Berita > Artikel

Demi Regenerasi, PBSI Turunkan Pemain Muda

Kamis, 26 Juli 2018 22:24:34
2610 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Ada yang menarik melihat tim Merah Putih di Kejuaraan Dunia 2018. Tak hanya mengirim pemain andalan yang kini duduk di peringkat satu dunia, Kevin Sanjaya Sukamuljo/ Marcus Fernaldi Gideon, PBSI juga memberikan kesempatan kepada para pemain muda seperti pasangan ganda putri junior, Agatha Imanuela/ Siti Fadia Silva Ramadhanti.

Duet Agatha/Fadia tahun ini masing-masing berusia 18 tahun. Pasangan ini merupakan andalan Indonesia pada ajang Asia Junior Championships dan World Junior Championships 2018 dua pekan lalu.

“Proses regenerasi itu harus terjadi, menurut kami ini suatu hal yang positif. Kami melihat prospek dan potensi dari si atlet. Kami menilai hasil di Indonesia Open kemarin, dimana Agatha/Fadia bisa memberikan perlawanan dari pasangan terkuat dunia, ini menjadi pertimbangan bahwa mereka sudah waktunya merasakan turnamen di level yang lebih tinggi,” ungkap Achmad Budiharto, Sekretaris Jenderal PP PBSI.

Sebelum di kejuaraan Asia Junior, duet Agatha/Fadia juga sempat menjajal pertarungan di arena Blibli Indonesia Open 2018 HSBC BWF World Tour Super 1000. Walau kalah, Agatha/Fadia bisa mencuri satu game dari ganda putri andalan Jepang, Misaki Matsutomo/ Ayaka Takahashi dengan skor akhir 21-17, 12-21 dan 11-21.

Tak berbeda yang dengan Gregoria Mariska Tunjung, pemain tunggal putri yang tahun lalu baru saja menjuarai gelar World Junior Championships 2017. Grafik penampilan Gregoria dinilai mengalami peningkatan sehingga ia dinilai layak untuk tampil di Kejuaraan Dunia 2018 bahkan di Asian Games 2018.

“Setelah dia menjuarai WJC, kami melihat Gregoria memang punya potensi. Segera kami fasilitasi untuk ikut turnamen yang lebih berat. Jujur saja kami memang tidak terlalu memberikan beban kepada dia di kejuaraan dunia, untuk harus menang, yang penting Gregoria berjuang dan bisa merasakan atmosfer di level yang lebih tinggi. Itu yang harus dia dapatkan pembelajarannya,” Budiharto menjelaskan lebih jauh, seperti kami lansir dari rilis PBSI yang kami terima malam ini.

Dilanjutkan Budiharto, proses pembelajaran dan menimba pengalaman menjadi objektif utama keikutsertaan para pemain-pemain muda di Kejuaraan Dunia 2018.

“Jadi tidak boleh terlalu memaksakan dan memposisikan seolah-olah ini adalah kejuaraan yang jadi beban mereka. Tidak perlu ditakut-takuti, ini kejuaraan dunia lho, karena kondisi non teknis itu sangat berperan sebelum masuk ke lapangan,” kata Budiharto. (*)

Berita Artikel Lainnya