Berita > Artikel > Pariwara

Sekali Lagi Soal Pencurian Usia

Senin, 21 Agustus 2017 12:45:31
1388 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Program Pemutihan Data/Usia Atlet yang dilakukan PP PBSI sesuai Surat Keputusan No. SKEP/021/0.3/III/2017 tertanggal 31 Maret 2017 tentang Pemutihan Data/Usia Atlet yang berlaku selama tiga bulan hingga 30 Juni 2017 telah berakhir.

Ini memang menjadi terobosan baru yang patut diacungi jempol. Program ini sepatutnya sudah dilakukan sejak 10 atau 15 tahun lalu. Dengan ‘pembiaran’ yang berkepanjangan, jangan terkejut jika ternyata usia atlet yang melakukan pemutihan data dalam program tersebut mencapai 150 pemain. Dominan mereka adalah pemain-pemain usia potensial dari remaja hingga taruna.

Jumlah sebanyak itu benar-benar membuat siapapun tercengang. Bayangkan, jika suatu turnamen diikuti oleh 400 hingga 500 pemain dimana 150 pemain yang melakukan pemutihan tersebut ikut serta di turnamen tersebut, maka itu berarti 30% peserta turnamen itu berusia ‘bodong’ alias palsu.

Celakanya jika para pemain pencuri umur ini biasa lolos hingga ke partai-partai puncak, betapa kasihannya pemain-pemain jujur yang harus terbunuh di babak-babak awal.

Sayangnya, PBSI seolah masih setengah hati dalam menjalankan program ini. Kenyataannya PBSI masih menutup rapat informasi para pemain yang sudah melakukan pemutihan data usia. Padahal, asas transparansi tetap harus dijunjung tinggi. Setidaknya, meski sanksi skorsing atau pidana tidak mereka terima, tapi sanksi moral tetap mereka harus terima. Sanksi atas kejahatan yang selama ini mereka lakukan.

Bukan persoalan, kalaupun mereka sudah terlanjur lolos ke Pelatnas dan masih menjadi andalan Indonesia di berbagai event internasional. Karena orang akan jauh lebih menghargai dan respek jika mereka mau bersikap ksatira atas kesalahan yang mereka lakukan sebelumnya.

Pengakuan itu tentu tak perlu menunggu sampa seorang pemain menginggal dunia, sehingga tertulis di batu nisan data lahir yang sebenarnya. Kalau sudah sampai disini, rasanya siapapun akan berpikir dua kali, “Apakah Tuhan juga akan saya bohongi”.

Demikian catatan ringan Daryadi, Pemimpin Redaksi Majalah Bulutangkis Indonesia pada kolom Salam Bulutangkis Edisi 25, Tahun III Agustus 2017.

Setelah pada beberapa nomor sebelumnya, pencurian usia ini diangkat Bulutangkis Indonesia bersamaan pelaksanaan program pemutihan dilaksanakan PBSI, kali Bulutangkis Indonesia kembali memberi beberapa catatan yang patut menjadi perhatian PBSI di tengah apresiasi positif atas kebijakan program ini. Ada 3 tulisan yang khusus mengangkat topik terkait pencurian usia, ”Menjerat Para Pengemplang Umur”, pada artikel ini bisa dilihat tujuh klub besar yang berkomitmen memerangi pencurian usia ini.

Lalu di artikel kedua ”Berharap Tak Sekadar Retorika”, Bulutangkis Indonesia menyajikan pro kontra atas kebijakan PBSI ini. “Saya lebih menghargai atlet yang berani mengakui dirinya sudah melakukan pemalsuan usia. Kalau saat ini dia masih dipakai di tim nasional karena memang prestasi, itu bukan persoalan. Tapi jiwa ksatria itulah yang akan dihargai orang,” tutur Candra Wijaya, pengelola klub Candra Wijaya Badminton Club (CWBC). Selain Candra bisa disimak dua pendapat dari mantan pebulutangkis nasional yang juga mengelola klub bulutangkis, Icuk Sugiharto dan Luluk Hadiyanto.

Dan di artikel ketiga ”Mereka Yang Dicurigai Tapi Tak Terbukti”. Siapa atlet bulutangkis yang dicurigai melakukan pencurian usia? Gosip pencurian usia selalu saja menjadi obrolan hangat saat menonton kejuaraan bulutangkis di Tanah Air seperti ajang Djarum Sirkuit Nasional (Djarum Sirnas). Ketiga artikel yang disajikan Bulutangkis Indonesia tentunya bisa menjadi pengetuk hati insan bulutangkis Indonesia untuk mulai memerangi pencurian usia.

Semua sudah tahu, bagaimana Mulyo Handoyo yang pernah sukses mengantar Taufik Hidayat menyabet medali emas Athena 2014, kini di tangan dinginnya mengantar tunggal India bersinar. Ajang kejuaraan bulutangkis BCA Indonesia Open Super Series Premier 2017 yang berlangsung di Jakarta Plenary Hall, Jakarta menjadi saksi sukses Mulyo Handoyo mulai menciptakan sosok Taufik Hidayat dalam diri bintang India, Srikanth Kidambi.

Simak cerita-cerita seputar perjalanan Mulyo yang sempat melamar ke PBSI namun tak bersambut. India menjadi pembuktian dirinya sebagai pelatih yang siap melahirkan sosok-sosok Taufik di Negeri Bollywood.

Indonesia kalah dramatis 2-3 dari Korea Selatan di ajang kejuaraan bulutangkis Asian Junior Championship 2017. Tampil sebagai tuan rumah, tim Indonesia mencetak sejarah dengan menembus partai final untuk kali pertama. Sayangnya, ambisi tim Merah Putih naik podium juara gagal diwujudkan. Tim Indonesia yang sempat unggul 2-1 atas Korea Selatan, akhirnya gagal menyempurkan kemenangan 3-1 setelah kekalahan Gergoria Mariska yang turun di partai keempat. Kekalahan Gergoria membuka peluang Korea Selatan untuk mencuri kemenangan di partai kelima, dan ternyata berhasil diwujudkan Korea Selatan.

Kekalahan menyakitkan tentunya. Simak bagaimana cerita-cerita perjuangan atlet-atlet muda Indonesia berjuang untuk Indonesia. Bagaimana Gregoria memikul tanggung-jawab, dan simak cerita Minarti mengenai anak didiknya. Dan kisah sukacita di nomor perorangan terobati dengan sukses Rehan Naufal Kusharyanto/Sita Fadia Ramadhanti yang berhasil naik ke podium juara di nomor ganda campuran dengan menaklukkan atlet-atlet Korea Selatan.

Tak cuma itu, banyak cerita-cerita menarik lainnya. Cerita-cerita di balik berita-berita yang sudah kamu dengar. Ada teka-teki bulutangkis berhadiah sepatu EAGLE. Tentunya yang tak ketinggalan poster Permata dari India, Kidambi Srikanth. Tak cuma poster, profil Kidambi pastinya ada. (*)

Majalah BULUTANGKIS INDONESIA
Alamat redaksi:
Grand Depok City
Sektor Melati Blok D1 No.5
Depok 16413
Telp/fax: (021) 8760254
Email: majalahbulutangkisindonesia@gmail.com

Info berlangganan :
WA : 0817-734-835
Line : majalahbulutangkis

Berita Pariwara Lainnya