Berita > Artikel > Wawancara

Eng Hian: “Masih banyak pe-er di ganda putri”

Senin, 13 Februari 2017 17:32:51
3029 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

  • Anggia & Ketut

    ©Badmintonindonesia.org

  • Greysia & Rosyita

    ©Badmintonindonesia.org

Empat ganda putri Pelatnas Cipayung turun berlaga pada ajang Princess Sirivannavari Thailand Masters 2017 yang berakhir hari Minggu (12/2) kemarin di Bangkok, Thailand. Langkah terbaik diraih pasangan Greysia Polii/ Rosyita Eka Putri Sari yang menembus babak semifinal.

Tiga pasangan lainnya, Anggia Shitta Awanda/ Ni Ketut Mahadewi Istarani, Tiara Rosalia Nuraidah/ Rizki Amelia Pradipta dan Della Destiara Haris/ Apriani Rahayu terhenti langkahnya di babak perempat final turnamen berkelas grand prix gold dengan total hadiah US$ 120,000.

Hasil yang dicapai skuad ganda putri ini tidak memuaskan Eng Hian, Kepala Pelatih Ganda Putri PBSI. Ia pun membeberkan hasil evaluasi anak-anak didiknya selama turnamen Thailand Masters 2017 berhadiah total US$ 120,000 kepada jurnalis Badmintonindonesia.org di Bangkok.

Bagaimana anda menilai hasil tim ganda putri di Thailand Masters 2017?
Secara keseluruhan, saya merasa tidak puas dengan pencapaian tim ganda putri di turnamen ini. Apa yang sudah dilakukan selama persiapan, latihan, capek, sakit, semua hasilnya tidak terlihat.

Bagaimana dari segi permainan?
Teknik itu bisa keluar kalau atlet bisa mengatasi diri sendiri dan situasi di lapangan. Lawan mana ada yang mau ngasih kemenangan ke kita? Nah cara mengatasi masalah ini yang saya belum bisa lihat. Misalnya di pertandingan Greysia/Rosyita di semifinal, give up begitu saja adalah suatu hal yang tidak bisa diterima.

Saya tidak mengutamakan hasil, tetapi proses. Mau kalah dapat angka tujuh atau delapan tetapi perjuangannya mati-matian ya saya mengerti.

Selain Greysia/Rosyita bagaimana penilaian anda dengan pasangan-pasangan lain?
Ada poin plus untuk Anggia/Ketut dari empat pasangan ini. Mereka progresnya kelihatan, dari persiapan hingga tanding, semua sesuai dengan harapan saya. Saya tidak mau mendahului kehendak Tuhan, kalau Ketut tidak sesak nafas dan bisa bermain normal, saya rasa mereka bisa menang.

(Anggia/Ketut mundur di game ketiga saat berhadapan dengan wakil Tiongkok, Huang Dongping/Li Yinhui, karena Ketut mengalami sesak nafas).

Untuk Rizki/Tiara, saya melihat tidak ada fighting spirit sama sekali. Sekali lagi, saya tidak melihat hasil, kalau kalah tetapi perjuangannya luar biasa, saya bisa maklumi. Saya menyoroti Tiara, dia butuh perhatian khusus dan harus berjuang lebih keras lagi dalam segala hal, disipilin, attitude di lapangan dan luar lapangan.

Catatan tersendiri untuk Apri, saya ada sedikit harapan sama dia. Penampilan Apri bisa dibilang bagus sebagai pemain muda yang baru masuk turnamen level senior. Apri bisa mengimbangi permainan seniornya. Saya harap Apri bisa menjaga dan meningkatkan kualitas latihan dan attitude nya, mudah-mudahan dalam satu sampai tiga tahun lagi akan kelihatan hasilnya.

Apa yang paling anda soroti dari tim ganda putri?
Bisa dibilang fighting spirit untuk mencapai kemenangan itu saya belum lihat.

Masih banyak PR di ganda putri. Untuk meningkatkan kualitas mereka dan mengharapkan jadi juara itu masih jauh sekali. Grup pelatnas utama ini berat. Bicara seorang juara itu bukan cuma sekali-sekali juara, tetapi konsisten, misalnya seperti pasangan Jepang yang juara olimpiade kemarin (Misaki Matsutomo/Ayaka Takahashi).

Kalau tidak ada kemauan dari diri sendiri untuk maju dengan disiplin, menambah porsi latihan, ya sulit.

Lalu apakah akan ada perubahan program di ganda putri?
Saya akan lihat selama enam bulan ini, kalau tidak ada perubahan, tidak ada progres positif, akan saya rombak semua. Saya akan mengharapkan pemain-pemain pratama saja. (*)

Berita Wawancara Lainnya