Berita > Artikel

Ketika Ucok Garuk-Garuk Kepala di Lapangan

Senin, 25 September 2017 13:17:23
8660 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

  • Praveen Jordan & Debby Susanto

    ©Badmintonindonesia.org

  • Praveen Jordan & Debby Susanto

    ©Badmintonindonesia.org

Pertama- tama saya ucapkan selamat kepada Kevin Sanjaya Sukamuljo/ Marcus Fernaldi Gideon yang berhasil menjadi juara di Japan Open Superseries 2017. Ini membuktikan bahwa mereka sudah kembali ke tracknya semula, yaitu menjadi juara. Terlepas dari ada beberapa pemain berperingkat 10 besar yang tidak berlaga disini, tidak mengurangi apresiasi saya terhadap kerja keras mereka untuk kembali menjadi juara. Semoga ini bisa menjadi pelecut semangat bagi mereka untuk terus berprestasi lagi seperti yang sempat mereka katakan saat interview setelah pertandingan.

Sepanjang Japan Open Superseries 2017 terlepas dari siapa yang menang dan siapa yang kalah, tercatat satu nama yang selalu tersebut dan menjadi topik pembicaraan hangat bagi teman-teman disini. Siapa lagi kalau bukan Praveen Jordan, yang biasa disapa Ucok. Melihat bagaimana reaksi teman-teman disini dalam menyikapi raihan prestasi Ucok, saya merasa sedikit bergidik. Kenapa? Karena begitu ekstrimnya teman-teman menilai Ucok. Entah itu baik ataupun buruknya. Namun di sisi lain, saya ada merasa bahagia walaupun sedikit. Kenapa? Itu menandakan bahwa kepedulian dan perhatian teman-teman disini padanya sangat besar. Saya sempat membayangkan andai diri saya adalah Ucok. Pasti perasaan saya akan jadi campur aduk nggak karuan. Saya hanya ingin menghimbau, jangan menghujat ataupun menghina tapi berilah kritik yang membangun dengan bahasa yang baik dan tidak berlebihan karena hujatan hanya akan menghasilkan perselisihan tanpa bisa menyelesaikan permasalahan. Alangkah baiknya jika kita bisa memposisikan diri kita di posisi Ucok saat ini. Pasti rasanya nggak enak banget kan?

Bicara mengenai seorang Praveen Jordan, terlepas dari segala kontroversi dan kekurangannya, di mata saya dia tetaplah seorang pemain yang sangat potensial. Saya nggak pernah lupa dengan apa yang saya katakan tentangnya saat dia berlaga di Asian Games Incheon 2014 yang lalu, bahwa dia adalah ‘berlian’ bagi dunia bulutangkis Indonesia. Memang itu terkesan berlebihan bagi teman-teman disini, tapi itu memang benar adanya. Bahkan seorang Gillian Clark pun mengakuinya. Setelah membaca bagaimana reaksi teman-teman disini setelah kegagalannya di babak semifinal Japan Open Superseries kemaren membuat saya membuka lagi file-file lama saya termasuk saat ia berlaga di Asian Games Incheon 2014. Saya juga memutar kembali video pertandingan yang dilakoni Ucok sepanjang setahun terakhir termasuk saat ia berhasil menjadi Juara All England tahun lalu. Saya menontonnya secara berurutan sesuai dengan waktu penyelenggaraannya, mulai dari All England hingga perempat final Japan Open Superseries 2017. Dan saya menemukan hal yang menarik yang terjadi padanya.

Beberapa teman-teman disini sempat menuliskan salah satu kebiasaan Ucok di lapangan adalah kala ia melakukan error secara beruntun maka ia akan mulai menunjukkan gestur garuk-garuk kepala. Ya, itu juga terlihat oleh saya. Tapi kali ini saya ingin membahas apa yang ada dibalik gestur garuk-garuk kepalanya itu. Mungkin pembahasan ini akan cukup panjang. Namun izinkan saya mengutarakannya disini agar kita semua bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi padanya yang kemudian harapan saya adalah dengan tulisan saya ini membuat kita nggak berhenti untuk terus mensupportnya. Tulisan ini adalah murni pendapat saya pribadi yang mungkin bukanlah ahlinya. Tulisan ini hanyalah bentuk dari apa yang saya lihat dan rasakan saat melihat penampilan Ucok. Untuk itu, sebelumnya saya ingin memohon maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan dan pendapat yang kurang tepat menurut yang lain (atau para ahli) di dalam tulisan ini.

Ketika melihat video-video pertandingan Ucok, saya menilai segala hal yang ada padanya. Mulai dari segi teknis hingga non teknis. Secara teknis, Ucok nggak punya masalah yang berarti. Di mata saya, ia menjadi pemain muda potensial dengan kemampuan yang komplit setelah Kevin. Secara non teknis mungkin dari tampilan luar ada kesan buru-buru, tidak siap, ataupun menggebu-gebu yang menjadi faktor munculnya error yang sering dilakukan oleh Ucok. Namun entah kenapa yang terlihat di mata saya itu adalah cover luar yang menutupi rasa takut (khawatir) yang muncul di mata Ucok.

Saya pun juga heran kenapa justru hal itu yang terlihat di mata saya, bukan hal yang lain. Semakin saya melihat video-video pertandingannya, semakin saya berusaha mendalami apa yang sebenarnya ada di dalam benak dan pikiran Ucok ketika bermain. Secara teknis, ia sudah punya segalanya untuk menjadi pemain kelas dunia. Bahkan dengan kemampuannya sebenarnya ia mampu untuk menjadi pemain no. 1 dunia dan saya yakin ia sudah sangat tahu akan hal itu. Masalahnya adalah tidak semua yang ada di hati dan pikiran bisa terwujud sempurna dalam kenyataan. Ketika ia sudah tahu akan hal itu dan menerapkannya di pertandingan selalu terjadi kendala seperti yang sudah kita lihat selama ini. Smes kerasnya selalu nyangkut, pertahanannya yang rapuh, tricky shotnya yang gagal. Ketika kendala-kendala itu datang tanpa henti, ia mulai merasa panik yang ditunjukkan dengan gestur garuk-garuk kepala dan rasa panik itu berubah menjadi rasa takut (khawatir) yang akhirnya membuat penampilannya menjadi tambah nggak sempurna.

Yang saya amati saat sebelum menjadi juara All England, ia menjadi pemain yang sangat percaya diri dan penuh semangat seperti orang yang tidak takut akan apapun serta siap menerjang siapa saja yang menjadi lawannya bahkan ketika akhirnya ia harus gagal sekalipun. Namun ada perubahan setelah ia menjadi juara All England ditambah lagi dengan seringnya ia kalah di babak satu dan babak dua membuatnya terlihat seperti sedang memikirkan banyak hal di dalam kepalanya dan merasakan banyak hal di hatinya yang berujung pada tidak maksimalnya ia untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya yang akhirnya membuatnya bingung harus berbuat apa yang ditunjukkan dengan seringnya ia garuk-garuk kepala dan melihat ke arah pelatih untuk meminta masukan atau instruksi berikutnya.

Ditambah lagi sekarang lawan-lawannya sudah meneliti segala kelebihan dan kekurangannya. Ia takut (khawatir) bahwa ia akan dihadang lagi dan karenanya sang partner, Debby, juga ikut gagal bersamanya. Dengan kondisinya yang seperti ini nggak heran kalau Ucok akhirnya sering menemui kegagalan dan harus puasa gelar selama lebih dari setahun serta masih kesulitan untuk mencari inovasi baru dalam permainannya karena masih sibuk dengan hal-hal yang tidak seharusnya ia pikirkan. Dan karena itu pula akhirnya berpengaruh pada perasaan (mood) nya, tidak hanya dalam bertanding namun juga dalam beraktivitas.

Saya teringat akan pernyataan ibunda Ucok saat acara penerimaan bonus dari PB Djarum atas keberhasilannya menjuarai All England tahun lalu, bahwa Ucok ini ternyata penggemar lagu-lagu Christine Panjaitan. Christine Panjaitan adalah seorang penyanyi yang terkenal di tahun 80-an yang pada saat itu lagu mellow sedang menjadi raja di eranya. Pernyataan yang sangat mengejutkan dari orang terdekatnya yang nggak pernah terpikirkan oleh kita sebelumnya bila mengingat bagaimana penampilannya di atas karpet hijau.

Ketika membaca itu, saya langsung berpikir bahwa anak ini tidak seperti kelihatannya. Mungkin wajah, gestur dan suaranya begitu garang dan sangat laki tapi di ‘dalam’nya ternyata lembut perasaannya. Orang yang menyukai lagu-lagu mellow biasanya adalah orang yang cenderung sensitif dan emosional. Tipe orang-orang seperti ini sangat dikuasai oleh perasaan dalam menjalani hari-harinya yang jika nggak bisa mengontrolnya dengan baik memang selalu berakhir dengan hasil yang tidak konsisten.

Ketika menyadari hal ini saya langsung teringat dengan tulisan saya yang membahas tentang kekalahannya di babak satu Malaysia Open Superseries Premier tahun lalu.
“Seperti yang sudah disampaikan Praveen bahwa mereka belum dapat feel bermain yang enak sehingga berpengaruh terhadap penampilan mereka di lapangan. Ini sama saja dengan kita melakukan sesuatu yang sudah biasa kita lakukan tapi tiba-tiba kita nggak bersemangat melakukannya karena lagi tidak ‘mood’. Feel bermain itu juga merupakan salah satu faktor penting yang berpengaruh pada penampilan seorang pemain. Kalau feelnya tidak dapat maka akan sulit bagi seorang pemain untuk mengembangkan permainannya. Ia juga sulit mengira-ngira, apakah bola itu keluar atau masuk. Mengira-ngira harus seberapa keras ia memukul agar bola tepat jatuh di lapangan lawan dan masuk ataupun sulit dikembalikan lawan, sementara angin di lapangan kondisinya sedang tidak mendukung. Lalu mengira-ngira harus mengeluarkan kekuatan seberapa besar agar bola bisa melewati tipis di depan net lawan. Itu semua berawal dari feel atau rasa. Kalau rasa itu tidak ada maka yang ada permainan akan kacau balau. Mau melalukan apa saja rasanya tidak enak. Begini salah begitu salah. Semuanya jadi serba salah yang kemudian berujung pada kebingungan.”

Saya menghubungkan antara tulisan yang pernah saya tulis di atas dengan tulisan yang saya bahas kali ini. Ternyata apa yang saya perkirakan dan amati tentang Ucok tidak jauh meleset. Hal yang sama juga saya rasakan waktu membaca pernyataan sang pelatih mengenai dirinya yang akan bertemu seorang psikolog. Ternyata apa yang saya duga dan khawatirkan selama ini benar adanya. Jika ini bisa diperbaiki maka tinggal menunggu waktu saja baginya untuk bersinar kembali.

Sepertinya Ucok harus banyak belajar dari Owi bagaimana memaintain mental dan moodnya. Saya yakin teman-teman disini masih ingat bagaimana ‘babak belur’nya Owi, terutama di awal-awal ia berpasangan dengan Liliyana. Tidak hanya di’babak belur’kan oleh lawan tapi juga oleh fans bulutangkis seluruh Indonesia akan penampilan buruknya. Namun kini Owi sudah menunjukkan semangat dan kekuatan mental bajanya yang dengan luar biasa mampu menutup kekurangan Liliyana yang saat ini tengah ditimpa cedera. Owi mendapatkan hasil seperti sekarang bukan dengan tanpa usaha. Ia harus rela kembali ke kehidupan saat ia masih lajang, kembali tinggal di asrama dan baru pulang saat libur latihan. Ia bahkan rela menambah jam latihannya demi meningkatkan performanya di lapangan dan hasilnya bisa kita lihat bahwa ia berhasil menjadi juara olimpiade dan juara dunia untuk kedua kalinya.

Saya melihat ini semua berawal dari tingginya ekspektasi publik padanya setelah menjuarai All England yang bagi pemain Indonesia masih begitu sulit untuk diraih. Makanya tidak heran ketika siapapun yang menjuarai turnamen ini efek timbal baliknya akan luar biasa layaknya seorang juara dunia. Sementara Ucok saat itu masih dalam proses untuk naik ke kelas yang lebih tinggi dan menguatkan dirinya sebagai pemain bulutangkis elit dunia. Efek timbal balik tersebut masih terlalu besar untuknya yang saat itu, bahkan saat inipun ia masih terhitung muda. Mungkin ia merasa sudah memperkirakannya dan siap menerimanya, namun ternyata yang terjadi jauh diluar dugaannya.

Ketika manusia merasa takut, maka akan terjadi kecenderungan untuk ingin menyelesaikan segala sesuatunya dengan cepat agar rasa takut dan khawatir itu bisa segera pergi. Ketika kita ingin menyelesaikan segala sesuatunya dengan cepat itulah yang sering berubah menjadi rasa buru-buru atau tergesa-gesa. Contoh simpelnya bisa kita liat ketika seorang penakut masuk ke dalam bangunan angker, pasti si penakut ini ketika di dalam bangunan angker tersebut sudah berteriak-teriak minta tolong, terus lari terbirit-birit supaya bisa segera keluar kan? Menurut saya itulah yang sedang dialami oleh Ucok. Rasa terburu-buru atau tergesa-gesa dalam melakukan pukulan itu berawal dari rasa takut. Takut (khawatir) akan diserang balik oleh lawan, takut (khawatir) kalau diserang lawan pertahanannya gampang ditembus dan mungkin masih ada rasa takut (khawatir) lainnya yang mungkin hanya ia dan Tuhan yang tahu.

Memang ketika sebelum memulai pertandingan, yang ada dipikirannya adalah hanya berusaha untuk berpikir bagaimana caranya untuk meraih satu demi satu poin. Namun ketika ia mulai panen error maka pemikiran yang saya sebutkan di atas mulai muncul di dalam pikirannya. Entah kenapa itu yang saya rasakan sepanjang saya menonton video pertandingannya, terutama saat ia mengalami kekalahan. Mungkin ini hanya perasaan saya saja. Semoga saja saya memang salah. Sebenarnya saya tidak ingin ia merasakan hal itu karena itu bisa menghambat kemajuan karir dan prestasinya nanti.

Saya mencoba berpikir positif dari 2 minggu yang Ucok lalui kali ini. Ada baiknya juga ketika Owi/Liliyana absen dari sebuah turnamen. Ini memberikan kesempatan juga ujian bagi Ucok tentang bagaimana ia menyikapi dan bertindak ketika ia menjadi harapan untuk meraih gelar juara. Ujian pertama di Korea Open Superseries menjadi langkah awal pembuktiannya. Ia berhasil menjadi juara. Menjadi semifinalis Japan Open Superseries juga bukan merupakan pencapaian yang buruk. Menurut saya, Ucok sudah cukup berhasil melewati ujian ini. Dan jangan lupakan juga bahwa saat Ucok/Debby menjuarai All England 2016, mereka menjadi satu-satunya wakil di semifinal hingga akhirnya mampu melangkah ke final dan menjadi juara. Dari sini saja kita bisa melihat bahwa ia sebenarnya punya kemampuan dalam melewati ujian ini.

Jadi sebenarnya kamu itu mampu, Cok! Kamu sebenarnya mampu melalui ini semua. Toh, cepat atau lambat kondisi yang sama akan hadir lagi. Jadi hal ini baru pemanasan saja. Saya berharap raihan ini bisa menjadi batu loncatan dan pemicu semangat baginya bahwa ia mampu, bahwa ia bisa berprestasi lagi, bahwa ia, seperti kata beberapa teman disini, adalah aset dan masih sangat potensial. He’s a still a diamond. Even in the mud, diamond is still a diamond.

Secara teknis, Ucok nggak butuh banyak perbaikan. Yang ia butuhkan hanyalah timing dan daya tahan. Daya tahan disini saya maksudkan bukan hanya sekedar daya tahan tubuh saja, tapi lebih kepada daya tahan pikiran dan mental (kesabaran) dalam meladeni permainan lawan. Terkadang lawan menerapkan skema permainan yang sulit dibongkar atau dicari celah untuk mematikannya. Disinilah Ucok harus bisa memanage diri untuk bisa memiliki daya tahan lebih agar nanti ia bisa mengurangi error yang keluar dari tangannya.

Timing disini yang saya maksudkan adalah ia harus tahu kapan harus full menyerang serta kapan harus menahan serangan dan melakukan variasi permainan terlebih dahulu. Ia juga harus belajar kapan saat yang tepat menggunakan tricky shotnya agar ketika pukulan tersebut keluar akan menghasilkan poin juga decak kagum bagi yang melihatnya. Ingatlah saat kamu berhasil menjuarai All England 2016 dulu, Cok! Saat itu kamu justru menjadi juara bukan karena sumbangan smes kamu tapi justru dengan variasi pukulan kamu yang membuat mereka mati kutu. Kamu itu sebenarnya pemain yang komplit yang punya banyak senjata andalan, Cok! So, jangan hanya gunakan satu senjata saja tapi gunakan semua senjata andalanmu agar kamu bisa kembali jadi juara.

Secara non teknis menurut saya yang paling Ucok butuhkan saat ini adalah ketenangan dan kesabaran serta support dari semua pihak. Dengan ketenangan ia bisa instrospeksi dan memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik. Dengan kesabaran ia bisa tahan dan kuat menghadapi segala hal yang tidak menyenangkan yang tidak sesuai dengan yang ia inginkan. Dan dengan support yang besar padanya, ia bisa menjadi lebih berani untuk bangkit dan melawan segala hal yang menghalangi jalannya. Saya berharap siapapun yang menjadi pasangannya usai Debby pensiun nanti, haruslah orang yang sabar dan bisa memotivasinya yang menjadi syarat utamanya karena seperti yang pernah saya katakan di tulisan-tulisan saya sebelumnya bahwa Ucok butuh pasangan yang punya ambisi, visi dan determinasi untuk bisa memotivasinya.

Selain itu saya ingin dan berharap Ucok bisa berpikir sederhana saja. Yang penting bolanya melewati net dan jatuh ke lapangan lawan dan dinyatakan masuk, Itu saja. Saya tidak ingin mengubah karakteristik pribadinya karena saya menghargainya. Saya cuma ingin dan berharap dia tidak perlu memikirkan hal-hal yang ribet karena jika ia mulai memikirkan hal-hal lain yang meribetkan pikirannya, maka kebingungan akan mulai melanda dirinya yang kemudian berujung pada rasa takut (khawatir) tadi akan mulai hadir kembali, yang mengacaukan mood bermainnya yang mengakibatkan penyakit error nggak terhindarkan untuk muncul dari tangannya.

Terlepas dari masalah psikologis yang dialami Ucok, situasi yang berbanding terbalik terjadi kepada Debby. Sejak menjadi juara All England 2016 kemampuan Debby sebagai playmaker semakin hari semakin membaik dan meningkat pesat. Dengan kemampuan yang ia miliki saat ini, menurut saya ia sudah mampu berdiri sejajar dengan Liliyana. Menyamai pencapaian dan kemampuan seorang Liliyana memang nggak mudah, tapi paling nggak kemampuan yang Debby miliki saat ini sudah cukup untuk bisa meraih prestasi yang lebih tinggi lagi. Ia sudah lebih cepat dan lebih lihai dalam mengawal permainan di bagian depan lapangan. Masukan buat Debby hanyalah bagaimana ia harus berusaha untuk mengontrol permainan di depan net agar tidak mudah terbawa oleh permainan lawan. Mudah-mudahan dengan peningkatan yang dialami Debby bisa menjadi motivasi buat Ucok untuk tidak mau kalah dari sang partner dalam meningkatkan semangat, kepercayaan diri serta kekuatan mentalnya agar apa yang sudah diusahakan sang partner tidak sia-sia.

Melawan rasa takut memang bukan hal yang mudah. Butuh keberanian dan kesabaran yang super besar untuk bisa menaklukannya. Setiap orang punya kesulitan dan ketakutannya tersendiri. Bahkan dengan objek yang sama, setiap orang punya kekhawatiran dari sisi yang berbeda. Masalah psikologis ini tidak bisa kita lihat dengan mata kepala. Butuh kejelian lewat mata hati untuk bisa merasakannya dan untuk menyelesaikannya juga butuh pendekatan dengan hati, apalagi Ucok adalah tipe yang sensitif. Sangat butuh kehati-hatian dalam menyembuhkan masalah mentalnya agar ia nggak lebih terpuruk lagi.

Saya berharap janganlah ada lagi yang menghujatnya. Tidak hanya kepada Ucok tapi juga kepada pemain lain yang masih belum dinaungi keberhasilan. Meski ada yang berlatih seadanya, namun jangan pernah lupa kepada mereka yang sudah berlatih dan bekerja keras setiap harinya. Alat pengaman, plester ataupun perban yang menempel di tubuh mereka bukanlah aksesori semata, tetapi itu adalah bentuk dari kerja keras mereka dalam memberikan yang terbaik untuk bangsa dan negara. Kalaupun kita tidak bisa memuji mereka, paling tidak hargailah usaha mereka. Toh, kalau kita di posisi mereka belum tentu kita bisa memperoleh hasil seperti yang mereka raih sekarang. Saya pribadi saja belum tentu bisa menjadi juara All England, meraih perunggu Asian games dan emas SEA GAMES jika saya menjadi seorang atlet bulutangkis seperti cita-cita saya di waktu kecil. Di usia saya saat ini saja saya merasa belum bisa memberikan apapun kepada Indonesia, tapi mereka yang berusia lebih muda dari saya sudah bisa memberikan sesuatu untuk negara.

Saya ingin berpesan pada Ucok. Lawan dan kalahkan segala kekhawatiran dan ketakutan yang ada pada dirimu. Kamu bukan pemain biasa, tapi kamu adalah pemain yang luar biasa. Kamu sangat potensial dengan segala kemampuan yang kamu miliki yang nggak semua orang memilikinya. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan dan tidak ada yang seharusnya kamu takutkan. Buatlah mereka, yang berusaha menghalangi jalanmu, takut dengan kemampuanmu. Tunjukkan pada mereka bahwa kamu berani dan siap untuk bertarung melawan siapa saja. Tetap tenang dan sabar dalam menghadapi segala halangan dan rintangan. Tidak ada kesempurnaan dalam mencapai keberhasilan pada percobaan pertama, tapi selalu ada kesuksesan bagi yang tidak pernah berhenti berusaha dan mencoba (untuk mengalahkan rasa takut).

So, berusahalah, Cok! Kamu pasti bisa! Pesan yang sama juga saya tujukan untuk adik-adik saya di Pelatnas. Tetap semangat buat semuanya dan Get well soon, Ricky! (Lily Dian)

Berita Artikel Lainnya