Berita > Artikel

Catatan Ringan Usai Kejuaraan Dunia & SEA Games 2017

Sabtu, 02 September 2017 16:03:15
8452 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

  • ©Badmintonindonesia.org

  • ©Badmintonindonesia.org

  • Current
Menarik, melihat bagaimana teman-teman di forum diskusi Bulutangkis.com membahas berbagai aspek tentang bulutangkis setelah melihat kegagalan kita dalam memenuhi target di SEA Games tahun ini. Izinkan saya untuk ikut berdiskusi dan berbagi pemikiran saya kepada teman-teman semua.

Perhelatan SEA Games 2017 sudah berakhir, kita sudah melihat bagaimana akhir cerita dari kisah tim bulutangkis kita di Kuala Lumpur. Terlepas dari kecurangan-kecurangan yang terjadi selama SEA Games berlangsung, penampilan tim bulutangkis kita pada SEA Games kali ini adalah penampilan terburuk sepanjang sejarah. Suka tidak suka kita harus menerima kenyataan bahwa tim bulutangkis kita gagal memenuhi target yang dibebankan kepada mereka, 3 medali emas. Sektor Ganda Putri menjadi sektor pertama yang mengawalinya yang kemudian diikuti dengan sektor Ganda Campuran, Tunggal Putri dan yang terakhir Ganda Putra. Hanya Jonatan Christie yang berhasil meraih medali emas di kategori perseorangan. Sungguh suatu kemunduran yang fatal. Bahkan di tengah gersangnya para pemain 10 besar dunia yang bertarung disini, kita justru seperti tidak mampu berbuat banyak.

Saya ucapkan selamat untuk Jojo, panggilan kecil Jonatan, atas raihan medali emasnya. Begitu juga dengan Ihsan Maulana Mustofa, Fajar Alfian/ Muhammad Rian Ardianto dan Gregoria Mariska dengan medali perunggunya. Di tengah tidak banyaknya pemain papan atas yang berlaga di SEA Games 2017 dan meski mereka hanya meraih 1 medali emas dan 3 medali perunggu, perjuangan mereka patut diapresiasi. Tidak pernah mudah perjuangan seorang atlet dalam meraih sekeping medali dengan membawa nama bangsa di ajang multievent seperti ini. Pada saat menonton pertandingan Jojo, komentatornya (dalam bahasa Inggris) sempat mengatakan bahwa Jojo masih berusia 19 tahun saat ini. Saya cukup kaget. Melihat Jojo tampil di partai final membuat saya sempat lupa usia Jojo sesungguhnya.

Lalu tiba-tiba saya teringat dengan event SEA Games dua tahun lalu, itu berarti saat itu Jojo masih berusia 17 tahun. Mengetahui usia Jojo sesungguhnya membuat saya bisa tersenyum lega bahwa Jojo dan juga rekan-rekannya yang lain, yang masih berusia di awal 20-an, mereka masih memiliki jalan yang panjang untuk meraih kesuksesan. Saya berharap bahwa pencapaian mereka di event SEA Games kali ini tidak membuat mereka cepat puas. Meski SEA Games masih kalah bergengsi dari Asian Games bahkan Olimpiade tapi jadikanlah event ini bisa sebagai batu loncatan bagi mereka untuk terus berprestasi lebih tinggi lagi.

Seperti kata pepatah, sudah jatuh ditimpa tangga pula. Sudahlah ada bentrokan 2 event besar yang sama pentingnya, di tengah perjalanan ada yang cedera pula, tidak hanya satu pemain tapi dua pemain. Ditambah lagi dengan tidak maksimalnya performa para pemain yang sejatinya merupakan andalan untuk meraih medali, rasanya lengkap sudah penderitaan tim bulutangkis kita, kalau tidak mau dibilang kesialan.

Ini membuktikan bahwa kita masih belum kuat di dalamnya, seutuhnya. Ini menjadi pembelajaran besar bagi PBSI, baik itu pelatih maupun pengurus. Sepertinya tahun 2017 ini menjadi tahun terkelam dalam sejarah perjalanan bulutangkis kita. Setelah pernah terhenti di babak penyisihan grup di Piala Sudirman lalu untuk pertama kalinya, kini kita gagal menjadi juara umum di cabang bulutangkis juga untuk pertama kalinya sepanjang sejarah perhelatan SEA Games.

Hasil pahit dari event di negeri tetangga sedikit terobati dengan hasil yang diperoleh dari negeri yang posisinya nun jauh di sana. Dari 10 wakil yang dikirim, 2 diantaranya maju ke final dan menghasilkan Tontowi Ahmad/ Liliyana Natsir menjadi juara dunia untuk kedua kalinya. Melihat hasil yang kita peroleh selama perhelatan BWF World Championships 2017, kita patut gembira meski yang masuk ke final dan yang menjadi juara adalah anggota dari kuartet 4L (Loe Lagi Loe Lagi). Dengan dinobatkannya Tontowi/Liliyana menjadi juara dunia untuk kedua kalinya di satu sisi menjadi bukti bahwa mereka belum habis, tapi di sisi lain justru malah menjadi lubang yang semakin lama semakin membesar bagi kepelatihan PBSI, khususnya di sektor Ganda Campuran.

Jika sedikit mereview penampilan punggawa Indonesia di ajang BWF World Championships 2017, mengingat sedikitnya wakil yang kita kirim, hasil yang kita peroleh sebenarnya tidaklah buruk. Dengan menempatkan 2 wakil di final itu saja sudah hasil yang baik mengingat ketatnya persaingan dunia bulutangkis saat ini. Saya tidak bisa memungkiri pasti ada sedikit kekecewaan untuk beberapa punggawa tertentu yang tampil di bawah ekspektasi kita. Tapi kita tidak perlu berlama-lama dalam kekecewaan. Yang lebih perlu kita lakukan adalah terus menatap ke depan dengan tidak berhenti berinovasi dan melakukan perubahan demi perubahan untuk menggapai hasil yang lebih baik lagi dari saat ini.

Dari semua wakil yang dikirim, penampilan Mohammad Ahsan/ Rian Agung Saputro memang yang paling mengejutkan. Saya tidak melupakan bagaimana sebelumnya saya mengatakan bahwa pasangan ini belum punya identitas. Melalui ajang BWF World Championships 2017 ini, mereka mulai menemukan dan menunjukkan identitas mereka sebagai pasangan yang powerful. Jangan heran jika mereka dijuluki seperti itu karena pada awalnya mereka berdua adalah seorang penggebuk. Kini baik Ahsan maupun Rian sudah mampu beradaptasi dan bertransformasi satu sama lain menjadi pasangan yang tak kalah tangguh dengan para penghuni 10 besar Ganda Putra dunia saat ini.

Pujian yang besar ingin saya hadiahkan kepada Rian yang menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan kali ini. Perubahan penampilannya di lapangan membuat saya bisa merasakan betapa besar kerja keras yang ia lakukan demi bisa mengimbangi permainan Ahsan yang memang lebih kaya pengalaman. Tidak pernah mudah untuk bisa berdiri sejajar dan layak menjadi partner seseorang yang sudah memiliki banyak prestasi. Kini ia tidak hanya bermodal smes saja dan defensenya pun tidak seperti dulu. Smesnya mulai lebih powerful serta defensenya sudah lebih kuat dan variatif. Kalo Ahsan sih nggak usah ditanya, penampilannya selalu mampu mencuri perhatian. Tampilan buruk mereka di final kemaren tidak mengurangi apresiasi saya terhadap mereka karena mereka bukanlah mahluk yang sempurna.

Sudah mencapai final di ajang sebesar BWF World Championships 2017 ini saja sudah merupakan progress yang luar biasa untuk mereka yang sempat tampil buruk di awal-awal mereka berpasangan dengan selalu menjadi langganan kekalahan pada babak-babak awal turnamen. Kita harus ingat bahwa sebenarnya mereka sama sekali tidak diunggulkan di ajang ini. Jadi sungguh keterlaluan saja rasanya jika kita menepikan segala perubahan positif yang mereka lakukan berhari-hari hanya karena kesalahan di satu hari.

Ahsan/Rian hanya tinggal memoles sedikit lagi proses transformasi mereka agar terlihat lebih padu lagi di masa depan. Untuk Rian, tetap berlatih smes lagi agar kekuatan pasangan ini tidak terus berkurang. Sementara Ahsan, karena awalnya ia bukanlah seorang playmaker, kini ia harus mengemban tugas itu. Meski sudah punya kemampuan itu sebelumnya, Ahsan masih harus tetap terus mengasah kemampuannya sebagai playmaker di atas lapangan. Sebenarnya kemampuan Ahsan sebagai playmaker sudah baik, namun jika bertemu dengan pemain dengan tipikal playmaker murni yang memang menguasai permainan depan net, dikhawatirkan ia akan kesusahan. Itu sudah terbukti di pertandingan final kemaren bagaimana seorang Zhang Nan, yang meski di Ganda Campuran sebagai penggebuk namun sejak junior jika bertanding di sektor Ganda Putra ia berfungsi sebagai playmaker, sangat menguasai permainan net dan menutup kesempatan bagi Ahsan untuk mengembangkan permainannya dengan selalu mencegat dan menekan lawan dengan serobotan-serobotannya.

Untuk penampilan pemain-pemain yang lain, saya tidak punya banyak komentar. Untuk Kevin Sanjaya Sukamuljo/ Marcus Fernaldi Gideon, mungkin karena Kevin baru abis cedera jadi mungkin butuh waktu untuk bisa kembali ke performa terbaiknya. Sementara Praveen Jordan/ Debby Susanto, terutama untuk Praveen, sepertinya ia lebih butuh peningkatan (perbaikan) dari segi mental saja karena dari segi kemampuan Praveen sebenarnya tidak ada masalah. Kalo Angga Pratama/ Ricky Karanda Suwardi, hanya satu kalimat yang ingin saya sampaikan yang sebenarnya lebih tepat saya tujukan pada sang pelatih. Saya tunggu gebrakan perubahannya sesuai dengan janji anda untuk kedua adik saya ini ya, Pak. Anthony Sinisuka Ginting? Ia masih muda. Ia masih butuh banyak jam terbang agar menambah pengalamannya. Tapi tidak apa-apa, ada hikmahnya juga kekalahan yang dialami mereka kali ini. Jadi mereka bisa mengevaluasi lagi dimana kekurangan-kekurangan mereka agar nanti bisa mereka perbaiki lagi untuk tampil di turnamen-turnamen berikutnya.

Khusus untuk Tontowi/Liliyana, mereka sudah tampil luar biasa, terutama Owi yang menurut saya selama mengikuti BWF World Championships 2017 yang sudah layak menerima penghargaan sebagai Man Of The Match di setiap pertandingan yang diikuti. Ia benar-benar bekerja keras dengan banyak mengcover lapangan agar keseimbangan permainan yang sudah dibangun Liliyana tidak goyah. Pujian yang tak kalah besar juga ingin saya hadiahkan untuk pemain favorit saya, Liliyana Natsir. Di tengah kondisi lutut yang masih belum pulih sepenuhnya, ia bisa tampil maksimal dengan mengerahkan seluruh kemampuannya agar semua kerja keras dan pengorbanan sang partner tidak sia-sia.

Buat Tontowi/Liliyana, bagi saya tidak banyak yang harus dibahas ataupun dikritisi. Harapan, masukan dan doa saya untuk mereka hanyalah konsistensi, menjaga performa agar tetap terus stabil sampai mereka bisa meraih emas Asian Games 2018 yang akan dihelat di rumah kita sendiri. Baik itu dengan menjaga kondisi fisik, pola latihan, maupun dengan selektif memilih pertandingan yang akan diikuti nanti.

Ini seharusnya menjadi pembelajaran yang sangat penting tentang bagaimana melawan segala rintangan, entah itu rasa sakit secara fisik (cedera, lelah), rasa tidak percaya diri, ataupun hal-hal negatif lainnya (marah, kesal, sedih, kecewa) akan keadaan yang sedang terjadi lalu mengubahnya menjadi sebuah energi positif (semangat, ambisi, determinasi) dalam bentuk kerja keras dan pengorbanan untuk meraih hasil yang terbaik. Pesan ini tidak hanya ditujukan untuk adik-adik Ganda Campuran saja, tapi juga untuk seluruh adik-adikku yang ada di pelatnas yang membawa nama bangsa. Tontowi/Liliyana saja sudah membuktikan bahwa tidak ada kata ‘menyerah’ dalam kamus mereka. Lalu kapan giliran kalian menunjukkannya?

Tontowi/Liliyana bukan tanpa masalah (rintangan). Masih ingatkah bagaimana ‘nyesaknya’ kegagalan mereka dalam meraih medali di Olimpiade London 2012 yang memutus tradisi medali emas di cabang bulutangkis? Masih ingatkah juga bagaimana ‘gemes’nya kita atas kekalahan mereka di final Asian Games Incheon 2014? Itu baru sedikit dari sekian banyak kegagalan demi kegagalan yang mereka alami. Belum lagi dengan kegagalan tidak terduganya mereka di babak kedua saat berlaga di Asian Games Guangzhou 2010, atau bagaimana julukan spesialis runner-up yang disematkan oleh teman-teman disini sempat melekat pada mereka. Sekarang mereka benar-benar sudah menjadi pasangan yang disegani. Mental, mindset, pengalaman serta kerja keras merekalah yang membuat mereka bisa sampai di titik yang mereka injak saat ini.

Semua adik-adik kita harus mencontoh senior-senior mereka yang berhasil, jika mereka ingin sukses ke depannya. Saat ini yang sedikit menunjukkan titik cerah hanyalah sektor Tunggal Putra dan Ganda Putra. Sisanya, menurut saya sedikit ‘ngeri ngeri sedap’. ‘Sedap’nya karena sebenarnya adik-adik kita masih memiliki modal dan potensi untuk bersaing. ‘Ngeri’nya karena beberapa diantara mereka seperti kurang dikelola dengan baik, baik itu pengelolaan dari diri sendiri ataupun dari pihak luar yang dalam hal ini adalah pelatih dan pengurus PBSI. Kurang berpotensi apa mereka. Sejak junior sudah menunjukkan prestasinya, bahkan sudah ada yang menjadi juara. Bahkan ketika naik ke kelas senior beberapa diantara mereka sudah ada yang sudah menunjukkan prestasinya. Tapi apa kabarnya mereka sekarang? Jawabannya itu seperti orang yang sedang berteriak di tengah laut dan kita sedang berdiri di pinggir laut, tidak kedengaran.

Contoh terdekat ada di sektor Ganda Campuran. Alfian Eko Prasetya, Gloria Emanuelle Widjaja, Melati Daeva Oktavianti, Edi Subaktiar, mereka adalah juara dunia junior. Bandingkan dengan Lu Kai/Huang Yaqiong atau Zheng Siwei/Chen Qingchen sekarang, prestasi mereka kini sangat berbeda jauh. Kita jangan meniru negara tetangga yang cukup banyak menghasilkan juara saat di junior tapi banyak melempem di senior. Untuk hal yang satu ini, kita masih tertinggal jauh dari Tiongkok, Korea Selatan, bahkan Denmark. Melihat Lu Kai/Huang Yaqiong, Zheng Siwei/Chen Qingchen, Viktor Axelsen, atau Kento Momota dan teman-teman seangkatan mereka lainnya yang sudah melesat naik, saya iri plus miris jika melihat apa yang terjadi dengan adik-adik saya.

Sekali lagi saya katakan, tidak ada yang salah dengan potensi dan kemampuan mereka. Lalu apa yang salah? Menunjuk satu pihak atau bahkan satu faktor memang bukan tindakan bijak. Kesalahan atau keburukan yang terjadi saat ini bukan karena satu faktor saja. Ada begitu banyak faktor yang kemudian semakin lama semakin terkumpul dan terakumulasi menjadi satu yang akhirnya memunculkan satu kata yang bernama kegagalan. Terlepas dari apapun faktornya, mencari solusi (perbaikan) menjadi prioritas yang lebih utama untuk segera dilakukan. Lebih baik perbaikan itu dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu, terutama bagi pemain itu sendiri. Bagaimana pun canggihnya teknologi dan kerasnya usaha pelatih menyusun rencana dan memompa semangat serta melatih anak didiknya, kalau si pemain tidak menanamkan niat (keinginan) yang kuat di dalam hatinya maka semuanya hanya akan jadi sia-sia karena faktor terbesar seorang pemain dalam meraih kesuksesan hampir sebagian besar tergantung pada diri sendiri.

Sekarang untuk adik-adik saya tercinta para pejuang bulutangkis yang membawa nama bangsa, adakah kalian memiliki niat (keinginan) yang kuat di dalam hati untuk menjadi pemain berkelas dunia yang memiliki mental juara? Kalo jawabannya adalah iya, pernahkah kalian benar-benar mencurahkan segala perhatian, energi, waktu serta fokus kalian dan mengacuhkan hal-hal yang tidak penting untuk mewujudkan itu semua? Kalau jawabannya adalah iya, bersediakah kalian benar-benar bekerja keras, berkorban dan berusaha sekuat tenaga hingga titik darah penghabisan untuk mewujudkannya? Tiga pertanyaan itu menjadi pertanyaan yang ingin saya ajukan kepada adik-adik saya tercinta.

Kalau masih belum tergugah juga, saya masih punya banyak pertanyaan lagi yang ingin saya ajukan kepada adik-adik saya yang saya sayangi. Kalian sudah mendengar apa yang terjadi pada Liliyana Natsir saat ini? Atau pernahkah kalian mendengar apa yang pernah terjadi pada Sigit Budiarto di masa lalu? Atau kalau mau mundur lebih ke belakang dan yang lebih legendaris lagi, pernahkah kalian mendengar kisah seorang pelari asal Inggris bernama Derek Redmond pada OG Barcelona 1992?

Kalau jawabannya iya, tahukah kalian apa yang sudah mereka lalui dan apa yang akhirnya mereka lakukan setelah semua hal yang tidak menyenangkan menimpa mereka? Kalau jawabannya iya, lihatlah mereka sekarang, adakah rasa malu di hati kalian melihat apa yang terjadi pada mereka sekarang dengan apa yang terjadi pada kalian saat ini? Kalo seandainya jawabannya tidak. Saya tidak tahu lagi harus berkata apa. Tapi kalau jawabannya iya, tidak maukah kalian untuk menjadi seperti mereka? Kalau jawabannya mau, maka berjuanglah. Jangan pernah menyerah dengan segala hambatan yang ada di depan kalian.

Sedikit informasi bagi kita bahwa Derek Redmond adalah seorang pelari asal Inggris yang menciptakan insiden fenomenal di OG Barcelona 1992 hingga berhasil membuat semua orang lupa siapa peraih medali emas sesungguhnya. Ia melekat di pikiran dan tertanam di hati banyak orang berkat mental baja dan kegigihan yang luar biasa untuk menyelesaikan apa yang sudah dimulainya. Dengan kaki tertatih karena menahan sakit yang sungguh amat sangat luar biasa seperti ditembak peluru karena robeknya otot hamstring paha kanannya, ia melanjutkan pertandingannya hingga akhirnya menyentuh garis finish.

Derek tidak hanya pernah gagal di OG Barcelona 1992 tapi juga di OG Seoul 1988 dimana beberapa saat sebelum lomba ia terpaksa harus mengubur keinginannya untuk berlaga akibat cedera. Bahkan demi agar bisa berlaga di OG Barcelona 1992, ia harus menjalani sampai 8 kali operasi demi kesembuhan kakinya dan menggapai impiannya sebagai peraih medali di olimpiade, apapun bentuk, jenis dan warna medalinya. Setelah terkena cedera parah, kalian (baca : adik-adikku pemain bulutangkis pelatnas) tahu apa yang ia lakukan? Ia justru tetap menekuni dunia olahraga dengan menekuni dunia basket. Padahal ia sudah divonis tidak akan bisa lagi berpartisipasi di dunia olahraga akibat parahnya cedera hamstring yang dialaminya. Tapi ia tidak pernah menyerah, ia terlalu mencintai dunia olahraga dan akhirnya ia bisa membuktikan bahwa dengan kemauan yang keras apapun rintangan yang menghadang bisa diterjangnya.

Kalau mau berkaca dari kejadian terbaru, lihatlah Edi Subaktiar, teman kalian. Ia menangis saat mendapati dirinya cedera di tengah pertandingan. Tidak hanya menangis kesakitan tapi menangis karena sedih tidak bisa melanjutkan perjuangan mewakili nama bangsa. Padahal saya yakin di dalam hatinya ia ingin sekali berbuat lebih untuk Indonesia. Lalu bagaimana dengan kalian yang masih sehat walafiat?

Di tengah keleluasaan, kemudahan, kelancaran, kesehatan dan kekuatan yang kalian miliki saat ini, sudahkah kalian berjuang sekuat tenaga hingga titik darah penghabisan hingga kalian benar-benar tidak sanggup lagi seperti yang dilakukan Derek? Apa kalian tidak malu dengan senior-senior kalian di dunia olahraga yang kisahnya lebih sulit dan menyedihkan dari yang kalian miliki? Tidak malukah kalian dengan seorang Liliyana Natsir yang sudah tidak muda dan dirundung cedera masih bisa menunjukkan kemampuan terbaiknya dan menjadi juara, sementara kalian yang sehat walafiat masih memiliki hasil yang tidak jauh lebih baik darinya?

Yang namanya sukses itu sangat butuh perjuangan yang dibarengi dengan kerja keras serta pengorbanan yang sangat tidak sedikit. Semuanya dibutuhkan dalam skala besar, tidak hanya besar tapi sangat besar. Perlu juga diingat bahwa tidak selalu ada kesuksesan dalam percobaan pertama, tapi selalu ada kesuksesan bagi yang tidak berhenti mencoba dan berusaha.

Saya mohon maaf jika kata-kata saya terkesan menggurui, tetapi niat saya adalah hanya ingin memberikan motivasi pada adik-adik saya karena pada dasarnya mereka sebenarnya adalah bagian dari saya, yang sebenarnya ingin tampil membawa nama Indonesia. Jika mereka gagal, maka saya juga ikut gagal. Gagal sebagai kakak dan gagal sebagai pecinta bulutangkis dalam mendukung bulutangkis Indonesia. Sebagai pencinta, bukankah kita harus menyemangati dan memberikan support pada orang yang kita cintai?

Jika saya gagal mewujudkan cita-cita saya sewaktu kecil yaitu menjadi atlet bulutangkis, paling tidak saya tidak ingin gagal menjadi pencinta bulutangkis. Saya ingin sukses sebagai fans dan pencinta bulutangkis, itulah sebabnya kenapa saya tidak pernah menyerah untuk mendukung bulutangkis Indonesia meski banyak kekecewaan yang terasa. Oleh karena itu, jika saya ingin sukses maka saya harus terus mendukung adik-adik saya agar mereka juga bisa sukses. Saya hanya ingin berbagi apa yang ada di dalam pikiran dan hati saya. Saya juga bukan mahluk yang sempurna, saya pun masih dalam proses belajar dan berusaha untuk menjadi lebih baik lagi ke depannya. Mohon maaf yang sebesar-besarnya untuk kata-kata saya yang kurang berkenan di hati semuanya. Salam bulutangkis! (Lily Dian)


Berita Artikel Lainnya