Berita > Artikel

Ironi Semangat BWF

Senin, 09 April 2018 19:12:15
6065 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Di tengah bisingnya Badminton World Federation (BWF) mengkampanyekan pergantian skor dengan dalih komersialisme pertandingan, BWF rupanya lupa bahwa ada faktor-faktor lain yang lebih esensial dalam menarik minat penonton maupun sponsor: Estetika Turnamen dan Estetika Pertandingan.

Pemberian kertas tanda juara di Finnish Open 2018 seperti mengundang riuh tawa karena kontrakdiktif dengan komitmennya. Pengurus BWF memang pantas diragukan kompetensinya dalam menjadikan badminton sebagai olahraga menarik. Harusnya ada edukasi dari BWF tentang standar membangun “Value” dan “Gengsi” sebuah turnamen. Sekecil apapun turnamen itu.

Poul-Erik Høyer Larsen bisa menimba ilmu ke Indonesia tentang bagaimana menggelar turnamen yang menarik dan memiliki value. Kejuaran Indonesia Open dan Kejuaran Dunia Yunior harusnya tidak sekadar mengagumkan mereka, tetapi harus dijadikan standar baru penyelenggaraan turnamen bulutangkis internasional.

Badminton World Federation (BWF) seperti lupa ini era visual. Kevin Sanjaya Sukamuljo/ Marcus Fernaldi Gideon sudah memberikan contoh positif bahwa performa menarik tidak hanya ditentukan oleh keunggulan teknis semata, tapi juga dari cara pemain berdandan, berekspresi, hingga desain kostumnya.

Sudahkah BWF melibatkan desainer kelas dunia untuk berdiskusi dengan sponsor dalam penciptaan kostum yang menyamankan mata? Coba lihat kostum Jorji yang tidak berkelas. Atau, pemain-pemain Thailand yang kostumnya sering kedodoran. Alangkah keren jika BWF meminta sponsor untuk memberikan fasilitas khusus untuk top 10 atau top 5 dunia untuk memiliki konsultan fashion sendiri. Kasih juga training “Public Speaking”.

Tak perlu memendekkan durasi pertandingan. Bulutangkis adalah olahraga dengan potensi entertainment tinggi. Pertanyaannya, apakah BWF cukup modern untuk memahami dinamika kekinian? Atau, perlukah Indonesia, China, Malaysia, dan negara kuat lainnya mendirikan BWF tandingan? Provokatif. Tapi, BWF dengan nahkoda Poul Erik memang perlu mendapat pelajaran. (Moemoe)

Berita Artikel Lainnya