Berita > Artikel > Sosok

Heryson Dambakan Bulutangkis Kota Medan Hidup Kembali

Selasa, 30 Januari 2018 09:28:29
25487 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

  • Saat Heryson Menerima Pataka PBSI

  • Heryson & Susy Susanti

Ada perasaan melayang sebersit dirasakan Heryson Edhie Suwindar saat merima pataka PBSI dari tangan Ir. Johanes I.W., Ketua Umum Pengprov PBSI Sumut disaat pelantikan dirinya sebagai Ketua Umum PBSI Kota Medan periode 2017-2021, hampir setahun lalu, tepatnya di bulan April 2017. Bagi Hery, menjadi orang nomor 1 di bulutangkis kota Medan bukanlah semata-mata sebagai gagah-gagahan atau juga sebagai sarana tempat mencari “rejeki” bagi kehidupannya.

Pataka PBSI yang diterima Heryson adalah tanggung jawab yang harus dijalankan untuk memajukan bulutangkis di kotanya, bukan sekadar acara simbolis tak bermakna. Gambaran beberapa rencana memajukan bulutangkis kota Medan pun terlihat semakin nyata bisa direalisasikan. Heryson pun memegang erat pataka PBSI, usai berpindah tangan dari Johanes. Terasa berat, namun tekad di hati meringankan semuanya untuk memajukan bulutangkis kota Medan.

Perkenalan yang tak diduga dengan Heryson saat ingin bertemu dua teman akrabku di kota Medan sepekan lalu membawaku mengenal sosoknya lebih dekat.

“Pasti orang bulutangkis ya,” aku membuka obrolan ke Hery usai diperkenalkan kedua temanku. “Pasti pecinta bulutangkis nih,” aku mencoba menebak siapa dirinya. Hery yang berbadan tegap mengenakan kaos bulutangkis merek brand bulutangkis ternama tanpa lengan.

“Gak salah lagi mas,” timpal mas Edi sahabatku. “Dia sebenarnya ketua bulutangkis di Medan,” Edi meneruskan ucapannya.

“Iya, tapi sekarang sudah dikudeta,” timpal Heryson sambil tersenyum. “Nanti kita obrolin, silakan pesan minumnya dulu mas,” Hery menawarkan minuman.

Aku memilih jus kedondong tak terlalu manis dengan sedikit campuran es. Jus kedondong rasanya pas buatku dengan suasana obrol-obrol malam di Warunk Boboho.

Ternyata, tak di Jakarta, tak di Bogor atau dimana aku berada. Bila sudah ketemu teman bulutangkis, obrolan bulutangkis pun selalu menjadi hal yang menarik diperbincangkan. Mulai dari cerita atlet hingga obrol-obrol perlengkapan bulutangkis. Tak pernah membosankan.

“Teringatnya mas Hery, tadi ngomong kudeta maksudnya apa ya?” aku mencoba mengulang obrolan di awal perkenalan.

“Ah panjang ceritanya mas, sebenarnya saya mau melupakannya. Mending fokus di bisnis aja sambil main bulutangkis dengan teman-teman. Bikin hati gembira, gak ruwet,” sahut Hery. Sekilas raut kurang menggembirakan terlihat di wajahnya.

Mau bertanya lebih jauh, aku tak enak hati. Walau sesungguhnya ada rasa penasaran juga di hati. Aku menahan diri. Terlalu kepo, kata anak zaman now.

“Sebenarnya mas Hery ini sudah sempat jadi Ketua Umum Pengkot PBSI Medan, tapi dua bulan kemudian lewat muskotlub dia diganti lagi. Pengurus lama yang sudah digantikan mas Hery kembali lagi mengurus bulutangkis Medan. Anehnya sudah tak dipercaya lagi di muskotlub sebelumnya, tapi bisa terpilih kembali,” Edi membuka kisah Hery yang sempat jadi Ketum PBSI Kota Medan.

“Betul bang Edi, itu tak sah,” Wahyu yang sedari tadi diam mulai membuka suara. “Buktinya hasil investigasi PBSI pusat akhirnya membekukan Pengprov Sumut, artinya PBSI pusat melihat adanya kesalahan kebijakan yang dibuat Pengprov Sumut melantik kepengurusan Pengkot Medan yang baru menggantikan kepengurusannya mas Hery,” Wahyu mengakhiri suaranya.

“Persis, cuma sedikit aneh, terkesan pusat menggantung masalah yang ada. Harusnya pengkot yang sekarang dibubarin karena tidak sah, dikembalikan lagi ke kepengurusan mas Hery,” Edi mengeluarkan pendapatnya.

Hery yang sedari tadi mendengar komentar sahabatnya mulai membuka suara.

“Banyak kita yang di kepengurusan ini tak mengerti AD/ART, ya jadinya beginilah. Harusnya setiap persoalan yang muncul harus melihat AD/ART sebagai acuan,” Hery pun mengungkapkan pendapatnya bahwa sebagai pengurus organisasi sudah seharusnya bekerja sesuai AD/ART sebagai kompasnya.

Persoalan kepengurusan cabang olahraga sering berakhir dengan perebutan kepengurusan. Padahal tidak adanya kepengurusan yang sah akan merugikan pembinaan olahraga, khususnya pembinaan para atlet.

“Sebenarnya kisruhnya kepengurusan apa ya?” Sedari tadi aku belum menangkap apa yang menjadi akar persoalan sehingga Pengkot PBSI Medan yang baru berumur dua bulan sudah diganti lagi lewat muskotlub.

“Inilah akibat ego dan ketidakmengertian beberapa orang terhadap AD/ART yang katanya mereka cinta bulutangkis,” Hery mulai menjelaskan. “Saya disebut one man show dan seenaknya sendiri mengatur kepengurusan. Di kepengurusan saya, organisasi memang kita buat lebih ramping agar organisasi bisa bergerak gesit. Anggaran kita perketat pengeluaran yang tidak perlu kita batasi. Kejurkot yang tadi saya rencanakan dua bulan setelah pelantikan akhirnya kita adakan lebih awal karena teman-teman pengurus menyebutkan sudah dua tahun tidak ada kejurkot di Medan. Akan terasa nuansa meriahnya pada saat pelantikan pengurus baru,” ungkap Hery.

“Kejurkot sukses?” tanyaku penasaran.

“Berjalan sukses. Para wasit dan hakim garis sampai memuji saya karena mendapat honor yang penuh tanpa ada potongan seperti sebelumnya,” tutur Hery. “Cuma panitia yang juga pengurus di kepengurusan saya mempersoalkan kenapa hadiah uang kepada kolompok usia dini dan pemula tidak jadi diberikan. Saya katakan atlet usia dini dan pemula belum saatnya mendapat hadiah berupa uang, sebaiknya hanya mendapatkan hadiah peralatan bulutangkis. Ini tak menyalahi AD/ART, dan para orangtua dan pelatih juga tidak keberatan atau protes. Apalagi sebagian biaya kejurkot itu dari kantong saya sendiri. Tidak ada yang dirugikan,” sebut Hery.

“Inilah alasan yang dipakai mereka untuk menyerang saya dan menjatuhkan saya di muskotlub, rasanya tidak fair cara-cara yang mereka lakukan, apalagi kepengurusan saya baru seumur jagung belum bisa menjajalankan program yang sudah direncanakan kecuali kejurkot. Padahal kita sudah memiliki program jangka panjang untuk memajukan bulutangkis Medan. Kita sudah punya program pelatkot bahkan sponsor sudah memberi lampu hijau untuk mendukung,” ungkap Hery.

“Ah, sudahlah. Mari kita makan dulu, sudah saatnya makan malam kita,” ujar Hery seraya menyodorkan menu makanan ke arahku.

“Saya mi rebus aja,” aku memilih menu yang tak berat. Edi dan Wahyu pun mengikuti usulanku memilih mi rebus. Aku lihat Hery memilih nasi goreng.

Sambil makan mi rebus, aku mulai mengerti permasalahan bulutangkis di kota Medan. Kecintaan Heryson terhadap bulutangkis dan kedekatannya dengan orang-orang bulutangkis mengantarkannya terpilih sebagai Ketum Pengkot PBSI Kota Medan lewat Muskot PBSI Medan 4 Maret 2017. Terpilih sebagai Ketum, Heryson pun masih mengikutkan pengurus-pengurus lama di kepengurusannya, bahkan ide kejurkot dipercepat pun diterima Heryson. Kejurkot yang kisruh hanya karena hadiah yang dianggap tidak sesuai oleh panitia yang juga sebagian merupakan orang-orang di kepengurusan menjadi awal Muskotlub di pertengahan Juni 2017 yang melengserkan Hery dari Ketum Pengkot PBSI Medan digantikan H Ahmad Thamrin SE Mpsi. Berselang empat bulan, tepatnya di bulan Juli 2017, Ir. Johanes I.W., Ketua Umum Pengprov PBSI Sumut kembali melantik H Ahmad Thamrin SE Mpsi, sebagai Ketum Pengkot PBSI Medan. Tak terima atas kebijakan Pengprov PBSI Sumut, Heryson pun mengadukan kisruh yang ada ke PP PBSI, dan PP PBSI pun menindaklanjutinya dengan menurunkan tim investigasi ke Medan pada pertengahan bulan Juli 2017. Hasil investigasi PP PBSI berbuntut keluarnya surat PP PBSI yang memberhentikan seluruh pengurus PBSI Sumut masa bakti 2014-2018.

“Itulah tadi seperti yang dibilang mas Wahyu, artinya keputusan yang diambil Pengprov yang melantik kepengurusan Pengkot Medan boleh dibilang tidak sah karena Pengprov sudah kena hukuman diberhentikan,” sebut Hery sambil menyelesaikan suapan terakhir nasi gorengnya.

“Betul, Pengkot Medan harusnya otomatis dikembalikan seperti semula, karena kebijakan pengprov yang salah,” lanjut Edi memberikan penilaiannya.

Aku manggut-manggut mulai mengerti kisruh bulutangkis di Medan. Ujung-ujung kisruh kepengurusan tentunya akan mengorbankan program pembinaan para atlet.

“Sudahlah, kita masih percaya dengan pusat akan mengeluarkan kebijakan yang tepat dan bisa dipercaya,” ujar Hery.

“Semoga mas Hery,” aku membalas.

“Ayo mas, besok kita bulutangkis bareng. Kita biasa main di Gaharu, kita bikin enjoy ajalah,” Hery pun memecahkan kebuntuannya.

“Saya dulunya, atlet beladiri, tapi orang berdua ini yang meracuni saya,” serunya tertawa sambil menunjuk ke arah Edi dan Wahyu.

“Baru rasa kan kecanduannya,” balas Edi tertawa. Wahyu juga tertawa.

“Bulutangkis dan beladiri sama jiwanya, sama-sama mengajarkan sportivitas, ini yang saya lihat setelah mengenal bulutangkis dari dekat,” ujar Hery.

Begitulah bulutangkis, tak kenal maka tak sayang. Kecintaan Heryson kepada bulutangkis bukan karena ingin mendapatkan sesuatu, tapi karena ingin memberikan sesuatu yang berarti di dalam perjalanan kehidupannya. (efka)

Berita Sosok Lainnya