Berita > Artikel

Kevin dan Standar Kesombongan

Jumat, 02 Juni 2017 10:38:23
7178 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

  • Kevin Sanjaya Sukamuljo & Gideon Markus Fernaldi

    ©Badmintonindonesia.org

  • Kevin Sanjaya Sukamuljo & Gideon Markus Fernaldi

    ©Badmintonindonesia.org

“Kalau menang, ngomong apa saja atau ngapain saja juga enak Mas,” demikian ucap Sony Dwi Kuncoro beberapa tahun lalu usai menang di Indonesia Terbuka. Ya demikianlah adanya dunia berputar, kalau menang dipuji, kalau kalah dikritik. Tidak ada yang aneh sebenarnya.

Demikian juga yang terjadi dengan seorang Kevin yang bermain dengan gaya yang sangat provokatif. Ketika menang di AE 2017 puja-puji mengalir deras padanya. Namun ketika dengan style yang sama (provokatif) dan kalah menghadapi Boe/Mogensen di ajang Piala Sudirman 2017, kritikan dan tak jarang makian dialamatkan kepada Kevin.

Banyak yang setuju untuk mengkritik, tapi banyak juga yang tetap membela tidak rela Kevin dikritik. Bagaimanakah keadaan sebenarnya?

Berkaca kepada seorang Tai Tzu Ying. “Saya orangnya keras kepala, bahkan ketika penampilan saya buruk dan saya banyak membuat kesalahan, saya masih terus mencoba untuk melakukan pukulan (tipuan) yang sama yang membuat saya makin kehilangan banyak poin,” demikian penuturan Tai Tzu Ying akan gaya permainan masa lalunya.

Sekarang. “Saya tidak punya pukulan/gaya baru, namun sekarang saya belajar untuk melakukan pukulan yang langsung mematikan daripada melulu dengan pukulan tipuan. Sekarang ketika penampilan saya lagi jelek saya berusaha menahan diri untuk tidak banyak menggunakan pukulan tipuan,” ungkap Tai Tzu Ying dalam satu kesempatan.

Hasilnya Tai Tzu Ying menjadi pemain nomor 1 dunia dan tidak terkalahkan hingga saat ini.

Kembali kepada Kevin, apakah Kevin harus merubah gaya permainan provokatifnya? Apakah Kevin harus bermain dengan berdarah dingin macam Hendra Setiawan sehingga terlihat lebih sopan dan diterima umum? Tentu saja tidak! Kevin tetaplah harus menjadi seorang Kevin, seperti juga seorang Hendra Setiawan atau Carolina Marin yang juga terkenal dengan gayanya yang sangat provokatif. Tidak bisa dipungkiri, pemain-pemain besar memang cenderung memiliki gaya yang “nyentrik”.

Tirulah seorang Tai Tzu Ying, yang tetap bermain dengan pukulan-pukulan penuh tipuan namun dia bisa lebih bijak (tidak keras kepala/memaksa) kapan saat menggunakan pukulan tipuan dan kapan harus merubah dengan pukulan yang langsung mematikan.

Demikian juga dengan Kevin yang tetap harus menjadi dirinya sendiri yang provokatif/agresif, namun dengan lebih bijak kapan saat tetap harus memaksa provokatif menekan lawan dan kapan saat harus menurunkan emosi, tenang terkontrol.

Carolina Marin pernah jatuh sekali, medapat kartu merah (dan kalah) karena ulahnya sendiri yang bermain penuh emosi pada partai final German Open 2015 melawan Sung Ji Hyun. Namun setelah kejadian tersebut Marin memperbaiki diri dengan terlihat lebih terkontrol emosinya. Dan hasilnya Marin berhasil merebut medali emas Olimpiade Rio 2016.

Demikian juga kita berharap dengan kejadian kekalahan penuh emosi Kevin/Gideon vs Boe/Mogensen ini, Kevin (dan juga Gideon) dapat memetik hikmahnya untuk dapat bermain lebih bijak/dewasa untuk menjadi seorang juara sejati. Untuk dapat merebut gelar kejuaraan dunia, Asian Games dan Olimpiade dan gelar besar lainnya.

Ayo Kevin, kita semua mendukungmu! (chico aura)

Berita Artikel Lainnya