Berita > Artikel

Badminton Hater: “I hate Hanna and Berry!”

Senin, 27 Maret 2017 13:13:07
11762 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

  • Hanna Ramadhini

  • Berry Anggriawan & Hardianto

Ada Badminton Lovers ada pula Badminton Haters. Badminton Lovers disini secara umum maksudnya adalah para pecinta badminton (Indonesia), secara khusus pecinta/fans pemain badminton Indonesia. Kalau Badminton Haters biasanya lebih ke pembenci (hater) pemain badminton tertentu. Karena nggak ada yang membenci (olahraga) badminton di forum diskusi Bulutangkis.com.

Dan jujur gue akui, gue termasuk badminton lover yang punya “hate” ke pemain badminton (tertentu) Indonesia. Gue “hate” dengan Hanna Ramadini dan Berry Angriawan!

“Dosa” pertama Hanna adalah staminanya yang jelek ditambah ekspresi memelasnya. Setiap bermain panjang pasti Hanna keteteran. Dan bukannya terlihat wajah yang ngotot tidak gampang menyerah, tapi yang terlihat ekspresi “megap-megap”. Ekspresi memelas seperti minta dikasihani setelah bermain panjang (ini alasan hate yang subjektif gue).

“Dosa” kedua Hanna mungkin juga cerminan rasa frustasi gue terhadap tunggal puteri Indonesia yang tidak juga bangkit. Hanna sejak junior sudah menjadi andalan tunggal puteri Indonesia tapi sekian tahun berlalu permainannya tidak juga memberikan harapan.

Setelah Hanna, Berry yang kedua gue hate. “Dosa” terbesar Berry buat gue adalah ketika tampil buruk di final Superliga 2015 berpasangan dengan Ahsan dan kalah dengan Fajar Alfian/ Lee Yong Dae. Bukan cuma kalahnya aja, tapi permainannya bener-bener buruk ketika itu. Bermain dengan banyak eror dan tegang. Jadi terlihat “malu-maluin”, kalah tenang/mental dengan Fajar yang baru masuk Pelatnas Cipayung.

“Dosa” kedua Berry adalah dia sudah masuk kategori pemain senior dan sudah pernah berpasangan dengan semua penggebuk terbaik Indonesia seperti Ricky Karanda Suwardi, Rian Agung Saputro dan Mohammad Ahsan. Tapi permainannya terlihat tidak berkembang juga.

Gue berharap Hanna dan Berry didegradasi di akhir tahun 2016. Tapi ternyata gue salah.

Di awal 2017 ini Hanna dan Berry menampilkan permainan yang mengejutkan. Hanna membuat kejutan besar dengan menumbangkan Sayaka Sato di ajang Badminton Asia Mixed Team Championships 2017. Bukan hanya kemenangannya saat itu tapi semangat Hanna yang terlihat, kengototannya bermain agresif, untuk tidak mudah menyerah yang layak untuk diapresiasi. Stamina yang membaik adalah faktor plus lainnya.

Lalu Berry sukses menjuari Malaysia GPG 2017 berpasangan dengan Hardianto. Bukan hanya semata menang dan kalahnya, tapi Berry terlihat mampu menampilkan permainan terbaiknya yang terpenting.

Gue tersadarkan kalau ternyata banyak faktor yang dapat membuat seorang pemain itu sukses (dan gagal). Siapa sangka kalau berpasangan dengan Hardianto yang bisa dibilang kelasnya masih di bawah Ricky, Rian dan Ahsan. Berry justru merasa nyaman dan bisa berkembang permainannya. Berbeda dengan tunggal yang sendiri, bahwa di sektor ganda chemistry/ kecocokan/ kenyamanan dengan pasangan dapat menjadi faktor yang sangat menentukan.

Untuk kasus Hanna membuktikan kalau pembinaan/ pelatihan/ pelatih yang berbeda juga sangat menentukan keberhasilan seorang atlet.

Gue belajar untuk memahami banyak faktor yang menentukan keberhasilan/ kegagalan seorang pemain, tidak hitam putih semata. Walau bukan berarti juga pembelaan dengan banyak alasan jika mengalami kegagalan. Penting untuk melihat masalah secara keseluruhan. Boleh kritik/kritis ketika ada ruang untuk perbaikan tapi juga berikanlah apresiasi ketika perbaikan itu terjadi.

Hanna dan Berry tetap bukan pemain favorit gue. Tapi gue akui kalau sebelumnya gue telah salah “ngejudge” kalau Hanna dan Berry tidak akan pernah berubah. Gue apresiasi perkembangan yang telah ditunjukkan Berry dan Hanna.

Maju terus Hanna dan Berry! (Chico Aura)

Berita Artikel Lainnya