Berita > Artikel

Regenerasi

Selasa, 24 Oktober 2017 08:12:08
2478 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

  • Greysia Polii & Apriani Rahayu

    ©Badmintonindonesia.org

  • Greysia Polii & Apriani Rahayu

    ©Badmintonindonesia.org

Berpasangan dengan pemain yang jauh lebih muda bukanlah hal baru untuk Greysia Polii saat dipasangankan dengan Apriani Rahayu yang 10 tahun lebih muda. Sebelumnya, selepas Olimpiade 2012, Greysia pernah dipasangkan dengan dengan Anggia Shitta Awanda yang 7 tahun lebih muda.

Hal yang manarik adalah, Greysia sendiri boleh dikatakan produk akselerasi dimana pada awal karirnya sempat dipasangankan dengan pemain senior pelatnas seperti Jo Novita,Vita Marissa atau bahkan Flandy Limpele.

Pelatnas Tim Nasional Indonesia sendiri bisa dikatakan sangat minim menerapkan pemasangan senior-junior meskipun dalam hal ini sering sukses dilakukan timnas negara lain terutama Tiongkok.

Sebelum mendapatkan akselerasi, Greysia Polii sendiri merupakan pemain junior Indonesia paling bersinar di Kejuaraan Junior tahun 2004, sebagai runner up di ganda campuran dan meraih medali perunggu di ganda putri. Buah manis dari bakat, kerja keras, ketekunan serta kesempatan mentoring tersebut adalah prestasinya menjadi pemain ganda putri papan atas dunia dan meraih medali emas di Asian Games 2004.

Final Kejuaraan Dunia Junior 2017 di sektor ganda campuran mengingatkan kejuaraan di tahun 2012. Di tahun tersebut, terjadi All Indonesia Final setelah keduanya sama-sama mengalahkan lawan dari Tiongkok. Mentoring senior-junior memang bukanlah satu-satunya faktor penentu meneruskan kesuksesan di level junior dan ini bisa dilihat dari lebih menterengnya prestasi pemain-pemain Tiongkok peraih medali perunggu di kejuaraan junior tahun 2012.

Siti Fadia Silva Ramadhanti, Rehan Naufal Kusharjanto, Rinov Rivaldy, Yeremia Erich Yoche Yacob Rambitan, Phita Haningtyas Mentari, Jauza Fadhila Sugiarto dan, Ribka Sugiarto adalah bakat-bakat istimewa yang dimiliki Indonesia saat ini. Mempertimbangkan untuk memberikan hadiah berupa mentoring dari pemain top pelatnas dan bertanding di level tertinggi kejuaraan bulutangkis adalah opsi selain mereka akan mendapatkan beasiswa dari kejuaraan dunia.

Salah satu legacy Pak Gita Wirjawan adalah merubah kontrak kolektif menjadi kontrak individu. Kontrak yang apabila dilihat secara positif akan memberikan keuntungan berlipat ke pemain yang bersangkutan dimana dengan prestasi yang dimiliki bisa melakukan negosiasi langsung. Pemain elit akan mendapatkan kontrak yang sangat tinggi dan layak untuk prestasi, prestasi dan potensi untuk menginfluence calon customer peralatan bulutangkis yang jadi mensponsori.

Mentoring atau penggabungan pemain senior dan junior apabila tidak ada prospek akan menjadi kontra produktif dengan sistem kontrak. Contohnya, saat masih di pelatnas Hendra dan Ahsan dikontrak oleh Yonex dan bahkan dibuatkan seri apparel exlusive seperti halnya Datuk Lee Chong Wei. Investasi besar Yonex ini tentunya diharapkan akan lebih banyak menginfluence calon pembeli dengan sering tampilnya Hendra Ahsan di podium tertinggi. Katakanlah di masa keemasan mereka di 2015 diminta untuk membimbing Rian Ardianto yang meraih medali perunggu di kejuaraan dunia junior, mungkin situasinya memang sulit untuk menggabungkannya. (petebakar)

Berita Artikel Lainnya