Berita > Artikel

Djarum Sirkuit Nasional dan Pembinaan Prestasi

Senin, 06 November 2017 11:34:20
1934 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

  • Fran Kurniawan & Richi Puspita Dili

  • Riky Widianto & Richi Puspita Dili

Pekan ini (6 – 11 November) Djarum Sirnas Premier Li-Ning Jawa Timur Open 2017 berlangsung turnamen seri pamungkas Djarum Sirnas di GOR Sudirman, Surabaya. Sirnas yang berlangsung di Kota Pahlawan ini merupakan seri ketiga Sirnas Premier setelah Djarum Sirkuit Nasional Premier Li Ning Jawa Barat Open 2017 dan Djarum Sirkuit Nasional Premier Li Ning Banten Open 2017.

Sebanyak 708 pebulutangkis nasional dari berbagai klub penjuru tanah air akan bertarung memperebutkan gelar juara dengan total hadiah Rp 360 Juta. Selain wakil dari klub-klub saja, beberapa wakil Pelatnas PBSI Cipayung pun akan meramaikan persaingan Djarum Sirnas Premier di kategori dewasa.

Richi Puspita Dilli yang pekan lalu naik ke podium juara berpasangan dengan Fran Kurniawan, kali ini kembali turun dengan pasangan sesungguhnya Riky Widianto. Richi siap meraih gelar keempatnya di seri tahun ini. Dua gelar lainnya dikantongi Richi di ajang Djarum Sirkuit Nasional Li Ning Sulawesi Utara Open 2017 dan Djarum Sirkuit Nasional Li Ning Jawa Tengah Open 2017.

Capaian Richi dari tiga gelaran Djarum Sirnas membuktikan beberapa hal. Pertama, tanpa melihat sejauh mana prestasinya di ajang internasional, mantan pembinaan pelatnas merupakan pemain terbaik di negeri ini. Kedua, hal ini sekaligus mengkonfirmasi bahwa pelatnas tidak salah saat penjaringan bakat. Bahkan, tanpa berlatih rutin dan juga hanya bertemu dengan partner saat pertandingan Richi masih mendapatkan hasil sempurna.

Sedikit catatan, kemenangan Richie di ketiga seri tersebut didapatkan di seri regular sirnas, bukan seri premier di mana tidak ada pemain pelatnas yang turun.

Sirnas sendiri, dengan masih seringnya mantan pemain pelatnas yang turun, memiliki banyak manfaat. Masih konsistennya pemain-pemain seperti Devi Tika Permatasari/ Keshya Nurvita Hanadia, Nadya Melati/ Dian Fitriani, Maretha Dea Giovanni/ Suci Rizki Andini, setidaknya membantu untuk menyaring, pemain mana saja yang masih dalam usia muda memiliki prospek untuk dikembangkan lebih lanjut di pelatnas. Pemain pelatnas memang hanya dijadwalkan turun di seri premier. Langkah ini sangat tepat, karena sekaligus ajang pembuktian apakah pembinaan di pelatnas memang bagus untuk mengatasi pemain-pemain juara di sirnas regular.

Hal yang mungkin sedikit kurang adalah, apabila diamati slot 32 pada nomor dewasa beberapa kali terjadi kekosongan. Hal ini menjadi pekerjaan rumah tersendiri untuk penyelenggara. Apakah slot tersebut perlu diisi dengan mempromosikan juara kelas taruna atau mengevaluasi lokasi penyelenggaraan sehingga mampu menjaring bakat dari seluruh Indonesia. (petebakar)

Berita Artikel Lainnya