Berita > Artikel

Bulutangkis Indonesia Terkini, Catatan Ringan Lily Dian

Senin, 08 Mei 2017 09:45:58
16961 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Selamat pagi teman-teman Forum Diskusi Bulutangkis.com. Lama tak bersua. Semoga teman-teman disini selalu dalam keadaan sehat-sehat saja dan tetap selalu berdiskusi dalam kondisi yang damai, sejuk dan tentram. Saya kembali lagi setelah sekian lama menghilang. Namun meski begitu saya masih berusaha menyempatkan diri untuk mampir kesini untuk melihat perkembangan bulutangkis Indonesia. Sebenarnya saya ingin menuliskan segala curahan hati saya disini sejak berakhirnya event All England yang lalu. Namun karena kendala pekerjaan, dengan terpaksa saya menunda niat saya dan baru bisa bergabung dengan teman-teman disini hari ini.

Berbicara tentang perkembangan bulutangkis kita, selalu saja ada cerita menarik yang bisa terungkap dalam rentang waktu 4 bulan terakhir ini. Berbicara tentang prestasi, maka tak akan luput dari dua nama yang sedang harum-harumnya saat ini, Kevin Sanjaya Sukamuljo dan Marcus Fernaldi Gideon. Mereka berdualah yang menjadi penyelamat muka bulutangkis Indonesia di tengah keringnya prestasi. Lagi-lagi sektor ganda putra yang selalu menjadi andalan setelah sebelumnya ada sektor ganda campuran yang menemani. Kemenangan mereka memang terasa indah. Bagi yang tak jeli memandang bulutangkis kita akan menganggap bahwa saat ini kita masih menjadi negara tangguh dengan bulutangkisnya. Berbicara tentang pelatih, topik bongkar pasang dan yang masih hangat dibicarakan adalah mengenai terungkapnya kinerja pelatih yang mengaku terlalu fokus pada beberapa pemain tertentu yang dimulai sejak persiapan menuju Olimpiade Rio 2016 yang mengakibatkan terbengkalainya beberapa pemain lain sehingga membuat permainan dan prestasi mereka menurun.

Namun diantara semua itu, fokus semua pecinta bulutangkis sudah terarah pada event Piala Sudirman 2017 yang akan berlangsung akhir bulan ini di Gold Coast, Australia. Sebelum saya menuliskan catatan saya mengenai tim bulutangkis kita yang akan berlaga di Piala Sudirman nanti. Izinkan saya menuliskan segala hal yang ada di pikiran dan benak saya disini. Namun sebelumnya saya ingin memohon maaf jika nantinya ada tulisan saya dirasakan kurang berkenan di hati kalian.

Tunggal Putri

Saya mencoba memulainya dari sektor tunggal putri. Sudah menjadi rahasia umum diantara kita bahwa sektor ini adalah sektor paling lemah dan paling stagnan perkembangannya. Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini kita berada dalam masa dimana kekurangan talenta-talenta tunggal putri berbakat layaknya Tiongkok yang tak henti-hentinya menelurkan atlet tunggal putri baru yang siap menggebrak dunia. Tidak bijaksana pula rasanya jika kita menunjuk beberapa pihak terkait nasib atau takdir yang dialami sektor tunggal putri saat ini.

Dari kacamata saya yang hanya orang awam yang mencintai bulutangkis, yang harus menjadi prioritas utama oleh adik-adik atlet tunggal putri kita adalah daya tahan atau stamina. Saya tidak ingin bicara masalah teknik di sektor ini karena faktanya tunggal putri kita dari segi teknik tidak kalah, hanya selalu saja terganjal masalah stamina. Ditambah lagi, adik-adik tunggal putri kita harus lebih punya daya juang untuk tidak minder dan tidak mudah menyerah saat bertanding dengan siapapun lawannya. Lihat saja atlet tunggal putri dunia yang ada di peringkat 10 besar, semuanya merupakan atlet-atlet yang memiliki daya tahan dan daya juang yang tinggi. Teknik sebagus apapun kalau gampang capek dan malas-malasan ngejar bola, tidak ada gunanya.

Namun di atas semuanya, mindset itu yang paling penting. Mindset akan berpengaruh terhadap mental. Jika mindset adik-adik tunggal putri kita sudah tertanam bahwa tidak ada lawan yang tidak bisa dikalahkan dan jangan pernah menyerah sebelum angka 21, secara perlahan semua elemen di dalam tubuh kita hingga ke ujung kaki akan bergerak seiring sejalan dengan apa yang ada di fikiran. Saya harap, adik-adik tunggal putri kita punya mindset seperti ini. Contohlah Carolina Marin, yang tidak memiliki sarana dan prasarana layaknya pelatnas kita (legenda, idola, sparring partner, pelatih yang juga mantan atlet kelas dunia, dll) tapi ia bisa menjadi juara di kejuaraan-kejuaraan besar dunia hingga olimpiade.

Tunggal Putra

Sektor yang tahun lalu begitu berkilau dengan bersinarnya prestasi tiga tunggal muda kita secara silih berganti. Namun untuk beberapa waktu belakangan ini kelihatannya agak sedikit redup. Dimulai dari sakitnya Jonatan Christie ‘Jojo’ hingga mulai tidak konsistennya Anthony Sinisuka Ginting dan Ihsan Maulana Mustofa. Komentar-komentar tentang mereka sudah banyak saya bahas di postingan-postingan sebelumnya. Bahwa soal mental Jojo lebih unggul, soal skill Anthony lebih ciamik dan soal teknik justru Ihsan yang lebih rapih. Yang mereka butuhkan adalah semangat, support, motivasi dan mindset yang benar agar di setiap pertandingan yang mereka mainkan mereka bisa tampil maksimal. Disinilah peran pelatih sangat berpengaruh pada mereka.

Tidak bisa kita pungkiri kini persaingan sektor ini sudah sangat merata yang berakibat silih bergantinya nama pemenang di setiap turnamen. Jadi saya ingin menghimbau pada teman-teman untuk tidak menaruh harapan yang begitu tinggi pada mereka. Mereka masih muda. Memang, mereka seangkatan dengan Viktor Axelsen atau Kento Momota. Tapi kita harus ingat bahwa Jojo, Ihsan dan Anthony bukanlah mereka. Setiap manusia punya perbedaannya masing-masing. Biarkan mereka berkembang secara alami, menikmati proses pembelajaran tanpa harus tertekan dan terbebani. Dan buat adik-adik tunggal putra kita, meski ada rekan-rekan seangkatan yang sudah lebih unggul dari kalian, jangan pernah merasa minder karena seperti Viktor dan Kento, kalian juga adalah spesial. Jika tidak percaya, silahkan tonton video pertandingan kalian yang ada di Youtube. Perhatikanlah komentar-komentar berbahasa Inggris yang memuji penampilan kalian. Pujian mengenai kemampuan kalian yang sebenarnya tidak kalah dengan mereka. Saya hanya bisa berdoa bahwa adik-adik saya di sektor ini bisa menjadi pemain yang lebih dewasa dan bijaksana sehingga kalian bisa mengeluarkan semua kemampuan terbaiknya dan menjadi juara suatu saat nanti.

Kekhawatiran lain yang juga saya rasakan adalah masih belum terdengar bunyi dari adik-adik tunggal putra pelapis yang ada di bawah mereka. Meski begitu, saya tidak pernah pesimis. Saya percaya diantara banyak adik-adik tunggal putra pelapis, pasti akan ada satu yang menonjol yang nantinya di masa depan bisa menjadi andalan bulutangkis Indonesia.

Ganda Putri

Dengan hanya mengandalkan satu pasangan saja (Greysia Polii/Nitya Krishinda Maheswari), sektor ini benar-benar tidak ada tajinya. Tercatat ada tiga pasangan yang berada pada satu garis yang sama di belakang Greysia/Nitya (Della Destiara Haris/ Rosyita Eka Putri Sari, Anggia Shitta Awanda/ Ni Ketut Mahadewi Istirani, Tiara Rosalia Nuraidah/ Rizki Amelia Pradipta), dan semuanya terlihat memiliki nasib yang hampir sama. Bertalenta tapi prestasi tak kunjung tiba. Ketiga pasangan ini kalau saya ibaratkan seperti seorang high quality jomblo yang belum menemukan ‘jodoh’nya.

Bicara tentang ‘jodoh’ berarti sama juga bicara tentang bongkar pasang pemain. Di awal tahun ini, Koh Eng Hian sempat mengisyaratkan yang lebih kurangnya adalah ia tidak akan berhenti berinovasi agar bisa menelurkan pasangan yang bisa memback-up atau bahkan menggantikan peran Greysia/Nitya. Itu berarti kesempatan untuk bereksperimen atau bongkar pasang pemain masih terbuka lebar. Bicara tentang bongkar pasang, saya ingin menganalisis terlebih dahulu ketiga pasangan ini dari kacamata saya sebagai pecinta bulutangkis.

Yang pertama adalah Della/Rosyita. Secara skill individu kedua pemain ini sangat bertalenta, apalagi jika kita menilik prestasi mereka saat junior dulu. Tetapi saya melihat semakin kesini saya mulai merasa sudah mulai ada kejenuhan diantara mereka. Melihat dari karakteristik pribadi mereka masing-masing, entah kenapa saya merasa mereka sudah mulai memperlihatkan tanda-tanda ketidakcocokan. Della memang berstatus lebih senior dari Rosyita tapi saya melihat ia belum memiliki leadership yang cukup baik. Bersama Rosyita, ia memang lebih banyak berperan di depan lapangan. Namun jika ingin bisa bersaing, paling tidak menjadi penghuni 10 besar, dibutuhkan kecepatan (kegesitan) dalam mengolah bola di depan net dan di mata saya itu yang hingga saat ini belum dimiliki oleh Della.

Tentang Rosyita, sebenarnya saya cukup berharap dengan pemain ini. Karena setelah Nitya, bersama dengan Anggia, ia menjadi kandidat penggebuk berbakat yang nantinya bisa melanjutkan tongkat estafet dari Nitya. Yang ia butuhkan cuma pasangan yang bisa mengolah bola yang bisa ia santap dengan smes kerasnya. Dan yang saya lihat Rosyita saat ini saat butuh pasangan yang benar-benar bisa memimpin di lapangan yang bisa mengarahkan ia harus bagaimana dan apa yang harus ia lakukan ketika sedang panik atau down. Kalo itu bisa ditemukan, maka Rosyita akan bisa bersinar lagi seperti waktu ia di junior dulu.

Bicara tentang Anggia/Ketut. Masalah mereka sama seperti masalah atlet-atlet bulutangkis kita, yaitu mental. Dengan jumlah jam terbang mereka saat ini harusnya terlihat progres naiknya kekuatan mental mereka. Namun hasilnya hingga saat ini hal itu masih belum muncul juga. Padahal secara skill mereka sudah punya modal yang cukup untuk masuk ke jajaran Top 10 ganda putri dunia. Kalau ini tidak segera dibenahi, maka mereka akan terus berada di kondisi yang sama hingga beberapa waktu ke depan.

Lain halnya dengan Tiara/Rizky. Jujur saja, saya tidak bisa melihat chemistry dari kedua pemain ini. Baik itu secara karakter pribadi ataupun permainan. Semua orang juga tahu bahwa Tiara salah satu playmaker berbakat masa depan bulutangkis Indonesia. Dia punya skill yang mumpuni dan juga leadership yang bagus. Hanya masalahnya ada pada karakter pribadinya yang dalam pengamatan saya begitu keras sehingga tak heran jika di masa lalu sering terdengar berita ketidakcocokan antara ia dan pasangannya terdahulu. Sempat terbersit di dalam hati saya menginginkan Tiara pindah ke ganda campuran jika di ganda putri ia tak kunjung mendapatkan pasangan yang pas. Sebenarnya anak ini sangat potensial dengan kemampuan mengolah bola yang baik. Tidak harus dengan Ronald Alexander, boleh juga dicoba dengan beberapa pemain putra ganda campuran yang lain. Siapa tahu di ganda campuran ia lebih bersinar seperti di masa lalu dimana ia pernah menjadi runner-up kejuaraan dunia junior.

Sementara itu, Rizky. Sebelumnya saya ingin mohon maaf kepada penggemar Rizky. Di mata saya, pemain ini sungguh biasa saja. Dari segi skill ia belum istimewa. Dari segi mental sepanjang pengamatan saya, saya belum pernah melihat sorot mata tajam penuh determinasi dan sikap tubuh yang optimis darinya. Yang unggul hanyalah fisiknya saja. Fisiknya sangat ideal untuk seorang atlet. Untuk menjadi seorang juara tidak hanya butuh tubuh yang sehat dan ideal tetapi juga butuh ambisi, motivasi dan kerja keras. Jika Rizky tidak mampu merubah mindsetnya, selamanya ia akan terus jadi pemain di level medioker. Bahkan bukan tidak mungkin dalam waktu dekat kita akan mendengar berita tentang keluarnya ia dari Pelatnas.

Seperti senior-seniornya, ganda putri junior kita terlihat sama menjanjikannya. Jika kita melihat secara kemampuan, mereka tidak kalah dengan para seniornya. Kembali lagi disini peran pelatih yang diuji. Mampukah tim pelatih ganda putri mengembangkan potensi anak didiknya. Semoga Koh Didi sapaan akrab Koh Eng Hian bisa lebih jeli lagi dalam mengolah kemampuan anak didiknya agar bisa berprestasi.

Ganda Putra

Diantara sekian banyak sektor, memang sektor inilah yang selalu stabil memberikan kabar gembira bagi kita para pecinta bulutangkis. Sejak era 70-an di masa Tjun Tjun/ Johan Wahyudi, Christian Hadinata dengan berbagai pasangannya lalu berlanjut ke era Rudy Gunawan/Eddy Hartono, Antonius Budi/ Deny Kantono, Ricky Soebagja/ Rexy Mainaky yang kemudian diteruskan Candra Wijaya/ Sigit Budiarto dan Tony Gunawan/ Halim Haryanto. Tak lama berselang muncul Alvent Yulianto Chandra/ Luluk Hadiyanto, Markis Kido/ Hendra Setiawan, lalu Hendra Setiawan/ Mohammad Ahsan. Dan kini muncul lagi andalan baru yaitu Kevin/Gideon.

Kalau membaca kalimat saya di atas sepertinya sektor ini terasa ‘wah’ sekali atau begitu menggembirakan. Padahal itu hanya permukaannya saja. Di mata saya, sektor ini di dalamnya tetap membuat saya khawatir. Khawatir bahwa Kevin/Gideon akan bernasib seperti Kido/Hendra atau Hendra/Ahsan di masa lalu dimana hanya mereka terus yang diandalkan. Sementara mereka juga manusia yang juga pasti punya keterbatasan. Dan itu akhirnya terlihat saat mereka harus kalah di babak semifinal Singapura Open Super Series 2017 karena kelelahan bertanding tiga minggu berturut-turutn tanpa henti.

Saat ini Kevin/Gideon memang sedang dalam top performancenya. Mereka sudah mulai ditakuti lawan dengan permainan cepat dan tak terduga. Dengan meroketnya prestasi mereka, sekali lagi bulutangkis Indonesia membuktikan bahwa kita selalu menjadi kiblat mode atau gaya bermain bagi ganda putra dunia. Indonesialah yang pertama kali merubah gaya bermain dari spesialisasi depan – belakang ke tipe all around dengan munculnya Kido/Hendra yang kemudian diupgrade lagi oleh Hendra/Ahsan. Kini tipe yang sama lebih diupgrade lagi oleh Kevin/Gideon dengan menambahkan kecepatan serta permainan drive yang begitu memukau. Jika dulu kekuatan ganda putra lebih banyak terletak pada pemain belakang yang bertugas sebagai penggebuk dengan banyak mengandalkan kekuatan dalam melakukan smes-smes keras, kini justru pemain depan yang bertugas sebagai playmaker yang menjadi mesin penggeraknya.

Meski Kevin/Gideon kini sedang jaya-jayanya, bukan berarti mereka tanpa cela. Permainan lambat akan menjadi salah satu musuh mereka karena dengan lambatnya tempo permainan maka skill dewa mereka tidak akan keluar, terutama pada Kevin yang memang menjadi motor bagi pasangan ini. Jangan berharap kita akan melihat pukulan-pukulan ajaib Kevin jika permainan dalam tempo lambat karena untuk mengeluarkannya haruslah dengan insting dan refleks yang kesemuanya terjadi dalam waktu sekejap mata.

Ada satu hal yang menjadi keunikan dari pasangan ini, mereka lebih suka bermain dengan pola counter attack. Bertahan lebih banyak baru melakukan serangan mematikan setelah mendapatkan kesempatan. Kevin/Gideon bukan tipe Kido/Hendra atau Ahsan/Hendra di masa lalu yang begitu terkenal dengan serangan bertubi-tubinya. Kevin/Gideon sangat tidak nyaman jika dalam posisi menyerang terus menerus. Mereka justru lebih senang untuk banyak bertahan sembari menunggu kesempatan melakukan serangan karena mereka memiliki kemampuan bertahan yang sangat baik.

Selain itu, untuk mengalahkan pasangan ini saya melihat beberapa ganda putra lawan akan lebih banyak menyerang Gideon dan berusaha untuk tidak memberikan banyak ruang (bola) pada Kevin karena kalau memberikan bola pada Kevin sama saja dengan bikin tambah pusing kepala dengan pukulan-pukulan aneh dan tidak terduganya. Belum lagi dengan kecepatannya yang bagi lawan sama saja bikin repotnya. Jadi daripada tambah pusing maka lawan akan lebih banyak menekan Gideon. Ini bukan berarti Gideon pemain yang lemah, tidak. Justru jika kita bicara bermain bersih, Gideon lebih diakui ‘kebersihan’ permainannya dibanding Kevin yang memang memiliki bakat alam yang spesial sehingga tidak bisa dihindari bahwa Kevin akan lebih sering melakukan error akibat dari aksi-aksi aneh dan ajaibnya. Ini hanya sebuah pilihan dari lawan yang ingin menang dari mereka.

Jika sudah begini, memang mentallah yang akan berbicara dalam pertandingan. Meski tidak sespesial Kevin, Gideon di mata saya tetaplah istimewa dengan kerja keras dan semangat pantang menyerahnya. Tidak hanya Gideon yang harus terus meningkat performanya, tetapi juga Kevin. Selain tetap terus meningkatkan kemampuan bertahan dan menyerang, saya berharap dan ingin berpesan untuk tetap jaga mental, mindset, semangat serta daya juang agar bisa terus menjadi ganda putra tangguh dunia.

Seperti yang saya ungkapkan sebelumnya, bahwa prestasi Kevin/Gideon yang menggembirakan sebenarnya hanya sampul yang indah dari sektor ini. Sebenarnya sektor ini sama seperti sektor ganda campuran yang akan saya bahas nanti, menyimpan bom waktu yang tinggal menunggu waktu untuk meledak jika tidak segera diantisipasi segera. Ada tiga ganda putra yang secara kualitas mampu untuk tampil ke depan layaknya Kevin/Gideon saat ini.

Bicara yang paling junior, ada Fajar Alfian/ Muhammad Rian Ardianto. Pasangan ini saya lihat masih menganut tipe permainan old style, spesialisasi depan-belakang. Secara skill individu keduanya sudah bagus dan punya modal untuk bersaing dengan ganda putra papan atas lainnya. Tapi jika ingin bisa bersaing lebih ketat lagi, mau tidak mau mereka harus menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada di kancah ganda putra dunia saat ini dimana tipe spesialisasi tak lagi ampuh untuk membuat mereka berdiri di podium juara. Lihat saja 10 besar ganda putra dunia saat ini, siapa-siapa yang berada di podium juara dalam satu tahun terakhir. Kebanyakan dari mereka adalah yang bertipe all-around. Atau opsi lain yang bisa mereka coba adalah dipisah sementara lalu dipasangkan dengan pemain lain. Kalau bisa sih dengan yang senior. Sayangnya, yang paling senior dan yang paling punya banyak pengalaman dan prestasi di Pelatnas Cipayung cuma ada Mohammad Ahsan seorang. Tapi balik lagi itu hanya masukan saja dan pilihan ada di tangan pelatih juga.

Karena sudah menyinggung nama Ahsan maka kali ini saya akan membahasnya bersama dengan pasangan barunya, Rian Agung Saputro. Membaca komentar teman-teman di forum diskusi Bulutangkis.com tentang keraguan akan kemampuan Ahsan dalam membimbing junior membuat saya meringis sedih. Saya adalah fans Ahsan sejak ia masih berkelana bersama dengan Bona. Banyak yang menyalahkannya saat membandingkan dirinya dengan ganda Tiongkok, Fu Haifeng yang berhasil mengangkat dan membawa Zheng Siwei ke final kejuaraan selevel Premier Super Series sementara Ahsan untuk membawa Rian sampai ke final Super Series aja belum mampu.

Perlu teman-teman ketahui bahwa kesuksesan kita sebagai manusia, disamping karena bantuan orang lain, namun yang paling berperan besar adalah diri sendiri. Kurang bijak rasanya kita untuk menyalahkan Ahsan sementara kita belum mengetahui dengan persis kondisi yang terjadi pada mereka. Kalau dari kacamata saya, tidak ada yang begitu fatal dari perkembangan mereka hingga saat ini. Mereka bahkan belum genap enam bulan dipasangkan secara permanen (koreksi jika saya keliru). Memang Rian bukan pemain baru lagi. Ia sudah cukup lama wara wiri dan berganti pasangan meski menghasilkan prestasi yang segitu-gitu saja tapi sebenarnya tidak bisa dibilang jelek juga.

Bicara tentang kontrasnya hasil yang diperoleh Rian dan Siwei membuat saya ingin menuliskan sesuatu. Mohon maaf buat fans Rian dan pecinta bulutangkis Indonesia. Dari pengamatan saya, harus saya akui bahwa Siwei jauh lebih berbakat dari Rian. Itu tidak hanya saya aja yang mengakui tetapi juga orang sekelas Oma Gill dan Om Steen. Bahkan Siwei dan Kevin sering banget dibandingkan oleh mereka karena begitu berbakatnya kedua pemain yang kebetulan berada pada usia yang relatif sama. Siwei dan Kevin kalau orang bisa salah lihat, bisa jadi mereka berdua dikira sodaraan kali ya saking sama-sama berbakatnya. Hehehehe. Menurut saya berbedanya hasil yang diperoleh oleh Siwei dan Rian bukan lagi karena faktor pasangan tapi lebih banyak karena faktor yang ada pada diri mereka sendiri.

Meski saya bicara seperti itu di atas bukan berarti saya menjelekkan Rian, Tidak. Saya hanya memaparkan apa yang memang terlihat di mata saya. Mungkin pandangan saya nggak jelas atau bisa jadi saya salah tafsir. Kita boleh punya pendapat berbeda, namun saya berharap kita bisa saling menghormati perbedaan masing-masing. Untuk Rian, saya tidak punya banyak komentar terkait kelebihan dan kekurangannya. Memang berpasangan dengan pemain paling senior di pelatnas sekelas Ahsan tidaklah mudah. Butuh usaha dan kerja keras ekstra agar tidak menjadi beban bagi sang senior. Saya hanya berharap bahwa Rian tidak berhenti berusaha, belajar dan bekerja keras. Seperti yang sempat diucapkan oleh salah satu teman di salah satu judul forum diskusi bahwa tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Saya hanya bisa membantu dengan doa bahwa semoga usaha dan kerja keras Rian bisa membuahkan hasil seperti yang Siwei tuai saat ini.

Dan akhirnya tibalah saya untuk memberikan pandangan mengenai pasangan yang sebenarnya adalah menjadi awal niat saya untuk menuliskan semua ini pada teman-teman semua, Angga Pratama/ Ricky Karanda Suwardi. Saya sebenarnya tidak ingin mengulang apa yang sudah saya ucapkan di masa lalu bahwa pasangan ini akan sulit bersaing menjadi yang terbaik di sektor ini. Dan sekali lagi saya katakan bahwa pasangan ini harus segera dipisahkan sebelum kemampuan mereka menjadi tumpul atau benar-benar hilang tak bersisa. Keduanya pemain yang bagus dengan kekhasannya masing-masing. Hanya saja rasanya saya melihat ke depannya jalan mereka akan terus sulit untuk bisa naik ke level yang lebih tinggi, bahkan untuk menyamai level Kevin/Gideon saja mereka sudah cukup keteteran.

Ricky yang memiliki skill bertahan yang bagus namun lemah dalam smes dan permainan depan net meski Ricky bermain lebih bersih daripada Angga yang sebenarnya masih memiliki sentuhan indah di depan net meski ia banyak beroperasi di belakang lapangan sebagai penggebuk. Di masa lalu saya pernah berkata bahwa saya ingin melihat Angga Pratama yang dulu dimana saat itu dia penuh semangat dan punya ambisi di setiap pertandingan yang dilakoninya. Selain Ahsan, di ganda putra pelatnas ia pemain kedua yang saya gemari sebelum akhirnya Kevin menggeser posisinya sehingga Angga harus puas menempati posisi ketiga di hati saya. Melihat kondisinya saat ini membuat saya sedih. Sangat terlihat di wajah Angga bahwa ia tak lagi bersemangat seperti dulu, ia seperti sedang menanggung beban yang sangat berat akibat efek prestasinya saat ini yang tak kunjung membaik malah sekarang ia sudah disalip oleh juniornya.

Di mata saya sekarang Angga/Ricky mengalami penurunan. Ricky menurun dalam hal kekuatan fisiknya, terutama saat bermain di lapangan belakang padahal dulu ia pernah memiliki track record sebagai penggebuk, sementara Angga sudah seperti kehilangan motivasi bermain padahal kemampuannya masih bagus. Saya berharap pelatih tidak hanya jeli masalah teknik dan skill pemain tapi juga psikologis mereka. Menurut saya memisahkan mereka adalah jalan terbaik untuk menyelamatkan mereka dari jurang kehancuran. Mungkin saya tidak bisa memberikan sugesti yang pas tentang siapa yang bisa menjadi pasangan baru mereka. Cuma yang saya harapkan dengan pasangan baru nanti benar-benar bisa mengangkat kembali kemampuan bagus mereka yang dulu pernah ada.

Ganda Campuran

Sektor yang sangat bersinar untuk waktu yang cukup lama berkat seorang nama Liliyana Natsir, kini mulai berada di ujung tanduk seiring dengan menurunnya performa Liliyana yang semakin menua dan kondisi fisik yang tidak seprima dulu. Dulu sekali saat Liliyana gagal meraih medali di Olimpiade London 2012 lalu, saya sempat membayangkan sektor ganda campuran sepeninggal Liliyana dan hasilnya adalah menakutkan. Memang sektor ini bertabur pemain bertalenta namun belum ada yang bisa menyamai aura dan kharisma Liliyana yang sedari muda hingga saat ini pun belumlah pudar.

Tidak harus menjadi setomboy Liliyana untuk mendapatkan aura dan kharisma itu. Contoh saja Zhao Yunlei yang tetap berkharisma dan disegani lawan meski tampil feminin. Dan tak perlu juga segarang Liliyana setiap tampil di atas karpet hijau. Tapi buat adik-adik ganda campuran kita, haruslah mencontoh dan mengikuti komitmen serta kerja keras seorang Liliyana yang tidak pernah menyerah meski saat ini ia sudah berusia kepala tiga dan dirundung cedera.

Bicara tentang Liliyana maka kita akan bicara tentang pekerjaannya sebagai playmaker di atas lapangan. Selama lebih dari satu dekade Liliyana sudah melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Usai kekalahannya di Malaysia Open Super Series Premier 2017, secara tersirat Liliyana sudah memberikan isyarat bahwa ia ingin ada yang menemani atau yang menggantikan untuk menjadi andalan Indonesia dalam meraih gelar juara. Tidak hanya saat ini saja Liliyana menyentil juniornya, di masa lalu Liliyana juga pernah melakukan hal yang sama tapi lagi-lagi pada kenyataannya ia selalu menjadi prajurit terakhir yang bertahan di tengah gempuran ganda campuaran dunia lainnya. Secara pribadi saya salut pada idola saya yang satu ini karena tidak pernah pudar komitmennya untuk berbakti pada negara meski sebenarnya saya yakin ada kalanya ia merasa lelah juga karena harus berjuang sendirian.

Diantara semua juniornya yang ada di Pelatnas Cipayung, secara jujur saya katakan belum ada yang bisa menyamai levelnya. Bukan saya begitu mendewakan Liliyana tapi memang begitulah kenyataan yang terlihat di mata saya. Belum ada yang bisa mengolah bola di depan net selihai Liliyana, belum ada yang bisa bertahan dari gempuran smes-smes keras sekuat Liliyana, belum ada yang bisa mengintimidasi lawan hanya dengan kemunculannya seperti Liliyana. Okelah, kalau kita bicara teknik, skill dan kemampuan akan tidak adil rasanya jika kita membandingkan adik-adik ganda campuran kita dengan Liliyana. Tetapi ada hal lain yang bisa mereka kejar agar bisa menyamai level seorang Liliyana yaitu mindset, komitmen dan kerja kerasnya. Jika mereka bisa memegang tiga hal ini maka sektor ini tidak akan begitu sulit menemukan pengganti Liliyana.

Memang diantara para juniornya yang paling dekat untuk menerima tongkat estafet dari Liliyana tentu hanya Debby Susanto. Secara mental, Debby tidak ada kekurangannya. Saya tidak meragukan kemampuannya dalam bertahan ataupun menyerang dari baseline. Hanya tidak bisa dipungkiri saat kita bicara kemampuan mengolah bola dan placing, Debby masih kalah bersaing dengan sang senior. Placingnya masih belum sehalus Liliyana, ia juga masih sedikit kurang cepat dalam mencegat bola, belum lagi untuk bermain netting tipis. Meski begitu, saya tidak ingin mengecilkan usahanya. Untuk bisa mengeluarkan segala skill seperti sang senior, Debby hanya butuh keberanian saja. Keberanian mencoba dan berani beradu dengan lawan tanpa sedikitpun merasa terintimidasi

Debby bersama dengan Praveen Jordan sebenarnya sudah cocok secara karakter pribadi. Debby begitu sabar menghadapi Praveen yang masih labil dalam emosi. Hanya saja kecocokan karakter pribadi bukan satu-satunya faktor mutlak dalam keberhasilan suatu pasangan, kecocokan permainan juga penting. Ya, Praveen memang butuh partner yang bisa sabar menghadapi dia. Tapi selain itu Praveen juga butuh playmaker yang pandai mengolah bola yang bisa menghasilkan pancingan yang nantinya enak untuk disantap Praveen dengan smes-smes keras atau dropshot tajamnya. Tidak hanya itu, jika anak ini diberikan partner yang punya determinasi dan penuh motivasi, bukan mustahil nantinya Praveen bersama pasangannya akan menjadi ganda campuran yang berbahaya. Kita tidak hanya punya Praveen saja sebagai pemain putra ganda campuran dengan kemampuan istimewa, kita punya limpahan talenta-talenta luar biasa lainnya. Ada Alfian Eko Prasetya, Edi Subaktiar, Ronald Alexander dan Hafiz Faisal. Belum lagi dengan pemain putrinya.

Saya sih inginnya pemain-pemain ini, termasuk Praveen, sesekali dirolling untuk dibongkar pasang agar bisa mengukur sejauh mana kemampuan mereka dan melihat kecocokan satu sama lain diantara mereka. Mumpung ini adalah masih tahun pertama usai olimpiade, PBSI masih punya cukup waktu untuk melakukan eksperimen setidaknya untuk dua tahun kedepan sebelum akhirnya menetapkan pasangan yang benar-benar mumpuni yang bisa diproyeksikan untuk bersaing menuju Olimpiade Tokyo 2020 nanti. Eksperimen jangan berhenti diantara satu sektor saja, tidak ada salahnya mencoba-coba pemain dari sektor lain siapa tahu dari pemain ganda campuran ada yang cocok dengan ganda sejenis (ganda putrid an ganda putra) ataupun sebaliknya. Biarkan mereka mencoba dan mengeluarkan semua yang mereka punya sembari mengenal lebih dalam tentang diri mereka (kemampuan), baik itu kelebihan dan kekurangannya.

Melihat hasil yang ditorehkan oleh beberapa pemain, terutama ganda kita, banyak sekali yang menyuarakan untuk membongkar pasangan lama dan memasangkannya dengan yang baru sesegera mungkin. Ya, tidak bisa dipungkiri bahwa beberapa dari mereka sudah berpasangan sejak lama dan prestasinya masih jalan di tempat. Ada juga pemain tunggal atau pasangan ganda yang belum lama ditandemkan yang diberikan ekspektasi tinggi oleh para penggemar bulutangkis Indonesia, namun ternyata hasilnya masih jauh dari harapan.

Contohlah Tiongkok dan Korea Selatan yang tidak pernah lelah dan berhenti membongkar pasang pemainnya, bahkan pada pemain yang sudah menduduki 10 besar dunia, hingga menemukan pasangan yang kuat untuk bersaing dengan yang lain. So, PBSI tidak ada salahnya meniru metode mereka. Toh, itu bukan cara yang illegal dan haram kok. Tidak perlu takut untuk gagal. Kalau gagal ya dicoba lagi. Kalau gagal lagi ya tinggal diganti lagi dengan yang lain hingga akhirnya nanti bisa mendapatkan formula yang tepat. Kegagalan tidak selalu harus dipandang negatif. Justru dengan kegagalan itulah kita bisa lebih banyak melihat hal positif. Tanpa ada kata ‘gagal’, kata ‘berhasil’ tidak akan terasa nikmatnya. Setiap yang berhasil, selalu diawali dengan kegagalan karena dari situlah kita belajar dan dari situlah kita mengevaluasi diri.

Isu bongkar pasang pemain bukanlah isu baru. Setiap kegagalan pemain di sebuah kejuaraan, isu ini akan selalu muncul. Bahkan tidak hanya menyangkut pemain, tetapi juga sudah membawa-bawa nama pelatih. Teman-teman perlu kita ingat bahwa setiap olimpiade berakhir maka akan selalu ada babak baru dalam persaingan dunia olahraga, tak terkecuali di dunia bulutangkis. Beberapa pemain lama akan pensiun lalu muncul beberapa pemain dengan berbagai berita yang melekat pada mereka, entah itu pemain yang sebelumnya hanya bisa merepotkan kini menjadi juara atau pemain debutan yang tiba-tiba secara tidak terduga membuat kejutan di suatu kejuaraan.

Menurut saya dengan pensiunnya beberapa pemain lama yang sudah berprestasi dan kenyang pengalaman tidak berarti membuat persaingan semakin ringan. Justru itu membuat persaingan semakin ketat dan merata karena semuanya terasa kembali lagi dari nol. Semua pemain memulai perjuangannya dari awal. Seperti start mobil F1, ada yang mulus tapi tak jarang juga terjadi benturan di awal-awal lomba saat pistol tanda balapan dimulai diletuskan. Benturan itu terjadi tidak mutlak semata-mata karena kesalahan pembalap yang membawa mobil atau juga bukan sepenuhnya salah si mobil yang sebenarnya sudah memiliki spesifikasi yang cukup tinggi tapi juga karena kondisi dimana semua pembalap berebut untuk melaju ke posisi terdepan tapi jalan yang dilalui tidak begitu lebar untuk menyalip lawan.

Begitu juga dengan kondisi pemain-pemain kita saat ini. Saat ini kita hanya bisa melihat Kevin/Markus yang secara prestasi dan juga permainan berhasil melesat jauh meninggalkan teman-teman Pelatnas yang lain. Namun bukan berarti pemain lain itu jelek semua, ini hanya masalah jalan dan waktu. Jalan yang harus dilalui untuk menjadi juara tidak pernah tersedia secara lebar-lebar. Untuk melaluinya butuh usaha dan usaha itu tidak hanya tentang siapa yang pukulannya paling keras atau siapa yang paling memiliki skill tapi juga siapa yang paling siap. Seahli apapun pemain di lapangan jika tidak dalam kondisi siap maka tidak akan pernah mendapatkan hasil yang baik.

Bicara mengenai perkembangan bulutangkis Indonesia saat ini, saya harus meminta maaf kepada teman-teman sesama pecinta bulutangkis, bagi saya saat ini (tahun ini) justru menjadi tahun yang mengkhawatirkan buat saya. Kenapa? Karena saya merasa kita sedang dalam kondisi gersang seperti kota Dubai yang terkenal dengan bangunan megah namun tak punya banyak lahan hijau alami yang sejuk tak hanya terasa di raga tapi juga di jiwa. Seperti Dubai, di dalam Pelatnas pemain bisa diibaratkan seperti gedung-gedung megah, mereka sebenarnya memiliki banyak pemain-pemain dengan kualitas yang bagus namun sayang itu tak berbanding lurus dengan prestasi yang bisa diibaratkan sebagai lahan hijau yang sejuk. (Lily Dian)

Berita Artikel Lainnya