Berita > Artikel > Sportainment

Hendra - Ahsan dan Ulasan Broto Happy

Selasa, 29 Mei 2018 10:41:42
9770 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Foto tahun 2011 saat resepsi pernikahan Hendra Setiawan mengingatkan bagaimana Broto Happy Wondomisnowo dan wartawan peliput Bulutangkis lainnya (mbak Yani dan Rahmi Aries Nova) begitu akrab dan dekat dengan atlet. Selain diundang untuk hadir di resepsinya, kami pun diberikan kehormatan berfoto bersama Hendra Setiawan.

Ini mungkin yang menjadikan nilai lebih bagi mas Broto Happy begitu lancar memberikan komentator terhadap atlet bulutangkis, karena bukan di dalam lapangan saja namun di sisi non atlet hubungan komunikasi tetap akrab terjalin.

Saya mau sedikit ngobrolin soal hubungan Hendra Setiawan dan Mohammad Ahsan dan ulasan mas Broto Happy di TVRI malam ini saat siaran langsung Thomas Cup 2018. Saya berterima kasih kepada TVRI yang sudah peduli menyiarkan perjuangan atlet bulutangkis Indonesia. Malam ini TVRI menjadi tv favorit para penggemar bulutangkis Indonesia.

Saya bisa dikatakan sudah lama tidak menyaksikan siaran langsung di televisi. Saya lebih banyak di pinggir lapangan dengan senjata kamera membidik aksi-aksi perjuangan atlet Indonesia. Namun desas desus soal komentator pernah saya dengar langsung dari sejumlah mahasiswa jebolan Pelatihan Jurnalistik Meliput Bulutangkis (PJMB) dan fans penggila badminton tentang komentator Bulutangkis. Mereka mengatakan kalau komentator selain Broto Happy W kurang menarik didengar. “Ah segitunya”, dalam hati saya.

Saya juga sempat dengar kalau mas Broto diboikot di salah satu TV yang suka menyiarkan siaran langsung, tapi lagi-lagi saya bilang dalam hati “Masa sih segitunya sampai diboikot-boikot segala, bukannya kita juga punya hak mendapatkan informasi yang aktual dibandingkan ketawa-ketiwi mengulas pertandingan”.

Akhirnya, malam ini saya bisa langsung mendengar apa yang jadi “omongan” orang bulutangkis itu soal isi komentator mas Broto Happy. Bagi saya komentator malam ini mengingatkan saya saat SCTV menyiarkan langsung final olimpiade bulutangkis di Rio de Janerio. Di saat Tantowi Ahmad dan Liliyana Natsir memastikan diri juara olimpiade, komentatornya terus mengalir informatif sekali sampai lagu Indonesia Raya dinyanyikan. Saya saat itu berpikir gila banget nih mas Broto, ngoceh nggak berhenti-henti di momen kemenangan itu dan sangat tidak membosankan, hafal banget semua data Owi dan Butet. Pas bangetlah SCTV memilih pakar bulutangkis saat itu.

Ulasan saya ini bukan karena hubungan saya dan mas Broto begitu dekat, dulunya sehari-hari ketika masih bekerja di tabloid olahraga kami memang suka meliput bersama, bahkan bisa dibilang sama orang-orang PBSI kalau ada mas Broto pasti ada Erly, begitupun sebaliknya. Namun semenjak tidak dibutuhkan lagi di media olahraga yang dulu terbesar itu, kami jarang berjumpa, bahkan saya selama berkerja di lapangan hampir tidak pernah mendengar komentatornya, yang saya dengar candaannya terus menerus. Apalagi saat ini saya disibukkan sebagai panitia Asian Games 2018 sementara mas Broto tetap berkutak katik di dunianya, bulutangkis.

Partai terakhir Indonesia di Semifinal Thomas Cup 2018 menjadi perhatian saya usai Teraweh. Tegang dan gemetar melihat perjuangan Ahsan dan Hendra. Namun komentator mas Broto justru membuat saya mengenang masa-masa lalu saya disaat berkecimpung di dunia bulutangkis.

Sebut saja ketika Ahsan melakukan smash kerasnya, mas Broto mengingatkan saya gerakannya loncat tinggi dengan mengucapkan “Smash Ahsan mengingatkan kita kepada smash 100 watt Hariyanto Arbi ”. Ya juara dunia tunggal putra, dimana saya juga pernah membantu membuat buku biografinya.

Begitupun ketika Ahsan mengembalikkan bola smash secara akrobatik dari belakang, mas Broto mengucapkan “Aksi akrobatik Ahsan mengingatkan kita kepada pemain Sigit Budiarto, Trikus Harjanto bahkan Edy Hartono alias Kempong”. Mas broto juga mengingatkan prestasi atlet-atlet masa lalu itu.

Ah, benar-benar atlet masa lalu yang perlu dibanggakan dan terus diingat.

Melalui komentatornya mas Broto telah memaksa otak saya untuk mengenang atlet-atlet Indonesia masa lalu, gimana hebatnya Hendrawan, Taufik Hidayat, Ricky-Rexy dan lain-lain yang berhasil sebagai pahlawan merebut piala Thomas Cup. Dan mungkin bagi penonton TVRI yang menyaksikan siaran langsung juga merasa puas dengan informasi dari mas Broto.

Mas Broto juga membuat saya tersenyum ketika mengomentari Hendra Setiawan atlet senior yang dirumahnya ada ruangan khusus seperti museum prestasi di bulutangkis. Ya, dimana foto-foto karya saya ada diruangan rumahnya.

Saya pikir pantas jika sebagian mahasiswa Pelatihan Jurnalistik Meliput Bulutangkis (PJMB) dan penggila badminton Indonesia menyebut mas Broto dengan “Kamus Bulutangkis Indonesia”.

Hendra dan Ahsan telah berjuang maksimal, seperti tandem mas Broto katakan saat itu yaitu Erwin Dwinanto yang mengatakan “Ternyata di atas kertas beda dengan apa yang terjadi di lapangan” prediksinya Indonesia bisa lolos ke final Piala Thomas 2018.

Kita harus terima kekelahan ini, sejak sekarang kita harus mulai menyiapkan merebut piala Thomas dua tahun mendatang. Rasanya tunggal putra Indonesia dapat terus berkembang. Sementara ganda putra, saya yakin Coach Herry IP bisa menjaga regenerasi ganda putra.

Semoga dua tahun mendatang saat terbaik untuk merebut kembali piala Thomas ke Indonesia, saya berharap dua tahun mendatang saya dapat hadir juga di sisi lapangan dan menyaksikan langsung Indonesia merebut Piala Thomas seperti ketika saya menyaksikan langsung Indonesia merebut piala Thomas Cup di Hongkong tahun 1998. Amin. (Erly Bahtiar)

Erly Bahtiar “Lob lob smash”
Fotografer peliput dan penggemar bulutangkis

Berita Sportainment Lainnya