Berita > Artikel > Jurnal Komunitas

Catatan Ringan Fordis Bulutangkis.com Usai Piala Sudirman 2017

Minggu, 28 Mei 2017 17:48:18
4351 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Sedih juga melihat para member forum diskusi (fordis) Bulutangkis.com tidak ada yang memberi apresiasi PBSI. Menurut saya wajar sih marah dengan PBSI. Karena seakan-akan penghuni-penghuninya gak kerja. Dari dulu hasilnya segitu-gitu aja.

Menurut saya yang menjadi titik lemah dari PBSI itu ketika mengikuti kejuaran beregu, baik Piala Thomas, Piala Uber dan Piala Sudirman adalah Strategi. Harus diakui kurang berjalan strategi di setiap kejuaraan beregu baik senior maupun di kelas junior seperti di ajang Piala Suhandinata. Saya juga kadang bingung kenapa itu bisa terjadi. Menurut saya di PBSI harus ada pelatih kepala yang merangkap di lima sektor. Jadi dia bisa menyatukan perbedaan dari pelatih kepala masing-masing sektor. Bisa dicari satu orang yang benar-benar jadi panutan. Misalnya pak Christian Hadinata atau siapa yang dianggap mampu menyatukan perbedaan. Kalau itu belum ada, saya pikir pelatih setiap nomor lebih besar egonya masing-masing.

PBSI harus benar-benar mempersiapkan tim sejak dini kalau mau juara. Jangan terkesan organisasi bulutangkis yang fungsinya meningkatkan kualitas juara malah terkesan menghancurkan bulutangkis karena kesalahan-kesalahan menahun dari orang-orang di dalamnya.

Kalau Kevin dan Apriani jadi dipasangkan, saya orang paling depan yang mendukungnya.

Indonesia tidak pernah kekurangan calon-calon pemain hebat. Tunggal putra dengan pemain-pemain muda semua berbakat tapi kurang pengarahan saja. Tunggal putri seperti Fitriani dan kawan-kawan, saya kira bisa berprestasi asal benar-benar diarahkan dan dibangkitkan mindset-nya untuk menjadi pemain hebat.

Atlet ganda putra melimpah dan bagus-bagus. Di ganda campuran apalagi, luar biasa banyak. Tapi itu tadi para pelatih tidak bersatu, egonya yang besar. Kalau mau bahu-membahu membangkitkan, saya yakin tidak perlu waktu lebih dari tiga tahun sudah ada juara-juara baru di semua nomor khususnya di ganda putra, ganda putri dan ganda campuran.

Tiongkok dalam beberapa dekade terakhir mendominasi salah satuya karena mereka memberlakukan rangkap. Korea Selatan juga, Thailand mereka sukses main rangkap. Indonesia yang gak ada rangkap-rangkapnya tidak pernah juara lagi di Sudirman Cup.

Semoga setelah ini bangkit, sudah cukup tidurnya. (Badmintonmania)

Berita Jurnal Komunitas Lainnya