Berita > Artikel > Sportainment

Juara di Arena, Juara di Hati

Minggu, 15 Juli 2018 21:40:23
3473 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Dua gelar berhasil dipersembahkan pebulutangkis Indonesia dari ajang Blibli Indonesia Open 2018 “The World’s Most Prestigious Badminton Tournament” dengan total hadiah yang “Super Wah” sebesar USD 1.250.000, sekitar Rp. 17 Miliar, pada hari Minggu (8 Juli) lalu di Arena Istora Senayan, Jakarta. Kedua gelar diraih dari nomor ganda campuran lewat pasangan Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, dan satu lagi diraih pasangan Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon dari nomor ganda putra.

Kegembiraan segenap penggemar bulutangkis Indonesia pun tumpah ruah di Istora. Arena Istora Senayan menjadi saksi keperkasaan Tontowi/ Liliyana naik ke podium juara. Sejumlah USD 92.500 pun dikantongi Tontowi/Liliyana, menambah pundi-pundi hadiah mereka dari berbagai gelar juara yang mereka torehkan. Jumlah yang sama, sebesar USD 92.500, juga diterima pasangan Kevin/Marcus yang merebutnya di Arena Istora untuk pertama kalinya.

Tontowi/Liliyana, peraih medali emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016, larut dalam kegembiraan publik Istora Senayan yang senantiasa memberikan dukungan kepada mereka. Bagi Tontowi/Liliyana, kegembiraan ini mungkin rasanya berlipat. Ini kali kedua mereka menggenggam gelar Indonesia Open di hadapan pendukungnya sendiri, di Istora Senayan yang selama ini terasa angker buat mereka. Pada ajang BCA Indonesia Open Superseries Premier 2017 dengan total hadiah USD 1.000.000 yang digelar di Plenary Hall Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta, Owi/Butet demikian sapaan akrab Tontowi/Liliyana, naik ke podium juara untuk pertama kalinya di hadapan publiknya sendiri.

Kegembiraan penggemar bulutangkis di Tanah Air pun, juga Tontowi/Liliyana, tentunya dirasakan segenap keluarga besar PB Djarum. Dua gelar yang dipersembahkan atlet-atlet Indonesia dari ajang Blibli Indonesia Open 2018 yang didukung oleh Bakti Olahraga Djarum Foundation berhasil dipersembahkan tiga atlet yang berasal dari Perkumpulan Bulutangkis (PB) Djarum. Mereka adalah Tontowi, Liliyana dan Kevin. Ketiganya kini menjadi icon PB Djarum, sebagai bukti komitmen PB Djarum yang tak putus dan tak mengenal lelah memajukan bulutangkis Indonesia.

Dua gelar yang berhasil dipersembahkan Tontowi, Liliyana dan Kevin dari Arena Istora tentunya semakin memberi semangat PB Djarum untuk terus berkomitmen memajukan bulutangkis di Tanah Air.

“Artinya PB Djarum memiliki icon yang bisa ditiru oleh adik-adiknya,” ujar Fung Permadi, Manajer Tim PB Djarum, menilai keberhasilan Tontowi, Liliyana dan Kevin.

Siapa yang tak mengenal PB Djarum? PB Djarum banyak melahirkan atlet berbakat yang mengharumkan nama Indonesia di dunia internasional. Atlet-atlet PB Djarum menjadi legenda bulutangkis yang menghiasi perjalanan sejarah bulutangkis Indonesia. Nama-nama yang masih ada dalam ingatan kita, Christian Hadinata, Liem Swie King, Kartono, Eddy Hartono, Sigit Budiarto, Denny Kantono, Antonius Budi Ariantho, Hastomo Arbi, Bobby Ertanto, Alan Budi Kusuma, Hariyanto Arbi, dan Maria Kristin.

Perjalanan PB Djarum berawal dari sebuah brak (tempat karyawan melinting rokok) di Kudus pada tahun 1969 yang digunakan sebagai tempat berlatih bulutangkis di bawah nama komunitas Kudus. Disanalah awal lahirnya para atlet muda berbakat, Liem Swie King yang mengukir tinta emas menjuarai All England tiga kali (1978, 1979 dan 1981) dan juga beberapa kali ikut merebut Piala Thomas bagi Indonesia.

Perjalanan pencarian dan pembinaan bakat-bakat muda bulutangkis tak pernah putus, PB Djarum di bawah naungan Bakti Olahraga Djarum Foundation membuktikan komitmennya untuk terus memajukan bulutangkis Indonesia. Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis kini tak hanya dilakukan di Kudus saja, tradisi menunggu kini berganti menjadi tradisi “jemput bola” yang tahun ini memasuki tahun keempat.

Upaya dan komitmen PB Djarum membuahkan hasil nyata. Kevin Sanjaya Sukamuljo yang lahir di Banyuwangi, 2 Agustus 1996, merupakan salah satu bukti keberhasilan PB Djarum menemukan bakat bertalenta lewat audisi umum. Kevin masuk PB Djarum lewat audisi di tahun 2007, setelah sempat gagal di tahun 2006. Sepuluh tahun mendapat gemblengan di PB Djarum, Kevin menuai prestasi emasnya di level internasional pada tahun 2017. Bersama Marcus Fernaldi Gideon, pasangannya, Kevin mengantongi 7 gelar super superseries dimulai awal tahun dari ajang All England, India Open, Malaysia Open, Jepang Open, China Open, Hong Kong Open, hingga Dubai World Superseries Final di akhir tahun.

Tujuh gelar superseries dalam genggaman Kevin/Marcus mencatatkan nama mereka sebagai ganda putra terbaik dunia yang mampu merebut gelar superseries terbanyak dalam satu kalender. Rekor ini melampaui capaian ganda putra Negeri Ginseng, Lee Yong-dae/Yoo Yeon-seong, yang merebut enam gelar superseries di tahun 2015. Tahun ini Kevin/Marcus juga mencatatkan rekor baru di ganda putra usai ajang All England 2018, sebagai ganda putra yang berhasil meraih poin sebanyak 100.000 poin, persisnya Kevin/Marcus meraih total 108.789 poin.

Kini “Duo Minions” Kevin/Marcus kembali menjadi andalan Indonesia untuk menyabet satu medali emas dari cabang bulutangkis pada ajang Asian Games 2018 yang tak lama lagi digelar. Selain Kevin/Marcus, pasangan Tontowi/Liliyana juga menjadi andalan Indonesia untuk meraih target satu medali emas dari cabang bulutangkis.

Tak sekadar menelorkan atlet-atletnya menjuarai berbagai arena, rupanya PB Djarum menaruh harapan agar masyarakat ikut merasa memiliki kebanggaan bersama menikmati bulutangkis. Selama sepekan Ajang Blibli Indonesia Open 2018 yang merupakan seri HSBC BWF World Tour Super 1000 berlangsung (3 Juli -8 Juli) di Istora Senayan, PB Djarum berkesempatan mendekati hati penggemar bulutangkis di Tanah Air.

Upaya PB Djarum sepertinya membuahkan hasil. Booth PB Djarum yang berada di sisi utara Istora selalu ramai dikunjungi penggemar bulutangkis yang datang ke Istora. Booth yang ditata menarik, dinding luar dengan warnah putih, sementara di dalam warna merah maron yang menjadi kekhasan PB Djarum begitu mendominasi. Ada satu layar besar berukuran sekitar 30 inci menempel di sisi luar sebagai informasi aktivitas PB Djarum.

Selama sepekan booth PB Djarum yang menjadi ajang penjualan official merchandise PB Djarum, tempat bermain game Ladder Rush, arena Foto 180° dan sebagai ajang Meet & Greet atlet PB Djarum yang turun berlaga di Istora. Merchandise atlet-atlet PB Djarum menjadi salah satu booth yang diserbu para penggemar bulutangkis. Ada merchandise berupa gantungan kunci, topi, celana, kaos kunci, topi, kaos oblong, celana hingga jaket menjadi barang-barang yang diburu. Harga merchandise bervariasi, dari yang terendah seperti gantungan kunci seharga Rp 15.000 per buah, lalu kaos oblong Rp 60.000 per potong, jaket bomber dan jaket hoodie seharga Rp 200.000 per potong, hingga yang termahal berupa tas raket seharga 250.000.

“Kaos oblong merah netral dengan tulisan ‘badminton’ dan jaket bomber paling diminati,” ujar Karina, salah seorang penjaga booth PB Djarum. “Paling laris kaos merah badminton, orang-orang beli sampe 5-6 potong,” Karina menambahkan.

Tak hanya merchandise PB Djarum yang laris manis, tapi game Ladder Rush dan arena Foto 180°, kita harus mengantri untuk bisa ikut. Game Ladder Rush ini berupa permainan digital sesungguhnya, dimana pada layar monitor di dinding tersedia gambar atlet yang berlari seperti sesi ladder drill, yaitu berupa latihan pada tangga yang diletakkan di tanah atau di lantai, dimana atlet melompati ruang yang kosong. Biasanya latihan ini berfungsi untuk meningkatkan kelincahan atlet. Di dalam game ini, yang bisa dimainkan 2-4 orang yang berlomba melewati ladder, dimana tenaga berlari didapat dari pemain yang memukul alat perkusi yang tersedia untuk setiap pemain. Semakin kencang kita memukul perkusi, maka semakin cepat kita berlari melewati ladder yang ada untuk menjadi pemenang. Pemenang game akan mendapatkan cendera mata berupa video tutorial berlatih bulutangkis dan stiker PB Djarum.

Tak sekadar game belaka, namun PB Djarum cukup kreatif membuat game ini sambil memperkenalkan salah satu latihan yang dijalani atlet PB Djarum selama mereka berlatih di PB Djarum.

Arena Foto 180° yang ada di booth PB Djarum juga arena yang banyak diminati, para penggemar bulutangkis harus mengantri untuk beraksi di arena foto yang hasilnya terlihat seperti film tiga dimensi, benar-benar terasa hidup. Dengan aksi memegang raket badminton sambil melompat, gaya pun direkam dari 10 kamera sekaligus. Foto video berdurasi beberapa detik dalam bentuk file GIF ini sungguh unik saat dishare di media sosial.

“Kaos-kaosnya gak mahal, gamenya mengasyikkan,” ujar Wahid yang datang bersama keluarga dari Semarang. Foto 180° bersama keluarga pun tak dilewatkannya.

Aneka merchadise dan game yang ada di booth PB Djarum benar-benar membuat kecintaan kepada PB Djarum semakin melekat. Penggemar bulutangkis Indonesia semakin mengenal PB Djarum lebih dekat. Tak hanya merebut gelar juara di arena, PB Djarum juga berhasil merebut hati penggemar bulutangkis di Tanah Air. (fk)


Berita Sportainment Lainnya