Berita > Artikel

Coach Richard, Butet dan Problema Ganda Campuran

Selasa, 05 September 2017 10:23:07
6554 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Tidak ada kata lain selain luar biasa atas pencapaian Liliyana Natsir (dan juga Tontowi Ahmad tentunya) meraih gelar Juara Dunia 2017. Di tengah keterbatasan gerak karena cedera lutut yang belum sepenuhnya pulih, Butet (Liliyana) bersama Owi (Tontowi) berhasil menyingkirkan segala rintangan untuk meraih gelar juara dunia ganda campuran untuk yang ke empat kalinya.

Bukan perkara yang mudah untuk Butet mempertahankan momentum puncak karir ini dan meraih gelar ke empat kalinya ini setelah meraih puncak karir medali emas Olimpiade Rio 2016 dan hampir semua gelar besar lainnya (kecuali medali emas Asian Games). Terbukti keempat peraih medali emas Olimpide Rio 2016 lainnya semua dalam tren menurun (kecuali Fu Haifeng yang memang sudah pensiun). Belum lagi tantangan dari pasangan-pasangan muda Tiongkok yang berlapis dan menyulitkan. Butet bersama Owi yang juga kini bertransformasi menjadi pengcover lapangan yang handal dan bertambah matang sukses menambah gelar juara dunia dalam koleksi gelar besar mereka.

Pujian pun mengalir deras untuk Butet (khususnya) dan Owi dari para pecinta bulutangkis Indonesia. Namun hampir tidak ada yang memuji keberhasilan orang di balik sukses Butet/Owi ini. Coach Richard Mainaky.

Mempersiapkan Butet baik secara fisik di tengah kendala fisiknya, pasti membutuhkan ekstra pelatihan. Demikian juga mempersiapkan Owi untuk bertransformasi peran menjadi “pelindung” Butet pasti bukan hal yang mudah. Dibutuhkan pemikiran pelatihan yang jeli dan strategi yang tepat. Dibutuhkan usaha/pelatihan yang ekstra dari sang pelatih yang pasti tidak kalah kerasnya dari perjuangan Butet/Owi itu sendiri.

Namun bukan hanya Richard minim pujian tapi juga banyak yang menyebut bahwa seorang Butet adalah sapi perah, korban, dipaksa, terpaksa dan sebutan-sebutan lainnya bahwa Butet seseorang yang patut dikasihani, korban dari ambisi Richard Mainaky meraih gelar. Separah itukah seorang Richard Mainaky?

Banyak para pecinta bulutangkis Tanah Air yang menyayangkan/kasihan kalua Butet masih ingin bermain (di tengah kendala fisiknya). Dan menginginkan Butet pensiun. Sudah cukup pengorbanan Butet katanya.
Konsep seorang Butet adalah seorang korban atau seseorang yang seolah olah dipaksa dan menderita adalah sebuah konsep yang jauh dari tepat.

Butet adalah seorang petarung. Seorang juara sejati. Tidak ada bedanya dengan seorang Lin Dan, Lee Chong Wei ataupun Roger Federer yang juga di tengah kendala cedera mereka dan usia mereka yang menua masih lapar gelar. Masih lapar akan rekor-rekor baru untuk diciptakan. Mereka tidak dapat dihentikan kecuali oleh diri mereka sendiri.

Dan di sisi lain juga, Butet, Lin Dan dkk adalah juga manusia biasa. Gelar juara memberikan mereka materi yang berlimpah. Gelar juara memberikan mereka kejayaan, nama besar, sejarah untuk dikenang dan dibanggakan baik untuk dirinya, keluarga maupun bangsanya. Manusia mana yang tidak menginginkan hal hal seperti ini?

Kembali kepada Butet dan Coach Richard, saya merasa Coach Richard telah diperlakukan tidak fair disini. Keberhasilan Butet dan Owi tidak bisa dilepaskan dari kerja keras Richard. Coach Richard patut mendapat apresiasi kita semua. Hanya apresiasi yang dapat kita berikan. Karena semua gelar dan sejarah yang tercipta adalah milik seorang Butet dan Owi.

Tentu saja Coach Richard juga memiliki kekurangan yang terpampang nyata. Regenerasi penerus Owi/Butet yang tersendat. Namun ini satu hal yang patut kita bedakan permasalahannya dengan berlanjutnya Owi/Butet meneruskan karir mereka.

Saya penganut paham bahwa juara sejati itu sesuatu yang di perjuangkan, direbut, bukan diberikan. Tidak ada jaminan jika Owi/Butet “berkorban” mengundurkan diri lalu karir Praveen Jordan/ Debby Susanto atau yang lainnya langsung melesat. Mungkin iya, tapi mungkin juga tidak. Sama juga seperti jika Lee Chong Wei menyerahkan tahta tunggal putera Malaysia kepada Lee Zii Jia, lalu karir Zii Jia akan melesat. Demikian juga dengan Lin Dan dan Shi Yuqi

Yang menjadi permasalahan disini adalah fokus Richard pada pasangan Owi/Butet dan juga Praveen/Debby, yang memang memerlukan perhatian/ perlakuan khusus. Sehingga bisa dibilang mengabaikan/tidak fokus dengan para pelapisnya.

“Selama di Kudus, pemain lebih banyak berlatih hal teknis. Saya sampai kewalahan meladeni latihan mereka sehingga meminta bantuan Nova (Widianto, asisten pelatih),” ucap Richard jelang Kejuaraan Dunia. Ucapan ini menggambarkan habisnya fokus Richard hanya kepada Owi/Butet dan Ucok/Debby.

Dan ini dipastikan akan terus berlanjut karena Owi/Butet dan Ucok/Debby memiliki target besar menanti AG 2018 tahun depan.

Disinilah peran Kabid Binpres Susy Susanti untuk turun tangan memecahkan persoalan ini, karena ini bukan kesalahan coach Richard semata yang memiliki kemampuan/waktu yang terbatas.

Pemikiran saya, yang paling krusial adalah menambah atau mengganti Asisten Pelatih Ganda Campuran. Tambah pelatih satu lagi, karena sekarang bisa dibilang Richard adalah pelatih khusus Owi/Butet dan Ucok/Debby.
Jika tidak memungkinkan untuk menambah jatah pelatih, ganti Asisten Vita dan Nova dengan asisten pelatih yang kemampuannya mendekati pelatih utama seperti Aryono Miranat dengan Hery IP. Kandidatnya bisa Flandy Limpele, Trikus Harjanto, dan lain-lain.

Masalah tersendatnya regenerasi ganda campuran bisa dibilang juga karena memang lemahnya kemampuan pelapis. Rombak skuad pemain pelapis ganda campuran yang mentok dengan amunisi baru. Ini bisa diambil dari sektor ganda putra/putri. Bisa dicoba dengan memasukan Ricky Karanda Suwardi dan Tiara Rosalia Nuraidah yang permainannya kurang maksimal di tengah persaingan keras ganda putra/putri dunia.

Semoga Kabid Binpres Susy Susanti dapat memecahkan persoalan tersendatnya regenerasi pasangan pelapis Owi/Butet ini dan tetap menjaga kejayaan Indonesia di sektor ganda campuran dunia tanpa terputus. Semoga! (Chico Aura)

Berita Artikel Lainnya