang tetap menggandeng Hendra Setiawan tak bisa mengulang prestasi seperti yang di buatnya di tahun 2014 saat ia dan Hendra merebut gelar juara.

Di kejuaraan Malaysia Open Super Series Premier 2016 dan Singapore Open Super Series 2016, Ia dan Hendra hanya bisa menembus babak perempat final. Rupanya ganda muda Tiongkok, Li Junhui/ Liu Yuchen serta ganda Denmark, Mads Conrad Petersen/ Mads Peler Kolding di tahun ini sepertinya menjadi pasangan yang menghalangi prestasi Ahsan/Hendra. Di beberapa turnamen Ahsan/Hendra terjegal pada kedua pasangan ini.

Padahal di awal tahun 2016 Ahsan/Hendra mengawalinya dengan sebuah gelar juara dari kejuaraan Thailand Masters 2016. Ia mengalahkan nama-nama seperti Goh V Shem/ Tan Wee Kiong, Ko Sung Hyun/ Shin Baek Cheol dan Kim Gi Jung/ Kim Sa Rang.
Kabar tak sedap sepertinya masih menggelayuti Ahsan. Ia dan Hendra dihantui isu perceraian. Dan rupanya rumor itu akhirnya terkuak. Kejuaraan Korea Open Super Series 2016 menjadi turnamen terakhir bagi Ahsan untuk berpasangan dengan Hendra Setiawan. Lepas dari kejuaraan berhadiah total USD 600.000. Ahsan tak lagi berpasangan dengan Hendra. Di kejuaraan seri Eropa seperti Denmark Open Super Series Premier 2016 dan French Open Super Series 2016 Ahsan coba dipadukan dengan Berry Angriawan. Hasilnya tak terlalu buruk. Ahsan/Berry bisa menembus babak delapan besar di Prancis.

Dari seri kejuaraan Asia, Ahsan di coba dengan Rian Agung Saputro. Rupanya penampilan pasangan baru ini cukup menjanjikan. Mereka bisa menembus babak semifinal di kejuaraan Hongkong Open Super Series 2016 sebelum dihentikan Mathias Boe/ Carsten Mogensen.

Melati Raih Gelar Grand Prix Gold Pertama

Di antara generasi penerus ganda campuran Indonesia, nama Melati Daeva Oktaviani patut dikedepankan. Pemain jebolan PB Djarum ini memang layak disebut sebagai pengganti seniornya macam Liliyana Natsir atau Debby Susanto. Di saat masih belia dulu ia penah membuat harum nama Indonesia di kejuaraan BWF World Junior Championships 2012. Gelar juara ganda campuran bisa ia persembahkan bagi pertiwi di kejuaraan yang khusus di selenggarakan bagi pemain junior.

Prestasinya di era senior juga cukup menjanjikan. Jika di tahun 2015 ia dan partner tetapnya Ronald Alexander bisa meraih gelar juara di kejuaraan sekelas Grand Prix pada kejuaraan Chinese Taipei Open Grand Prix 2015, maka di tahun 2016, ia langsung naik kelas. Melati dan Ronald bisa mengamankan gelar juara dari dalam negeri di kejuaraan Indonesian Master 2016, sebuah kejuaraan sekelas grand prix gold. Di kejuaraan yang dilaksanakan di kota Balikpapan, Melati dapat mengalahkan dua pasang ganda campuran dari Tiongkok seperti Tian Qiang/ Yu Xa dan He Jiting/ Du Yue. Selain menghentikan rekannya sendiri, Melati di babak final bisa mengkandaskan andalan dari Malaysia, Tan Kian Meng/Lai Pei Jing.

Di awal tahun 2016 Melati sempat menembus babak perempat final di kejuaraan Malaysia Masters 2016 dan India Open Grand Prix Gold 2016. Melati dan Ronald rupanya masih belum bisa melewati rasa penasarannya dengan ganda suami istri dari Inggris Chris Adcock/ Gabrielle Adcock. Di kejuaraan Malaysia Open Super Series Premier 2016 dan Al England 2016 Melati belum bisa merebut kemenangan dari ganda Inggris ini.

Sampai akhir tahun 2016 peringkat dunia Melati di ganda campuran terus merangkak naik. Menutup tahun Monyet Api, Melati Daeva Oktaviani dan Ronald Alexander telah berhasil menembus lima belas besar dunia atau tepatnya pada urutan empat belas. (AR/pbjdarum.org)

Berita Klub Lainnya