Berita > Artikel

Jepang Sebagai Kiblat Baru Badminton Dunia (Bagian 2)

Kamis, 09 Agustus 2018 12:09:04
3611 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Kembalinya Jepang menjadi salah satu negara adidaya bulutangkis dunia memang sangat fenomenal. Mahkota sebagai ratu bulutangkis dunia hingga awal tahun 1980/1981 yang hilang direbut China dan tergeser dari hiruk pikuk prestasi putri-putri Korea Selatan, Indonesia, dan Denmark, saat ini bisa dibilang sudah dapat direbut kembali.

Di bagian putra lebih dasyat lagi. Tidak pernah menjadi tim yang benar-benar diakui sebagai yang terkuat di dunia di era 50 atau 60-an, kini mereka tiba-tiba menjelma menjadi monster yang menakutkan.

Rasanya pantas saja jika Jepang menjadi rujukan bagi Indonesia, khususnya bagaimana menciptakan atlet-atlet yang tidak saja kuat secara otot, piawai di skill, namun juga cerdas dalam menghadapi segala dinamika strategi yang terjadi di lapangan.

Indonesia adalah gudangnya pemain dengan skill tinggi. Namun, dengan kondisi di mana skill antar pemain kelas dunia saat ini nyaris setara satu sama lain, maka kecerdasan dan intelejensia menjadi kunci. Barangkali pembinaan kita sudah usang karena tidak menyentuh pengembangan kecerdasan pemain. Akibatnya hanya pemain-pemain yang dari lahir sudah dianugerahi otak yang cerdas seperti Susy Susanti, Liliyana Natsir, Greysia Polii, Tony Gunawan dan segelintir lainnya yang bisa melejit dan bertahan lama. Selebihnya, harus menyerah hanya gara-gara tidak bisa berpikir pintar di lapangan ketika lawan dengan skill sepadan bahkan dengan bakat jauh di bawahnya menggunakan kecerdikan akal pikiran.

Mudah-mudahan PB PBSI menemukan formula yang jitu dan moderen untuk mengasah kecerdasan otak pemain. Jangan hanya fokus di otot saja.

Kecerdasan juga akan membangun mental pemain menjadi lebih baik. Attitude seringkali terbangun kuat berkat kecerdasan yang tinggi. Kecerdasan juga akan menjadikan atlet mampu mengembangkan diri sebagai bintang di lapangan, insan sportif yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai olimpisme, dan mengerti bagaimana mengelola diri sendiri untuk menggapai prestasi yang lebih tinggi.

Dalam perbincangan dengan wartawan senior, saya mendengar bahwa Kevin Sanjaja Sukumuljo/ Marcus Fernaldi Gideon tidak pernah merencanakan pola khusus ketika hendak bertanding alias hantam saja di lapangan. Tanpa pola, katanya mengutip ujaran pelatih. Sekilas ia mengernyit, tapi buat saya itu adalah hal luar biasa yang membutuhkan kecerdasan tinggi dari Kevin maupun Marcus. Hingga saat ini pun, saya masih berkeyakinan dua pemain tersebut memiliki kecerdasan yang luar biasa karena harus melakukan keputusan dan pukulan strategis dalam hitungan waktu yang sangat sangat cepat. Di satu sisi, saya semakin yakin bahwa kecerdasan pemain menjadi kunci utama saat ini.

Menajamkan kecerdasan otak atlet tentu saja bukan melulu memaksa mereka untuk sekolah. Saya yakin, pasti banyak metode-metode yang seru, moderen dan inovatif yang bisa diterapkan. Tak ada salahnya menunjuk pakar olahraga kelas dunia yang mengadopsi IPTEK untuk terlibat dalam pembinaan prestasi atlet. Saatnya berpikir out-of-the box. Jangan konvensional. Dunia berputar cepat, dinamika terus terjadi, jadi berinovasilah PBSI, terutama dalam membina serta mencetak pemain-pemain tangguh sesuai zaman. (moemoe)

Berita Artikel Lainnya