Berita > Artikel > Pariwara

Fokus

Sabtu, 21 Oktober 2017 10:07:41
840 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Bintang bulutangkis tunggal putri Thailand, Ratchanok Intanon begitu sumringah saat naik ke podium juara di ajang BWF World Junior Championships 2011 di Taipei. Itulah gelar ketiga beruntun yang diraih Intanon.

Di laga final Intanon harus kerja keras untuk mengalahkan andalan Indonesia, Elyzabeth Purwaningtyas 21-6, 18-21, 21-13. Sebelumnya di semifinal Intanon menang lawan Nozomi Okuhara (Jepang) 21-16, 21-16. Sedangkan Elyzabeth menggusur Carolina Marin (Spanyol) 23-21, 17-21, 21-18.

Dalam perjalanan beberapa tahun berikutnya, Intanon, Carolina, serta Okuhara telah menjelma menjadi penguasa di sektor tunggal putri. Silih berganti gelar bergengsi mereka raih, termasuk menduduki peringkat 1 dunia sudah pernah dicicipi ketiganya.

Pertanyaan berikutnya, kemana gerangan Elyzabeth? Selepas meraih posisi runner up Kejuaraan Dunia Yunior 2011, kiprahnya justru menjadi antiklimaks. Ia tertinggal jauh oleh tiga pesaingnya yang enam tahun lalu sama-sama satu podium dengannya. Podium itu justru seperti menjadi yang pertama dan terakhir buat Elyzabeth.

Elizbeth tentu tak bersalah. Kontinuitas pembinaan di PBSI itulah yang justru seperti tak terlihat. Ketika ada bibit bagus yang menonjol di ajang selevel Kejuaraan Dunia Yunior, selayaknya PBSI lebih fokus untuk membina pemain tersebut. Itulah yang dilakukan Thailand, Spanyol, dan Jepang dalam menjaga performa Intanon, Carolina dan Okuhara.

Siapapun tahu minimnya kesempatan bertanding tentu akan berbanding lurus dengan buruknya prestasi. Andai saja selepas penampilan di Taipei, Elyzabeth mendapat penanganan khusus mungkin ceritanya akan berbeda saat ini.

Tahun 2016 lalu saat event yang sama di Bilbao, Spanyol, pemain tunggal putra Indonesia, Chico Aura Dwi Wardoyo juga naik podium sebagai runner up usai kalah dari Sun Feixiang (Tiongkok) di laga final.

Namun selepas penampilan gemilangnya di Bilbao, gelagat nasib yang dialami Elyzabeth bisa terjadi pada Chico. Nyaris tak ada follow up untuk mengasah pemain yang satu ini untuk lebih tajam dan berkembang lagi. Tergambar dari minimnya agenda turnamen yang diikutinya sepanjang 2017 yang hanya lima turnamen.

Bandingkan dengan Intanon sebelum bertarung melawan Elyzabeth pada final 2011, dalam usia yang saat itu baru 16 tahun Intanon sudah mengikuti 18 turnamen internasional, sedangkan Elyzabeth yang dua tahun lebih tua hanya main di empat turnamen internasional.

Apakah ini pertanda bahwa kita masih menganggap prestasi di Kejuaraan Dunia Yunior hanya biasa-biasa saja. Padahal, sudah terlalu banyak contoh pemain besar yang lahir dengan mengawalinya dari sukses di Kejuaraan Dunia Yunior.

Demikian sorotan majalah Bulutangkis Indonesia Edisi 27, Tahun III, Oktober 2017 dalam kolom Salam Bulutangkis yang ditulis Daryadi, Pemimpin Redaksi Majalah Bulutangkis Indonesia. Tulisan ringan menyambut Kejuaraan Dunia Yunior 2017 (BWF World Junior Championships 2017) yang kini tengah berlangsung di GOR Among Rogo, Yogyakarta.

Ajang BWF World Junior Championships 2017 yang berlangsung di Kota Gudeg menjadi Laporan Utama Bulutangkis Indonesia di bulan Oktober ini. Ada 7 tulisan yang mengangkat ajang para atlet bulutangkis masa depan ini. Rasanya penggemar bulutangkis Tanah Air patut mengikutinya agar selalu update perihal bintang-bintang bulutangkis muda yang kelak meramaikan bulutangkis dunia.

Cerita tak menggembirakan Elyzabeth Purwaningtyas memang tak mengenakkan bila melihat bintang-bintang bulutangkis saat ini banyak yang merupakan para alumni Kejuaraan Dunia Yunior. Siapa saja mereka yang menghiasi lembaran prestasi emas bulutangkis dunia? Simak siapa-siapa mereka di Bulutangkis Indonesia edisi Oktober.

Banyak lagi cerita-cerita seputar bulutangkis lainnya yang bisa disimak di Bulutangkis Indonesia kali ini. Ada info Nitya Krishinda Maheswari yang tak sabar lagi beraksi. Rian Agung Saputro usai menikah kebut punya momongan. Seperti biasa ada teka teki bulutangkis. Kali ini yang kanget dengan Anthony Ginting bisa mendapat bonus poster buat di dinding kamar. (*)

Majalah BULUTANGKIS INDONESIA
Alamat redaksi:
Grand Depok City
Sektor Melati Blok D1 No.5
Depok 16413
Telp/fax: (021) 8760254
Email: majalahbulutangkisindonesia@gmail.com

Info berlangganan :
WA : 0817-734-835
Line : majalahbulutangkis

Berita Pariwara Lainnya