Berita > Artikel

Come On Coach Richard!

Senin, 27 Februari 2017 10:37:30
17916 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Tak bisa dipungkiri jika raihan emas Duet Owi/Butet di Olimpiade Rio 2016 lalu adalah pencapaian yang fenomenal untuk coach Richard Mainaky. Tangan dingin Richard secara menakjubkan mengembalikan kondisi Owi/Butet yang terpuruk setahun jelang olimpiade untuk mendapatkan momentumnya di Olimpiade Rio 2016.

Ini belum termasuk gelar-gelar besar Owi/Butet lainnya seperti hatrick 3 kali juara All England dan 1 kejuaraan dunia. Dan All England 2016 dari Praven/Debby yang menempatkan (boleh dibilang) Richard sebagai (salah satu) coach terbanyak raihan gelar bergengsi dalam 5 atau bahkan sepuluh tahun terakhir ini.

Namun era generasi Olimpiade Rio 2016 sudah jauh berakhir. Tahta nomor satu dunia sudah berpindah dengan cepat ke tangan pasangan muda baru Tiongkok, Zheng Siwei/Chen Qing Chen. Zhang Nan pun sudah menemukan Li yunhui menggantikan posisi Zhao Yunlei yang tidak kalah ganasnya.

Bagaimana dengan Indonesia? Bisa dibilang menyedihkan dan masa depan terlihat suram tanpa Butet dan Debby. Gloria terliat masih terbeban tampil dengan Owi. Ronald masih berkutat dengan segudang eror. Melati dengan badan yang tambah melar. Edi dengan mental problemnya. Alfian/Anisa pun masih berkutat di papan tengah tanpa tanda-tanda akan segera naik ke level atas dunia.

Jangankan menyaingi 2 ganda campuran Tiongkok di atas, bahkan pemain-pemain pelapis Indonesia pun sudah disalip pemain negara tetangga seperti ganda Thailand, Puavaranukroh Dechapol/ Sapsiree Taerattanachai dan Tan Kian Meng/ Lai Pei Jing dari Malaysia.

Ada berita yang meyebutkan kalau jelang Olimpiade Rio 2016 fokus Richard habis untuk emas olimpiade (Owi/Butet dan Praven/Debby) sehingga pemain-pemain pelapis yang lain “terbengkalai” (Pelatih ganda campuran lainnya ngapain?). Oke, alasan ini masih bisa diterima.

Tapi Olimpiade Rion2016 sudah lewat lebih dari 6 bulan yang lalu dan masih tidak terlihat perubahan berarti dari team ganda campuran Pelatnas. Sektor tunggal putri dan dan ganda putri sudah terlihat berbenah dengan program-program barunya sementara team ganda campuran masih mengandalkan Owi/Butet dan Praven/Debby.

Apa yang sudah disiapkan dari Ronald, Alfian dan Edi untuk melapis Owi? Kapankah mereka akan diberi kesempatan belajar dengan berpasangan dengan Butet dan Debby sebelum mereka pensiun? Tidakkah Ronald, Edi atau Alfian perlu juga untuk main rangkap di ganda putra agar lebih bertenaga dan tidak “lazy style” hanya mengandalkan placing-placing semata seperti Zheng Si Wei atau Dechapol?

Apa yang sudah disiapkan dari Melati yang kabarnya sudah disegel untuk berpasangan dengan Praven menggantikan Debby? Menimbulkan tanda tanya besar melihat penampakan tubuh Melati yang kini sangat tidak ideal tambah gemuk saat ini. Seperti apakah pelatihan fisiknya? Tidak adakah disiplin menjaga berat badan? Tidakkah ada seorangpun yang peduli akan hal ini? Dan sejumlah pertanyaan lainnya tentang progress team ganda campuran.

Ini sudah waktunya. Jangan terus dalam zona nyaman dengan bergantung pada Owi/Butet dan Debby. Satu tahun jelang pensiun Butet dan Debby adalah waktu yang tepat untuk mencari racikan kombinasi baru yang lebih menjanjikan. Jangan terus “memaksa” dengan kombinasi yang sama yang terbukti mentok dan tertinggal dari lawan. Jangan sampai terlambat coach Richard! (Chico Aura)

Berita Artikel Lainnya