Berita > Artikel

Opini Tim Piala Uber Indonesia 2018

Jumat, 04 Mei 2018 09:03:51
5846 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Ada sedikit perbedaan anggota Tim Piala Uber Indonesia dibandingkan dengan tim yang berlaga di Kejuaraan Beregu Asia lalu. Ada pergantian skuad Hanna Ramadini oleh Dinar Dyah Ayustine, serta adanya perubahan untuk ganda ketiga yang semula adalah pasangan Ni Ketut Mahadewi Istarani/ Anggia Shitta Awanda menjadi Ni Ketut Mahadewi Istarani/ Nitya Krishinda Maheswari.

Posisi Hanna yang kini diisi Dinar bisa dimaklumi mengingat dalam jangka waktu setelah Kejuaaran Beregu Asia, Dinar memiliki hasil yang sedikit lebih baik dibandingkan Hanna. Dengan kenyataan bahwa pemain tunggal putri Indonesia semuanya berada di luar Top 30 boleh dikatakan bahwa antara satu dan lainnya tidak memiliki perbedaan kemampuan yang sangat signifikan.

Rangking pemain putri pelatnas Indonesia sesuai urutan adalah Fitriani (33), Gregoria Mariska Tunjung (37), Hanna (39), Dinar (44) dan Ruselli Hartawan (79). Sama halnya dengan Dinar, meskipun rangking Ruselli paling bawah namun dari tur Eropa yang dilakoninya mendapatkan hasil yang boleh dikatakan memuaskan. Capaian dinar runner up dan semifinalis juga karena kalah dengan Gregoria dan Mia Blichfeldt pemain top 20 dan tunggal utama Denmark. Dengan kondisi tersebut memang sangat wajar bila Dinar dan Ruselli yang berangkat ke Uber Cup.

Tanpa mengesampingkan Fitriani, posisi kunci tunggal putri Indonesia justru terasa berada di tangan Gregoria Mariska, juara dunia junior 2017. Kemungkinan lawan Gregoria adalah He Bingjiao (8) atau Chen Xioxin (22) di babak penyisihan grup. Dengan kedua pemain tersebut Gregoria belum pernah menang, tapi perlu diingat bahwa Gregoria terakhir malah mengalahkan tunggal utama Tiongkok, Chen Yufei. Lawan potensial Gregoria di fase grup lainnya adalah Goh Jin Wei (Malaysia), juara dunia sebelum dirinya. Rekornyapun terbilang ramai 3-2 untuk Goh Jin Wei. Terakhir, harusnya Gregoria tidak terpeleset dan kalah dengan tunggal putri Prancis saat penyisian grup. Tak hanya di fase group, di babak selanjutnya posisi tunggal kedua ini sangat krusial.

Hal lain yang menyebabkan kenapa tunggal kedua ini krusial adalah karena bisa dikatakan Indonesia memiliki dua ganda putri yang cukup stabil, Greysia Polii/Apriani Rahayu dan Della Destiara Haris/ Rizki Amelia Pradipta. Gresyia/Apriani sudah masuk dalam TOP 6 walaupun masih punya pekerjaan rumah besar karena belum pernah mengalahkan Misaki Matsumoto/ Ayaka Takahashi sama sekali. Nyaris semua pasangan TOP 10 pernah mereka kalahkan. Della/Rizki dalam track yang benar baik dalam segi prestasi maupun spirit bertanding, pencapaian TOP 10 tinggal menunggu waktu.

Coach Eng Hian, sepertinya tidak kesulitan untuk memilih ganda ketiga mengingat bisa dikatakan ada perombakan di awal tahun. Masuknya Nitya sebenarnya bukanlah sebuah kejutan. Salah satu kemungkinan besar alasan masuknya Nitya adalah tim Indonesia berpotensi memiliki secret weapon (tentunya dengan berpasangan dengan Greysia). Masuknya Ni Ketut, tanpa bermaksud menyepelekan skill dan kualitasnya, boleh jadi dikarenakan attitude positive, semangat bertanding yang tinggi dan komitmen kuat yang selama ini sudah melekat sebagai karakternya. (Pete Bakar)

Berita Artikel Lainnya