Berita > Artikel

Mental Problem Pebulutangkis Indonesia

Rabu, 29 Maret 2017 11:47:30
15727 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



“Sebagai seorang pemain pelatnas utama, menyerah begitu saja tidak dapat diterima,” demikian komentar Eng Hian dalam satu media atas kekalahan telak anak didiknya Rosyita Eka Putri Sari/Greysia Polii. Kala itu, di SF Thailand Master 2017 penampilan Rosyita/Greysia dinilai Eng Hian tak maksimal. Duet Rosyita/Greysia kalah mudah di tangan ganda Tiongkok, Chen Qingchen/Jia Yifan, dan khususnya penampilan mudah menyerah di game kedua 7-21.

Ya selain masalah klasik stamina yang pas-pasan, probem terbesar rata-rata pemain Indonesia adalah bermasalah dengan mentalnya. Mental mudah menyerah, mental ngotot untuk menang yang tidak ada, mental untuk berjuang/bertahan mati-matian yang tidak ada. Dan mental takut duluan ketika ketemu pemain Tiongkok atau pemain unggulan.

“Lawan tidak akan memberi kemenangan begitu saja, namanya bertanding ya harus ada perjuangan. Bisa dibilang fighting spirit untuk mencapai kemenangan itu saya belum lihat,” lanjut Eng Hian tentang evaluasi tim ganda putri.

Tapi “ajaibnya” jika sebagian pemain sudah down duluan ketika ketemu pemain ungulan atau pemain Tiongkok, ada sebagian pemain lainnya yang justru tegang dan terbeban ketika melawan pemain yang di bawah mereka.

“Asty memang pemain junior, tetapi dia juga bagus. Ini pertama kali saya bertemu Asty dan hari ini permainan dia bagus. Saya sendiri sempat tegang dan beban ada sedikit karena saya lebih senior dari dia,” demikian pengakuan Hanna Ramadini dalam laga penyisihan superliga melawan Asty Dwi Widyaningrum dari Jaya Raya. Hanna hampir dikalahkan Asty dalam laga yang berlangsung tiga game 21-15, 16-21 dan 23-21.

Ini terjadi hanya seminggu setelah Hanna membuat kejutan besar menundukkan Sayako Sato rangking 19 dunia di perempat final Badminton Asia Mixed Team Championships 2017 yang jauh bergengsi dan penuh pressure. “Normalnya” hasil ini seharusnya membuat Hanna semakin pe-de dan tanpa kesulitan mengalahkan Asty yang pemain junior klub. Tapi ternyata mental berbicara lain.

Ini sama dengan evaluasi Coach Hendri Saputra terhadap Jonatan Christie (juga Ihsan Maulana Mustofa dan Firman Abdul Kholiq) yang sering justru under pressure dan kalah lawan pemain di bawah mereka.

“Kalau tanding dari level super series premier ke level grand prix gold harusnya kan lebih ringan. Tetapi di premier itu lawannya lebih berat, Jonatan mainnya lebih lepas. Sedangkan di level grand prix gold, dia merasa harus bisa menang dari lawan-lawannya, nah ini yang bikin kacau,” jelas Hendri.

Dan uniknya lagi, kebanyakan kasus takut kalah lawan pemain yang berperingkat lebih rendah ini terjadi di sektor tunggal putra dan putri. Setelah tampil mengejutkan di India GPG dan Kejuaraan Beregu Asia, baik Jorji maupun Hana tumbang di turnamen dengan level lebih rendah (Polish IC dan Vietnam IC) melawan pemain yang berperingkat lebih rendah dari mereka.

Tidak heran jika belum ada gelar juara (Grand Prix) dari para pemain tunggal baik putra maupun putri ini. Mereka baru sebatas mampu tampil mengejutkan menumbangkan pemain unggulan 1-2 kali saja.

Semoga tidak terus berlanjut dan kelemahan mental ini dapat segera diatasi! (Chico Aura)

Berita Artikel Lainnya