Berita > Artikel

Jojo Kalah, Apa Kata Mereka?

Rabu, 12 September 2018 16:46:44
710 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Setelah sekian lama harus 'terpaksa' absen, akhirnya saya bisa kembali kesini. ternyata banyak hal yang terjadi selama saya absen. Topik pertama dan yang paling hangat adalah Jojo. Nama Jojo menjadi topik hangat kali ini. Setelah berhasil meraih medali emas di Asian Games 2018, ternyata kali ini dia harus takluk di babak satu. Saya membaca komentar teman-teman mengenai Jojo yang selalu dihubungkan dengan pencapaian luar biasanya di turnamen sebelumnya.

Menarik memang membicarakan Jojo saat ini. Usianya masih sangat muda. Rupawan parasnya. Menawan bodynya. Dewasa pola pikirnya. Bagus attitudenya. Pasti banyak yang menyukainya (termasuk saya. Hehehehe .......). Namun yang namanya hukum kehidupan, semakin tinggi kita melangkah maka semakin banyak pula tantangan yang harus kita hadapi.

Jojo dengan prestasi di usia muda begitu terasa mempesona. Tidak semua orang yang bisa meraihnya. Bahkan saya aja di umur segitu belum menjadi apa-apa. Terlepas dari berbagai anggapan bahwa ada unsur keberuntungan ataupun tidak dalam setiap raihan yang ia dapatkan, apa yang diraih Jojo bukan tanpa kerja keras. 12 tahun bukan waktu yang sebentar. Sudah cukup lama kita tidak lagi memunculkan tunggal putra yang mampu meraih medali di ajang besar seperti Asian Games. Mau siapapun lawannya dan bagaimanapun prosesnya, kita sudah sama-sama melihat secara langsung bahwa Jojo tidak mendapatkannya dengan mudah. Butuh usaha yang luar biasa untuk mendapatkannya.

Mereka yang menjadi lawan Jojo sejatinya tidak ada yang bernilai biasa. mereka terbentuk dan terlatih dengan kerja keras pula, maka saya percaya tidak ada proses dan usaha yang biasa-biasa saja yang dilakukan untuk mengalahkan mereka. Oleh karena itu apresiasilah segala usahanya. Toh, kalo kita jadi dia, kita belum tentu meraih hasil yang lebih baik ataupun mendekati pencapaiannya karena sejatinya kemenangan yang sebenarnya tidak pernah dihasilkan dari proses instan dan biasa.

Topik atau kata 'konsistensi' memang terlihat begitu berat sehingga wajar saja jika hal ini selalu dibahas dengan serius. Ketika kata yang bernilai serius ini dikaitkan pada Jojo seringkali membuat kita lupa bahwa anak ini usianya masih sangat muda, sebentar lagi akan berusia 21 tahun.

Saya sering sekali mengatakan di tulisan-tulisan saya sebelumnya bahwa saya sering lupa dengan usia Jojo ketika ia beraksi di karpet hijau. Dulu saya kaget saat ia berpartisipasi di Sudirman Cup dan SEA Games 2015, usianya masih sekitar 17 tahun. Saat itu ia termasuk salah satu andalan di tunggal putra. Begitupun saat ia berpartisipasi di ajang SEA Games 2017, saya sempat berpikir bahwa ia sudah di usia 20an, ternyata ia masih 19 tahun.

Coba kita menilik ke belakang, siapakah atlet bulutangkis di usia yang belum genap 21 tahun sudah menunjukkan konsistensi?Ttidak banyak kan? Memang, tidak banyak bukan berarti tidak ada. Ada, namun amat sangat sedikit jumlahnya. Hanya saja sebuah konsistensi di usia muda bukan hal yang mudah diperoleh oleh siapa saja. Hanya orang-orang yang 'spesial' di mata Tuhan yang bisa mendapatkannya. Seperti yang diutarakan oleh salah satu teman di forum diskusi Bulutangkis, bahkan seorang Taufik Hidayat dengan skillnya yang begitu spesial saja tidak diberkahi hal itu sepanjang karirnya.

Yang perlu harus kita sadari dan perbaiki adalah untuk mulai mengurangi ekspektasi tinggi terhadap pemain-pemain kita sekarang. Berharap sih boleh namun jangan terlalu berlebihan karena saya tidak ingin muncul rasa kecewa yang bisa melukai tidak hanya bagi sang pemain tapi juga bagi kita. Mereka masih punya jalan yang panjang. Masih banyak hal yang harus mereka pelajari dan jalani. Semuanya tidak bisa mereka dapatkan sekaligus. Olahraga bukan dunia sulap. Sedangkan sulap aja ada trik-trick yang sebenarnya tidak sederhana yang harus dipelajari, apalagi dunia olahraga, karena ada yang namanya sebuah proses yang panjang yang harus mereka lalui.

Saya juga sedih melihat Jojo kalah, tapi saya berusaha untuk tetap berpikir positif padanya. Saya percaya ia sudah berusaha semampunya. Saya yakin ia akan bangkit nanti. Nikmati saja prosesnya, Jo. Saya akan selalu menunggu perkembangan positifmu. Seperti yang selalu dikatakan oleh penggemar setia liverpool (Btw, saya juga adalah seorang penggemar liverpool loh). You'll never walk alone.

Meratapi satu kekalahan ini juga bukan keputusan yang bijak. Masih banyak pertandingan-pertandingan lain yang menantinya. Menang dan kalah itu biasa karena memang pilihan bagi seorang pejuang (atlet) hanya dua. Tidak ada yang ingin kalah, namun jangan jadikan kekalahan sebagai pembenaran untuk melakukan sebuah hal yang negatif. Tetap dukung atlet-atlet kita, jangan hanya di masa mereka berjaya tapi juga di masa mereka penuh duka. (Lily Dian)

Berita Artikel Lainnya