Berita > Artikel

Tradisi Ciamik Ganda Campuran Indonesia di WJC

Senin, 23 Oktober 2017 08:09:43
3109 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

  • Rinov Rivaldy & Phita Haningtyas Mentari

    M. Sholeh ©Bulutangkis.com

  • Rehan Naufal Kusharjanto & Siti Fadia

    M. Sholeh ©Bulutangkis.com

  • Rehan Naufal Kusharjanto & Siti Fadia

    M. Sholeh ©Bulutangkis.com

  • Rinov Rivaldy & Phita Haningtyas Mentari

    M. Sholeh ©Bulutangkis.com

Indonesia tidak pernah kehilangan potensi di nomor ganda campuran. Terbukti, dua wakil Merah Putih berhasil melaju ke final Kejuaraan Dunia Junior (WJC) 2017, sekaligus memastikan gelar juara untuk Indonesia.

Di GOR Amongrogo, Yogyakarta, hari Minggu (22/10), Rinov Rivaldy/ Phita Haningtyas Mentari akhirnya keluar sebagai juara usai mengalahkan adik tingkatnya, Rehan Naufal Kushardjanto/ Siti Fadia Silva Ramadhanti.

Dua pasangan Indonesia itu seakan mengulangi kesuksesan senior mereka di WJC 2012. Saat itu, pasangan Edi Subaktiar/ Melati Daeva Oktavianti berhasil memenangi duel perebutan medali emas melawan kompatriotnya, Alfian Eko Prasetya/ Shella Devi Aulia.

Setahun sebelumnya, tepatnya tahun 2011 di Taipei, juga tersaji duel sesama Indonesia antara Alfian Eko Prasetya/ Gloria Emmanuelle Widjaja melawan Ronald Alexander/ Tiara Rosalia Nuraidah.

Meski tidak selalu menjadi juara, skuad ganda campuran Indonesia hampir selalu menorehkan prestasi ciamik di WJC. Tahun 2013 dan 2014 Indonesia merebut medali perak lewat pasangan Kevin Sanjaya Sukamuljo/ Masita Mahmudin dan Muhammad Rian Ardianto/ Rosyita Eka Putri Sari. Sedangkan di tahun 2015 Indonesia kebagian medali perunggu melalui pasangan Fachriza Abimanyu/ Apriyani Rahayu.

“Selama ini sektor ganda campuran Indonesia memang selalu memberikan hasil terbaik di WJC. Meskipun tidak selalu juara, mereka tidak pernah tampil mengecewakan,” kata pelatih ganda campuran, Nova Widianto.

“Kita bersyukur kualitas atlet ganda campuran Indonesia menjanjikan. Itu semua berawal dari proses pembinaan yang baik di klub,” lanjutnya.

Kendati mentereng di kelas junior, prestasi atlet ganda campuran Indonesia seakan tersendat ketika mulai menginjak level senior. Para juara WJC edisi dulu belum bisa mencapai level tertinggi, sehingga Indonesia masih harus mengandalkan sosok lawas Tontowi Ahmad/ Liliyana Natsir hingga saat ini.

Mengenai hal ini, Nova berpendapat bahwa faktor dari dalam diri atlet sangat menentukan keberhasilan mereka untuk bisa terus konsisten hingga ke level tertinggi. Menurutnya, para atlet junior tidak boleh cepat puas karena masih banyak kejuaraan prestisius menunggu di depan.

“Atlet junior ini harus mengubah pola pikir mereka. Harus memiliki karakter juara. Meskipun punya bakat yang bagus, kalau tidak diimbangi mental juara, pastinya akan berat,” ungkap juara dunia dua kali itu.

“Mereka juga harus bisa memilih makanan dengan bijak. Banyak makanan enak, tapi tidak semua baik untuk mereka,” tambah suami dari Eny Widyowati, yang juga mantan pemain nasional itu.

Lebih lanjut, Nova juga setuju program rangkap untuk para pemain junior. Selagi masih muda, pemain junior perlu bermain di dua nomor untuk memaksimalkan kemampuan yang mereka memiliki.

“Sampai tahu arahnya di level senior, para atlet junior ini perlu bermain rangkap. Tapi, mereka juga harus memiliki pola pikir yang sama baik di nomor campuran maupun di ganda. Harus ada koordinasi yang baik antar pelatih dan juga kemauan yang kuat dari si atlet,” tutur Nova.

“Untungnya Binpres dan para pelatih di Pelatnas sangat mendukung program rangkap untuk pemain junior,” lanjutnya.

Sementara itu, terkait hasil final pada hari ini, Nova menyerahkan semuanya kepada para pemain. Ia berharap kedua pasangan sama-sama menampilkan permainan terbaik.

“Tidak melihat senior junior. Saya rasa mental yang akan berbicara,” tandas Nova. (jhs)

Berita Artikel Lainnya