Berita > Artikel > Wawancara

Hendry Saputra Blak-Blakan Bicara Atletnya

Rabu, 27 September 2017 17:21:47
5265 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Kejuaraan bulutangkis Korea Open Super Series 2017 menjadi catatan manis bagi atlet tunggal putra Indonesia. Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie dua andalan tunggal putra Indonesia sukses menciptakan laga “All Indonesian Final”. Dan Anthony akhirnya menjadi kampiun setelah meraih kemenangan usai laga rubber game 21-13, 19-21 dan 22-20.

Berikut petikan wawancara Badmintonindonesia.org bersama Hendry Saputra, Kepala Pelatih Tunggal Putra PBSI mengenai raihan prestasi ini dan seputar tim tunggal putra pelatnas.

Selamat, coach Hendry atas capaian di Korea Open. Kalau boleh tahu, apa resepnya?

Terima kasih, kalau ditanya resep sih tidak ada ya, tetapi kalau target ada. Saya rasa hampir semua pelatih punya pemikiran yang sama, kalau hasil itu tergantung dari persiapan. Kedua, motivasi dan ambisi atlet untuk bisa berprestasi. Sampai bisa all Indonesian final, itu berkat dari Tuhan.

Sebetulnya saya sudah lihat benihnya dari satu-dua tahun lalu. Tetapi karena ketatnya persaingan pemain muda dan banyak pemain senior yang masih aktif, ya nggak segampang itu.
Waktu melihat undian di Korea Open, saya pikir ada kemungkinan memenuhi target semifinal atau final, tetapi tidak terlintas bisa sampai all Indonesian final. Walaupun saya punya motivasi untuk itu, tetapi semua tergantung atletnya.

Kekuatan sekarang makin merata, tidak ada yang bisa bilang si A si B pasti menang. Ketinggalan atau leading pun, berbagai kemungkian bisa terjadi. Dari perjalananan babak pertama, saya bisa melihat. Kondisi fisik mereka dari Jakarta cukup bagus, dari segi teknik, saya nggak pernah khawatir, yang khawatir itu kalau unforced errors, mati-mati sendiri. Penyebabnya banyak faktor, bisa dari segi mental, atau feeling, atau banyak hal non teknis lainnya.

Untuk ukuran pemain muda seperti Jonatan, Ginting dan Ihsan (Maulana Mustofa), tidak mudah menghadapi hal ini. pemain dunia saja bisa kena.

Bicara soal persiapan, boleh diceritakan persiapannya seperti apa?

Hasil evaluasi dari beberapa pertandingan sebelumnya, salah satu penyebab kekalahan adalah soal fisik. Kami telusuri lagi, bagaimana ketahanan, endurance mereka? Kami sudah pelajari itu dan dari Beep Test hasilnya di angka 14-15, ini sudah termasuk bagus. Bahkan Ihsan bisa sampai lebih dari 15.

Dari segi teknik pun sudah oke. Misalnya dari permainan di depan net, dulu tidak ada variasinya. Kalau dari belakang, baseline, yang dulu nggak loncat, nggak bisa gunakan serangan, sekarang ada variasinya dan ada serangannya. Contohnya seperti itu.

Sebelum berangkat ke Korea, Jonatan dan Ginting bercerita kalau beep test dilakukan sampai berkali-kali?

Memang sengaja seperti itu. 10-12 hari sekali kami lakukan Beep Test, supaya terukur konsistensi endurance sekaligus cek komitmen atlet dalam persiapan seperti apa.

Dalam perjalanan ke final, Ginting mengalahkan Son Wan Ho (Korea), yang merupakan pemain rangking satu dunia? Apakah anda terkejut dengan hasil ini?

Saya nggak kaget Ginting bisa menang dari Son Wan Ho. Karena saya lihat persiapannya, dari tipe main pun saya optimis. Saya berani bandingkan dengan penampilan Ginting waktu melawan (Viktor) Axelsen di Piala Sudirman 2017. Axelsen lebih komplit, Son Wan Ho lebih matang. Ginting punya speed power dan endurance sudah lebih baik. Sikapnya waktu bertanding pun bagus, tenang dan cara mainnya tepat, jadi saya tidak kaget dia bisa mengalahkan Son Wan Ho.

Ginting dan Jonatan akhirnya berjumpa di final, apa komentar anda mengenai pertarungan mereka?

Dua-duanya tampil oke, mereka punya strategi masing-masing, mereka sudah bertahun-tahun latihan bersama. Bahkan kita lihat sendiri, sampai bertarung tiga game dengan setting, tidak bisa dielakkan. Tetapi, dari pertama sampai akhir, ada kesamaannya, mati sendirinya masih gampang, mereka kompak banget mati-mati sendiri.

Saat di pertandingan itu keduanya sama-sama ngotot mau menang, apa pendapat anda?

Ada dua hal yang akan didapat si pemenang, pride dan prize (money). Dari segi pride tentu titel sang juara dan rangking poin yang didapat lebih banyak. Dari segi prize money, dua angka saat adu setting itu menentukan selisih ratusan juta, sudah bagus mereka tidak pukul-pukulan, ha ha ha, ini hanya perumpamaan saja lho. Yang pasti keduanya sama-sama ngotot ingin menang demi gelar super series pertama.

Apa pesan anda sebelum mereka masuk ke lapangan?

Saya bilang, fight saja, terserah siapa yang menang. Tetapi satu pesan saya, saya mau tim tunggal putra tetap kompak, tetap solid. Di dalam pertandingan memang harus ada yang menang dan kalah.

Saya sudah monitor dan sudah sepakat kalau saling bertemu satu sama lain. Dan hal ini sudah sering terjadi dimana Jonatan ketemu Ihsan, Ihsan ketemu Ginting, saya sudah warning dari awal, kita semua profesional.

Apa senjata utama Ginting dan Jonatan menurut anda?

Hampir mirip-mirip, hanya tipikal main yang beda. Ginting bisa kita lihat footwork nya, kelincahan dan kecepatannya bagus, dia bisa mengontrol dan menyerang dengan agresif. Kalau Jonatan cenderung reli mengontrol.

Apa keunggulan Ginting dalam laga final sehingga ia bisa memenangkan duel tersebut?

Menurut saya, pemenangnya adalah siapa yang memutuskan untuk menyerang di saat last minute. Di dua poin itulah keputusan harus diambil. Ginting yang memutuskan untuk menyerang.

Kalau dari segi karakter bagaimana menurut anda?

Perbedaan kepribadiannya sih nggak terlalu jauh, tetapi justru teknik mainnya yang beda. Ginting dan Jonatan sudah punya karakter standard pemain dunia seperti disiplin, komitmennya, sikapnya, pola pikir dan tutur bahasanya. Saya lihat cukup oke.

Setelah pertandingan final, apa yang anda sampaikan kepada Ginting dan Jonatan?

Ini ujian pertama dan mereka lulus, di stage pertama ya. Dari persiapan kita, kalian bisa menciptakan all Indonesian final. Saya baca-baca, katanya sudah delapan tahun belum pernah all Indonesian final tunggal putra di level super series, paling tidak kalian telah membuat tim tunggal putra punya harapan kedepannya, bukan cuma untuk kalian, tetapi untuk PBSI, untuk Indonesia dan untuk regenerasi pemain-pemain yang lebih muda. Lulus tapi tetap ada catatan, harus lebih percaya diri. Di Jepang (Terbuka), coba semaksimal mungkin, sampai kamu sudah tidak sanggup lagi.

Menurut coach Hendry, apakah di usia mereka, mental Ginting dan Jonatan bisa dibilang bagus?

Mereka sudah pernah mengalahkan pemain-pemain dunia, tapi belum stabil, karena faktor umur. Dari tahun 2015-2017 sudah cukup banyak kemajuan, ya walaupun level kematangan kalau dibandingkan dengan Lee Chong Wei, Lin Dan, Chen Long, masih perlu waktu. Berapa lama? tergantung atletnya, seberapa dia mau? Ilmu sehebat apapun susah kalau atletnya nggak punya kemauan.

Bagaimana cara coach Hendry memoles mental mereka?

Mental datang dari cara berpikirnya. Kembali lagi ke persiapan, kalau persiapan bagus, dia akan positive thinking selama pertandingan. Kami jelaskan ke mereka, latihan sudah bagus, cara pikirnya juga bagus, tunjukan hasil latihanmu. Ini nggak gampang untuk mengarahkan mereka tidak berpikir negatif. Di Korea saya perhatikan kekuatan mentalnya ada kemajuan, dari mana? Saya lihat fighting spirit nya, daya juangnya, body language terlihat, contohnya teriak di lapangan, ini ada pengaruhnya dengan mental.

Apa yang terjadi di Jepang Terbuka?

Lelah pasti ada, tetapi saya tidak mau masuk ke ranah ini. Ikut dua turnamen, yang kedua pasti capek, saya bilang ke mereka, jangan kasih saya alasan yang sudah jelas jawabannya. Misalnya es itu dingin, sudah tahu dingin, jadi jangan ditanya lagi apakah es itu dingin? Main di Jepang habis dari Korea pasti capek, daya tahannya, kecepatan, fokus, feelingnya, footwork nya, nggak sama. Sedangkan yang lain, sudah berambisi untuk mengalahkan pemain kita.

Di Jepang saya lihat mereka sudah berusaha, Jonatan lawan Kenta (Nishimoto – Jepang) sudah leading, sudah setting, ya standard mereka belum kualitas tinggi untuk back to back turnamen, masih perlu waktu.

Dari tiga pemain tunggal, sekarang Ginting dan Jonatan sudah menapaki final level super series, bagaimana dengan Ihsan yang kini sedang cedera?

Sampai sekarang di benak saya, Ihsan juga merupakan pemain yang saya harapkan. Bertiga tetap harus solid. Kalau cedera, itu diluar kuasa saya. sepulang dari Jepang, saya akan cek cedera otot perutnya. Saya sudah diskusi dengan Ihsan via whatsapp mengenai rencana saya setelah dia pulih supaya dia bisa kembali seperti yang dulu. Saya yakin dengan kelas permainan seperti Ihsan, saya tidak perlu khawatir. Target saya mengembalikan tiga andalan di tunggal putra, ini bagian dari persiapan pra kualifikasi Thomas Cup tahun depan.

Kenapa anda memilih mereka untuk maju bertiga?

Supaya timnya kuat. Saya rasa pemain manapun kalau berjuang sendirian pasti ada beban, kecuali level Lin Dan, Lee Chong Wei. Kalau pemain-pemainnya sudah matang, dua itu lebih dari cukup. Namun pemain-pemain muda ini masih belum matang. Tahun depan kan ada Asian Games beregu, ada Thomas Cup, kita harus punya tiga tunggal putra yang kuat. No excuse, sekuat tenaga akan saya usahakan.

Ginting, Jonatan dan Ihsan saling bersaing, siapa yang paling menonjol diantara mereka?

Saya rasa fair saja, malah bodoh kalau dia tidak punya ambisi. Memang kalau teman, sahabat, nggak boleh bersaing? Ha ha ha.
Soal disiplin latihan, tiga-tiganya oke, kalau enggak, mana mungkin saya pilih yang tiga ini. Siapa yang telat latihan, siapa yang datang paling awal, ya ganti-gantian, nggak ada yang menonjol paling telat atau paling awal. Mereka on time kok, untuk ukuran saya, sudah oke. Awalnya harus datang dari saya sebagai pelatih, harus fair, mesti profesional. Saya jelaskan ke mereka, di persaingan kalian, akan ada yang menang dan kalah, mereka sudah tahu konsekuensinya, sampai sekarang akur-akur saja kok.

Ada tradisi unik di tim tunggal putra?

Kalau berangkat ke turnamen bertiga, yang menang harus traktir yang kalah, yang bertahan sampai babak paling akhir, dia yang harus bayar makan bertiga, termasuk saya.

Dua atau tiga bulan sekali, kami juga pergi jalan-jalan atau makan bersama. Kalau ada yang ulang tahun, kami juga makan-makan, gabungkan dengan uang kas kami.

Ada rumor yang mengatakan anda tidak mengizinkan anak didik anda pacaran, apa pendapat anda, coach?

Balik lagi ke mereka, mereka kan punya ambisi. Salah satu syarat dari saya untuk memenuhi ambisi itu buat saya adalah nggak boleh pacaran dulu. Kalau kayak Susy (Susanti) dan Alan (Budikusuma), mereka sudah juara, dan sudah jadi pemain yang matang.

Saya bilang, kamu masih muda dan belum matang, saya tahu itu. Itu pun kalau kamu mau ikut aturan saya, kalau tidak mau ya saya anggap kamu tidak berkomitmen. Kalau sudah juara dunia, saya izinkan, karena apa? pasti sudah matang.

Saya juga bilang, jangan takut sama saya soal pacaran, harus komitmen sama diri sendiri, saya ini cuma membantu. Kalau waktu saya masuk si atletnya sudah punya pacar ya saya nggak bisa larang, tetapi kalau ada yang tanya ke saya, saya tidak mau mereka pacaran dulu.

Jadi sekarang anak tunggal putra tidak ada yang pacaran?

Saya nggak tahu, tetapi kalau dia melanggar, ya saya anggap dia tidak berkomitmen. Saya kerja tidak setengah-setengah, saya dibayar di PBSI sampai tujuan mereka semua tercapai.
Menurut saya pasti mengganggu konsentrasi, kalau buat atletnya sih ya enjoy. Itu soal trust ke saya. tujuannya jelas, bukannya atletnya sampai umur 30 tahun nggak boleh pacaran, ya kan nggak begitu juga. Tergantung, si atletnya itu sendiri. kamu tujuan pacaran untuk apa? senang-senang? Tentu ada pengorbanan yang harus dibayar, apa mau kejar setoran? Saya bukan orangtua kamu, masa iya saya sebegini jahat melarang kamu pacaran? Harusnya mereka mengerti maksud saya.

Mungkin ada yang berpendapat, wah koh Hendry kuno, kolot. Tidak apa-apa, ini kan tim saya. selama anak itu menerima saya, nggak apa-apa, yang lainnya tidak jadi masalah buat saya.

Tim tunggal putra sekarang makin banyak digandrungi fans, bagaimana anda memandang hal ini?

Ini adalah sebab-akibat, dulu nggak dikenal sekarang sudah ada yang kenal. Mereka mesti siap hadapi ini. Saya bilang, kamu pikir setelah dikenal orang, nggak ada ujian lain? Bintang film aja ada yang sudah terkenal sampai kesal karena tidak punya privasi, diikuti paparazi dan sebagainya.

Yang penting bahasa mereka di depan publik atau di media jangan sampai jadi bumerang buat mereka sendiri.

Bagaimana komentar anda mengenai atlet yang dibully?

Saya nggak pernah baca-baca mengenai ini, tapi saya tahu ada pemain saya yang dibully. Saya tanya ke mereka, kalau nggak kuat ya kenapa dibaca? Kalau mau baca, bagus untuk introspeksi, berarti kamu masih ada yang kurang. Tetapi sampai di situ ya sudah, jangan dibaca-baca lagi. Kalau baca tapi nggak terima, ya bagaimana?

Kalau bisa tahan ya baca, kalau nggak bisa ya jangan baca. Nggak kuat dibully, tapi buka sosmed terus. Ya nggak bisa begitu, dong.

Dihina, dibully orang, bisa dijadikan motivasi, supaya bisa bangkit. Misalnya sudah over pujian, jangan terbuai. Ada saatnya mereka mesti disanjung, ya nikmati saja, you mesti enjoy, itu anugerah, tetapi mesti ada kontrol.

Orang cenderung maunya disanjung, tapi kalau nggak bisa kontrol bagaimana? Dia berpikir nggak akan pernah ‘jatuh’? Pemain mana yang nggak pernah ‘jatuh’?

Apa rencana anda ke depannya?

Mereka pemain muda, pembinaannya nggak gampang. Masih labil, belum stabil. Ada pemain muda yang matang? Ada. Tetapi untuk karakter, mental, nggak gampang, perlu pembinaan terus. Saya akan tempa terus.

Saya tahu benar lah mereka belum matang. Saya selalu bilang, saya tahu benar kamu, nggak ngomong aja saya tahu. Kalau mereka bohong, saya tahu, mungkin cuma kalau mereka ke WC ngapain, baru saya nggak tahu. Kalau di lapangan, kondisi mereka gimana, saya tahu, saya sudah melatih hampir 30 tahun. Tetapi kadang saya pura-pura tidak tahu, saya mau lihat apakah mereka jujur sama saya atau tidak. (*)

Berita Wawancara Lainnya