Berita > Artikel

Si Jangkung Itu Tampak “Tak Tinggi”

Rabu, 30 Mei 2018 11:16:39
11085 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

  • Viktor Axelsen

    ©Sport.tv2.dk

  • Kento Momota

    ©Newsnow.live

  • ©ibtimes.co.in

Analisis kekalahan Viktor Axelsen atas Kento Momota
pada semifinal Piala Thomas 2018.


Viktor Axelsen adalah pebulutangkis tunggal putra yang selalu diunggulkan untuk menjadi juara di setiap turnamen. Saat ini, jagoan dari Negeri Dongeng ini, bertahta di puncak teratas peringkat tunggal putra dunia. Kehebatannya tidak terbantahkan. Menurut data dari situs Badminton World Federation (BWF), Axelsen menduduki peringkat 1 dunia sejak tahun 2017 (kalender BWF), pada minggu ke-39, tanggal 28 September 2017. Meskipun pada minggu ke-15 tahun 2018, Axelsen sempat digeser andalan India, Kidambi Srikanth, namun dia kembali merebut puncak pimpinan setelah update peringkat seminggu kemudian, dan bertahan hingga kini (minggu ke-21).

Sepanjang tahun 2017, Axelsen meraih gelar juara pada turnamen-turnamen level Superseries: India Open, Jepang Open, dan World Superseries Final di Dubai. Sementara, pada 2018 awal hingga saat ini, Axelsen meraih gelar pada turnamen World Tour - Malaysia Master Super 500 dan Kejuaraan Individu Eropa.

Menjadi juara pada gelaran Piala Thomas dan Uber 2018 pastilah menjadi tujuan Denmark yang sangat penting. Terlebih, pada tahun 2016, Tim Thomas Denmark berhasil merengkuh gelar bergengsi ini. Tentu saja Axelsen menjadi salah satu pemain yang diharapkan untuk mendulang poin awal bagi timnya.

Axelsen diturunkan di semua pertandingan dari fase grup hingga babak semifinal. Dari tiga pertandingan di fase grup, Axelsen hanya kalah dari Lee Chong Wei. Sementara pada babak perempat final, dia memenangkan pertandingan saat melawan Son Wan Ho. Babak semifinal merupakan babak terburuk baginya akibat kekalahan pahit yang dia derita dari Kento Momota dengan skor mutlak 2-0. Pada akhir pertandingan, Tim Thomas Denmark harus mengubur ambisinya untuk mempertahankan gelar juara, dan harus merelakan tim Thomas Jepang melenggang ke babak Final dengan skor 2-3.

Kento Momota sedang dalam performa terbaiknya di kejuaraan Piala Thomas tahun ini. Dalam lima pertandingan, permainannya menghasilkan kemenangan. Rupanya, performa istimewa tersebut karena bekal gelar juara yang dia bawa dari Kejuaraan Individu Asia 2018 pada bulan April lalu. Pada Kejuaraan Asia, Kento Momota menjalani lima pertandingan. Dalam lima pertandingan Kejuaraan Asia yang dijalaninya, secara berurutan dia mengalahkan Nguyen Tien Minh (Vietnam), Shi Yuqi (China), Chou Tien Chen (Taiwan), Lee Chong Wei (Malaysia), dan terakhir Chen Long (China). Maka, sangat terlihat jelas bahwa Kento Momota tengah on fire saat ini.



Dari data yang saya catat melalui pengamatan video pertandingan, sangat jelas terlihat bagaimana kelebihan dan kekurangan Viktor Axelsen dalam pertandingan ini, seakan-akan kegemilangannya pada pertandingan-pertandingan yang lalu telah lenyap di hadapan Momota. Berikut adalah data-data tersebut.

1. Data perolehan poin Viktor Axelsen dan Kento Momota.
Game 1 – Skor 17-21
Viktor Axelsen :
• Smash: 5
• Netting: 4
• Dropshot: 2
• Adu Drive: 1
• Kesalahan Momota: 5
• Reborn Smash: -

Kento Momota :
• Smash: 4
• Netting: 6
• Dropshot: -
• Adu Drive: -
• Kesalahan Momota: 9
• Reborn Smash: 2

Game 2 – skor 9-21
Viktor Axelsen :
• Smash: 1
• Netting: 3
• Dropshot: 1
• Adu Drive: -
• Kesalahan Momota: 4
• Reborn Smash: -

Kento Momota :
• Smash: 1
• Netting: 2
• Dropshot: -
• Adu Drive: 2
• Kesalahan Momota: 15
• Reborn Smash: 1

Data tersebut menjelaskan dengan gamblang, bahwa salah faktor kekalahan Viktor Axelsen adalah kesalahan yang berujung pada perolehan poin untuk Momota, yang dibuat Axelsen sendiri, dan jumlahnya sangat banyak. Jika dihitung secara total, jumlah kesalahan atlet tunggal andalan Denmark ini adalah 24 kali. Jumlah itu lebih banyak 3 poin dari jumlah poin setiap game dalam sebuah pertandingan bulutangkis.

Pada game pertama, Momota hanya memperoleh 12 poin saja, yang murni dihasilkan dari usahanya sendiri. Kemudian, dari awal hingga akhir game kedua, pemain Jepang itu hanya memperoleh 6 poin melalui usaha yang dilakukannya.

Sebenarnya, permainan Axelsen tidak terlalu buruk jika dia bisa meminimalisir “pukulan bunuh dirinya” itu. Tetapi dia tidak bisa mengendalikan akurasi pukulannya sendiri, hingga poin demi poin mampu dia kumpulkan, lalu diserahkan dengan mudah untuk lawan. Pertanyaannya, ada apa dengan Axelsen, sang pebulutangkis nomor 1 dunia itu?

2. Data pukulan Viktor Axelsen (minus drive dan servis)
Game 1
• Smash Lurus: 18
• Smash Silang: 9
• Netting Lurus: 44
• Netting Silang: 22
• Dropshot Lurus: 5
• Dropshot Silang: 6
• Lob Lurus: 32
• Lob Silang: 34

Game 2
• Smash Lurus: 7
• Smash Silang: 4
• Netting Lurus: 15
• Netting Silang: 16
• Dropshot Lurus: 2
• Dropshot Silang: 1
• Lob Lurus: 13
• Lob Silang: 10

Data statistik kedua menunjukkan angka-angka dari jenis-jenis pukulan (kecuali drive dan servis) yang digunakan Axelsen pada pertandingan ini. Total jumlah pukulan lurus adalah 136 pukulan, sementara total pukulan silang adalah 102. Hal ini menunjukkan bahwa kekuatan utama Axelsen adalah variasi arah pukulannya yang beragam. Dia dapat dengan mengarahkan shuttlecock ke sudut-sudut sempit. Sayangnya, kemampuan itu tidak mampu dia jaga untuk pertandingan ini.

Jika dilihat dari seberapa banyak pukulan silang dan lurus dari Axelsen, dia melakukan variasi pukulan dengan prosentase kurang lebih 60 persen untuk pukulan lurus, dan 40 persen untuk pukulan silang. Prosentase tersebut menjelaskan tentang apa yang coba dilakukan Axelsen dalam pertandingan ini, yaitu mencoba mengeksploitasi tenaga lawan. Selain itu dia mencoba mencari celah serangan. Dengan penempatan shuttlecock yang diombang-ambingkan semacam itu, diharapkan pemain lawan akan mengalami kesulitan, hingga akhirnya pengembalian pukulannya tidak sempurna, untuk kemudian dimaksimalkan Axelsen untuk mendapatkan poin. Sayangnya, pemain yang dihadapi pada pertandingan kali ini adalah Momota yang sangat kuat dalam pukulan-pukulannya. Primanya fisik Momota membuat segala sesuatu yang telah direncanakan Axelsen buyar. Bahkan Axelsen terlihat sangat frustrasi ketika berkali-kali gagal mematikan pertahanan Momota.

3. Data pukulan pengembalian Viktor Axelsen setelah Kento Momota berhasil melakukan netting, dropshot, dan smash.
Game 1
• Lob Lurus: 26
• Lob Silang: 34
• Netting Lurus: 44
• Netting Silang: 22

Game 2
• Lob Lurus: 13
• Lob Silang: 10
• Netting Lurus: 15
• Netting Silang: 16

Data statistik ketiga tersebut menunjukkan seberapa sering Axelsen mengangkat bola berdasarkan jenis-jenis dan arah pukulan yang digunakan, yang membuat Momota berhasil mengatasi perlawanan Axelsen.

Apa yang dilakukan Axelsen untuk menyeberangkan shuttlecock saat berada di bawah net pada area permainannya? Meskipun jumlah netting Axelsen paling banyak di antara semua pukulan yang dilancarkan dirinya, tetapi pada faktanya, netting Axelsen tidak sebaik Momota. Dia berkali-kali tidak mau meladeni pukulan-pukulan netting tipis dari Momota, dan memilih untuk mengangkat bola tinggi-tinggi ke area belakang lawan. Hal itu menunjukkan bahwa pukulan netting merupakan salah satu titik yang belum sempurna dari pemain hebat seperti Axelsen, yang bisa dimanfaatkan lawan-lawannya. Pada pertandingan ini, Momota jelas lebih spektakuler dalam urusan netting. Pada setiap kesempatan adanya pukulan-pukulan netting dari Axelsen, Momota hampir selalu meladeni netting-netting tersebut, dan membuat Axelsen malah menyerah sendiri, lalu melakukan lob.

Jumlah 38 pukulan netting silang dari Axelsen merupakan jumlah yang sangat banyak dalam satu pertandingan. Netting-netting silang tersebut diharapkan Axelsen untuk dapat mematikan langkah Momota, yang terkombinasi dari (secara keseluruhan) 59 pukulan netting lurus.

Lob lurus Axelsen dalam pertandingan ini berjumlah 39, sedangkan lob silangnya adalah 44. Yang terbaca dari data tersebut adalah kebiasaan pukulan lob yang dilancarkan Axelsen. Dengan seringnya Axelsen melakukan lob silang, Momota berkali-kali dapat memprediksi arah pukulan lawannya itu. Bahkan saat menonton videonya, beberapa kali saya dapat menebak “pukulan-pukulan angkatan” Axelsen ini. Terlalu seringnya Axelsen mengangkat shuttlecock dengan silang tersebutlah, yang membuat Momota tidak tersulitkan di pertandingan ini.

Pada data pertama di atas, terdapat data adu pukulan drive yang menghasilkan angka dari masing-masing pemain, dimana Viktor Axelsen mendapat 1 poin, dan Momota yang mendapatkan 2 poin. Poin yang didapat Axelsen tersebut bukanlah karena pukulan drive yang berhasil masuk, tapi lebih karena kesalahan yang dilakukan Momota. Sementara Momota mendapatkan poin tersebut dari hasil pukulan drive berhasil sempurna. Axelsen saya kira sangat sadar dengan kekurangannya dalam melakukan adu drive. Dia terkesan tidak mau memberikan kesempatan bagi Momota untuk melakukan drive-drive yang menguntungkan lawannya tersebut. Berkali-kali, saat Momota melancarkan pukulan-pukulan drivenya, Axelsen dengan cepat mengalihkan shuttlecock dengan cara lob atau dengan menyeberangkan hanya di depan net. Axelsen seperti takut untuk meladeni drive-drive dari Momota.

Mungkin hal tersebut wajar, karena tinggi badan kedua pemain yang tidak seimbang. Menurut data dari situs BWF, tinggi badan Axelsen adalah 194 cm, sementara Momota bertinggi badan 175 cm. Tinggi badan tersebut sangat berpengaruh pada pukulan-pukulan drive keduanya. Saat drive berlangsung, Momota dapat sangat sempurna melakukan pukulan drive, karena shuttlecock selalu melayang deras, sedikit di atas kepalanya. Sementara itu, dengan tinggi badannya yang menjulang, Axelsen tampak kesulitan dalam jenis pukulan ini, karena shuttlecock selalu mengarah ke bagian dada Axelsen. Dia memilih menolak drive daripada kehilangan poin dari jenis pukulan tersebut.

Secara garis besar, kekalahan Viktor Axelsen atas Kento Momota adalah karena kesalahannya sendiri, tetapi salah satu faktor dari kesalahan-kesalahan tersebut dipengaruhi oleh kekuatan di segala aspek yang dipunyai oleh Momota dalam pertandingan tersebut, terutama pertahanan.

Buruknya penampilan Axelsen sejak awal hingga pertengahan game pertama, mampu diperbaikinya menjelang akhir game, walaupun pada akhirnya Momota sanggup mengakhiri perlawanan Axelsen di game pertama. Kemudian pada awal game kedua, Axelsen sempat sebentar saja menampilkan perlawanan yang baik, tapi dia kembali melakukan kesalahan-kesalahan yang membuat perolehan skor Momota secara cepat menjauh dari poin yang didapat Axelsen.

Eksploitasi tenaga yang dicoba dilakukan Axelsen atas Momota tidak berhasil. Begitu pula dari segi penyerangan. Axelsen kalah di segala sisi di pertandingan ini. Momota mempunyai kelebihan-kelebihan dalam segala aspek yang sulit untuk ditaklukkan, dan itulah yang terlihat dari pertandingan ini, terutama kecepatan dan reaksi. Bisa dikatakan, ini adalah salah satu pertandingan terburuk yang dijalani Axelsen selama menjadi pebulutangkis level dunia. (Soni Tri Harsono)

Sumber Referensi:
1. bwfworldchampionship.com
2. bwfbadminton.com
3. bwfworldtour.com

Soni Tri Harsono
Pemuda kelahiran Pemalang, Jawa Tengah, 26 tahun lalu. Saat ini kuliah di Pemalang, penggemar bulutangkis, senang menulis dan tergabung di Komunitas Sastra Kapas Putih.

Berita Artikel Lainnya