Berita > Berita

Tak Sesuai Harapan, Pelatih Tunggal Beri Komentar

Minggu, 30 April 2017 11:53:57
8579 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

  • Fitriani

    ©Badmintonindonesia.org

  • Ihsan Maulana Mustofa

    ©Badmintonindonesia.org

Pada ajang Badminton Asia Championships 2016 yang juga berlangsung di Wuhan, Tiongkok, hasil yang dicapai pebulutangkis Indonesia boleh dibilang lumayan. Medali perak di raih pasangan ganda campuran, Tontowi Ahmad/ Liliyana Natsir, satu perunggu dipersembahkan dari nomor ganda putri lewat pasangan Greysia Polii/ Nitya Krishinda Maheswari.

Namun tahun ini di ajang yang sama, Badminton Asia Championships 2017, torehan pebulutangkis Indonesia tak sesuai harapan. Langkah terbaik peblutangkis Indonesia hanya mencapai babak perempat final lewat satu wakil melalui pasangan ganda campuran Praveen Jordan/ Debby Susanto.

Memang tim Indonesia pada ajang yang berlangsung di Wuhan, Tiongkok, dari 25 April hingga 30 April 2017 ini, memang tak menurunkan pemain-pemain terbaik seperti, Marcus Fernaldi Gideon/ Kevin Sanjaya Sukamuljo, Tontowi Ahmad/ Liliyana Natsir. Pasangan ganda putri Anggia Shitta Awanda/ Ni Ketut Mahadewi Istarani dan Jonatan Christie pun batal tampil.

Tunggal putri Indonesia yang turun dengan tiga andalannya, benar-benar kurang memuaskan Minarti Timur, Asisten Pelatih Tunggal Putri PBSI.

“Saya kurang puas dengan hasil yang diraih tim tunggal putri di kejuaraan ini. Semua tidak bisa mengeluarkan permainan mereka. Hanna tidak bisa keluar dari tekanan dan dikontrol terus oleh lawan. Dia juga ada cedera siku tangan dan perlu istirahat untuk menyembuhkan cederanya,” kata Minarti, seperti kami lansir di situs resmi PBSI.

Dua tunggal putri, Hanna Ramadini dan Dinar Dyah Ayustine di babak satu masih belum bisa mengatasi lawan yang menjadi unggulan. Hanna dikalahkan andalan Korea Selatan, Sung Ji Hyun yang merupakan unggulan tiga dengan skor 5-21 dan 9-21. Dan Dinar bertemu unggulan empat dari India, P.V Sindhu dengan skor 8-21 dan 18-21.

Sayangnya, Fitriani yang berpeluang melangkah lebih jauh, setidaknya lolosk ke babak dua, namun harus kandas juga di babak satu. Fitri dikalahkan wakil Vietnam, Vu Thi Trang dua game langsung 13-21 dan 8-21.

“Fitri tidak bisa keluar mainnya, banyak ragu-ragu sehingga ini berpengaruh pada akurasi bola. Sedangkan Dinar tak bisa mengimbangi kecepatan lawannya saat ia mau main cepat di game pertama, di game kedua baru berani main reli balik serang,” jelas Minarti.

Sementara itu di nomor tunggal putra dua wakil Pelatnas Cipayung, Anthony Sinisuka Ginting dan Ihsan Maulana Mustofa harus berakhir lebih awal langkahnya. Anthony terhenti di babak satu saat berhadapan dengan tunggal Jepang, Takuma Ueda. Anthony menyerah dalam laga tiga game dengan skor 13-21, 21-10 dan 17-21. Dan langkah Ihsan berakhir di babak dua dikalahkan tunggal Taiwan, Chou Tien Chen dengan skor 16-21, 21-17 dan 13-21.

Seperti disebutkan Irwansyah, Asisten Pelatih Tunggal Putra PBSI, bahwa faktor non teknis sebagai penyebab utama anak-anak didiknya tampil kurang maksimal.

“Di saat-saat kritis, masih kurang sabar. Misalnya, Anthony yang sudah unggul jauh seharusnya bisa menang. Strategi sudah bagus, tetapi di akhir banyak membuat kesalahan sendiri,” tutur Irwansyah yang dijumpai Badmintonindonesia.org saat di Wuhan Sports Center Gymnasium lalu.

“Mereka juga belum yakin bahwa mereka bisa, mikirnya lawan lebih kuat dan lebih tahan. Padahal mereka tidak kalah kuat. Memang walaupun Ihsan dan Anthony pengalamannya sudah lumayan banyak di level super series, tetapi permainannya masih belum matang, masih banyak yang harus diperbaiki,” jelas Irwansyah.

Lebih lanjut Irwansyah mengatakan bahwa saat ini di sektor tunggal putra dibawah pimpinan kepala pelatih Hendry Saputra, tengah meningkatkan kualitas latihan serta menanamkan kedisiplinan dan nilai-nilai lainnya dalam kehidupan atlet di luar lapangan karena ini dinilai mempengaruhi penampilan mereka di lapangan. (*)

Berita Berita Lainnya