Berita > Artikel > Sosok

Momota Comeback Rebut Juara Dunia

Senin, 06 Agustus 2018 13:47:53
3972 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

  • ©bwfworldchampionships.com

  • Kenichi Tago & Kento Momota

    ©The Japan Times

Tak banyak cerita comeback yang benar-benar menginspirasi seperti yang dialami Kento Momota. Ajang Kejuaraan Dunia 2018 menjadi momen terindah bagi Momota naik ke podium juara setelah 15 bulan “diPHK” dari turnamen bulutangkis.

Suatu pengalaman yang menyakitkan dan tak terlupakan tentunya bagi Momota yang dilahirkan di Prefektur Kagawa, Jepang, 1 September 1994. Sebagai tunggal putra andalan Negeri Matahari Terbit, Momota diharapakan bisa menyumbangkan satu medali emas bagi negerinya pada Olimpiade Rio 2016. Sebuah kesalahan anak muda yang nakal membuat perjalanan hidup Momota berbuah petaka. Momota bersama teman bulutangkisnya Kenichi Tago, kedapatan bermain judi ilegal. Judi kasino merupakan sesuatu yang ilegal di Jepang, dan masyarakat kedapatan yang bermain kasino bisa dipenjara.

Tak ada ampun bagi Momota dan Tago. Keduanya mendapat hukuman yang menguburkan karir dan impian bulutangkis mereka. NBA menghukum keduanya tidak bisa mengikuti pertandingan bulutangkis untuk waktu yang ditentukan.

Penyesalan yang mendalam di kedua bulutangkis, dan mereka menyampaikan permohonan maaf. Bayangan bertanding di arena Olimpiade Rio yang tinggal empat bulan lagi, terkubur sudah.

“Ini adalah impi an masa kecil saya untuk berkompetisi di Olimpiade, dan dengan melakukan hal yang baik untuk mewujudkannya. Saya berpikir bahwa saya akan dapat memberikan energi dan keberanian kepada orang-orang di Prefektur Fukushima,” ungkap Momota seperti di situs Japantimes.co.jp.

Meraih medali di arena Olimpiade Rio menjadi salah satu impian Momota yang ingin dipersembahkannya bagi Prefektur Fukushima, kota kelahirannya yang hancur dilanda gempa di tahun 2011.

“Tetapi karena tindakan saya yang tidak bijaksana, saya gagal memenuhi harapan mereka dan saya sangat menyesalinya,” sesal Momota.

Tak cuma Momota, Tago pun menyesal luar biasa. Tago bersedia menerima hukuman hukuman berat untuk segala kesalahannya, dan ia memohon agar Momota diberikan kesempatan kedua.

“Itu adalah tanggung jawab saya untuk menempatkan Momota dalam situasi ini,” kata Tago, terisak. “Dia sedang mempersiapkan Olimpiade, dan saya benar-benar merasa kasihan padanya,” Tago menyesali.

“Dia saat ini adalah salah satu pemain top di dunia. Saya akan menerima hukuman apa pun yang diberikan kepada saya. Saya akan menerima bila saya tidak lagi dapat bermain bulutangkis. Tapi, saya tahu itu aneh bagi saya untuk mengatakan ini, saya ingin Momota diberi satu kesempatan lagi,” Tago memohon di depan masyarakat saat jumpa pers.

Jepang yang juga dikenal sebagai Negeri Sakura ini juga dikenal sebagai negeri yang memiliki budaya disiplin tinggi. Momota juga pun harus merasakan kerasnya kedisiplinan di negerinya. Tak peduli kehebatannya sebagai pemain top dunia seperti disebutkan Tago. Sederetan gelar telah disabet Momota seperti ajang Singapore Open 2015, Indonesia Open 2015, World Superseries Finals 2015 dan India Open 2016. Medali perunggu Kejuaraan Dunia 2015 dikalungkan ke Momota. Tapi semua gelar yang telah direbutnya tak menghilangkan hukuman, Momota pun harus menerimanya.

Menang bukanlah segalanya bagi Jepang yang tidak memiliki toleransi terhadap ketidakdisiplinan. Kinji Zeniya, Sekjen Asosiasi Bulutangkis Jepang Kinji Zeniya, seperti kami kutip di situs Badmintonasia.org, menggambarkan perilaku Momota dan Tago sebagai ketidakdisiplinan kotor. Sebagai pemain “mereka memiliki tanggung jawab serius terhadap masyarakat.”

Waktu berjalan, setahun berselang, Asosiasi Bulutangkis Jepang pun memberikan keringanan hukuman bagi Momota. Larangan bertanding Momota dicabut. Jalan terbuka, tapi tak mudah bagi Momota untuk menapakinya. Peringkatnya pun berada tak ada tercatat, semua poin sudah terkubur bersama hukuman yang diterimanya. Dimulai dari Nol, seperti iklan Pertamina, demikianlah yang harus dilewati Momota. Momota pun memulainya dari turnamen kecil di negerinya The Japan Ranking Circuit Tournament akhir Mei tahun lalu.

Memang tak mudah bagi Momota, kalender turnamen Badminton World Federation pun dijajakinya yang paling rendah. Tahun lalu Momota mengawalinya dari ajang Canada Open Grand Prix 2017, tapi harus dilewatinya dari babak kualifikasi. Hasil tak mengecewakan, langkah Momota berakhir sebagai runner up di turnamen berhadiah total USD 65,000 tersebut. Berlanjut di turnamen lainnya, Momota harus merangkak dari babak kualifikasi untuk meraih poin demi poin. Gelar juara pun disabetnya dari ajang US International Series 2017, Belgian International Challenge 2017, Czech Open International Challenge 2017, Dutch Open Grand Prix 2017, Macau Open Grand Prix Gold 2017. Dua turnamen terakhir tak harus dilewatinya dari babak kualifikasi.

Membuka tahun 2018, langkah Momota dengan poin yang lebih baik berhasil mencapai babak perempat final di ajang Swiss Open HSBC BWF World Tour Super 300 2018 HSBC BWF World Tour Super 300 dan German Open 2018.

Kilau sukses mulai terlihat saat Momota naik ke podium juara di ajang Vietnam International Challenge 2018. Berlanjut podium juara menjadi milik Momota di ajang yang lebih bergengsi yaitu Badminton Asia Championships 2018 yang berlangsung di Wuhan, Tiongkok. Ajang bergengsi pebulutangkis terbaik di kawasan Asia ini menjadi sinyal kembalinya pamor Momota. Di partai final, Momota, berhasil menumbangkan Chen Long di hadapan publiknya sendiri dengan skor meyakinkan 21- 17 dan 21-13. Sebelum mencapai babak final, Momota sukses menyingkirkan lawan-lawannya Lee Chong Wei (Malaysia), Chou Tien Chien (Taiwan), Shi Yuqi (Tiongkok) dan Nguyen Tien Minh (Vietnam).

Gelar juara kembali diraih Momota pada ajang bergengsi Blibli Indonesia Open 2018 seri HSBC BWF World Tour Super 1000 dengan total hadiah tertinggi sebesar USD 1,250,000. Sepekan sebelumnya, satu gelar terlepas dari tangan Momota pada ajang Malaysia Open 2018 HSBC BWF World Tour Super 1000, di partai final Momota harus mengakui keunggulan andala tuan rumah Lee Chong Wei yang ditaklukkannya di Wuhan.

Puncaknya, Kento Momota berhasil membuktikan dirinya sebagai tunggal putra dunia terbaik saat ini. Di partai final yang berlangsung hari Minggu (5/8) di Nanjing, Tiongkok, Momota kembali memupuskan harapan tuan rumah seperti saat ajang Badminton Asia Championships 2018 di Wuhan. Momota menaklukkan unggulan tiga, Shi Yuqi yang mendapatkan dukungan penuh publiknya sendiri di Nanjing Youth Olympic Games Sport Park Arena. Momota membungkam Yui dengan skor yang meyakinkan 21-11 dan 21-13. Kemenangan Momota atas Yuqi kemarin tak seberat seperti di laga pertamanya di Wuhan lalu, kala itu Momota harus melewati laga tiga game 21-15, 12-21 dan 21-12.

Tak memperberbaiki capaiannya di tahun 2015, saat Momota meraih perunggu. Kemenangan Momota memecahkan rekor sebagai tunggal putra pertama Jepang yang berhasil meraih gelar juara dunia.

“Saya sangat senang menjadi yang pertama dari Jepang untuk memenangkan gelar tunggal putra,” ungkap Momota seperti kami lansir di situs bwfworldchampionships.com. “Saya berutang kesuksesan saya kepada para pendahulu saya dan banyak orang lain yang telah membantu saya,” tambah Momota.

Saat ditanya bagaimana perasaannya saat absen 15 bulan dari turnamen bulutangkis karena menjalani hukuman, Momota pun menjawab: “Ada saat ketika saya pergi dan saya menerima banyak dukungan. Sekarang saya lebih kuat daripada di masa lalu. Saya berterima kasih kepada semua orang yang mendukung saya sebelumnya.”

“Saya ingin menjadi seperti Lee Chong Wei dan Lin Dan yang telah memiliki karir yang panjang. Saya ingin menikmati permainan saya dan menghibur penonton. Saya tidak memiliki harapan untuk final, saya bermain dengan pikiran bebas dan mempercayai gerak kaki dan pertahanan saya untuk melawan serangannya,” tambah Momota.

Kalah untuk kedua kalinya di depan pendukungnya sendiri, Shi Yuqi juga mengagumi lawannya.

“Saya mengenal Lin Dan dan Chen Long karena mereka adalah rekan tim saya. Saya akan mengatakan Momota lebih cepat dari mereka dan dia cukup sabar. Dia cenderung membuat lebih sedikit kesalahan dan saya kehilangan banyak poin mudah hari ini,” ungkapa Yuqi. (*)

Perjalanan Kento Momota naik ke podium juara :
Final :
- Kento Momota vs Shi Yuqi (CHN) 21-11, 21-13
Semifinal :
- Kento Momota vs Daren Liew (MAS) 21-16, 21-5
Perempat final :
- Kento Momota vs Sai Praneeth B. (IND) 21- 12, 21-12
Babak 16 besar :
- Kento Momota vs Anders Antonsen (DEN) 13-21, 21-17, 21- 8
Babak 32 besar :
- Kento Momota vs Luka Wraber (AUT) 21-8, 21-10
Babak 64 esar :
- Kento Momota vs Artem Pochtarov (UKR) 21-13, 21-12

Berita Sosok Lainnya