Berita > Berita

Ginting ''The Giant Killer'' ke Podium Juara

Minggu, 23 September 2018 18:45:15
1842 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Podium terhormat akhirnya menjadi milik pebulutangkis Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting, pada ajang China Open 2018 yang berlangsung di Changzhou, China.

Pebulutangkis kelahiran Cimahi, Jawa Barat, 20 Oktober 1996, yang lebih dikenal dengan Ginting ini kembali membuat kejutan di partai final yang berlangsung hari ini di Olympic Sports Center Xincheng Gymnasium, dengan menaklukkan pebulutangkis Jepang, Kento Momota, juara dunia 2018. Laga selama 1 jam 3 menit dilakoni Ginting untuk memenangkan laga dua game langsung dengan skor 23-21 dan 21-19.

Turun berlaga di turnamen seri HSBC BWF World Tour Super 1000 berhadiah total USD 1,000,000, Ginting bukanlah pemain yang diunggulkan. Namun, ini menjadi modal tersendiri baginya untuk tampil tanpa beban menghadapi sederetan bintang-bintang tunggal putra dunia. Dan terbukti mulai dari Lin Dan, Viktor Axelsen, Chen Long, Chou Tien Chen hingga Momota menjadi korban Ginting. Tak pelak Ginting pun mendapat julukan The Giant Killer.

Tak hanya puas dengan kemenangan Ginting merebut gelar juara, laga Ginting melawan Momota hari ini di final, benar-benar merupakan pertandingan kelas dunia. Comeback Momota dari hukumannya selama 2 tahun hingga merebut gelar Juara Dunia 2018, meneguhkannya sebagai tunggal putra dunia yang saat ini sulit ditaklukkan. Bahkan saat Ginting berhasil menaklukkan Momota di Asian Games 2018, masih ada penggemar bulutangkis yang ''berkilah'' Momota tak lagi dalam kondisi fit. Namun kini di Changzhou, tak ada lagi cerita miring bahwa Momota tidak fit apalagi pekan lalu di Japan Open 2018, Momota sukses naik ke podium juara. Pujian pun berhamburan menyaksikan laga dua tunggal putra dunia yang kedepan bakal mencuri perhatian bulutangkis dunia.

Kematangan mental Ginting sungguh mengagumkan. Tertinggal jauh dari Momota di game pertama, 14-19, tak membuatnya down. Gerakan Ginting yang begitu cepat dan gesit, mampu membuat Momota kerepotan.

Olah bola Ginting di net begitu sempurna, dan ini menjadi salah satu senjata Ginting yang cukup membuat Momota betul-betul kerepotan. Ginting akhirnya berhasil menyamakan kedudukan menjadi 19-19, ia terus menebar tekanan pada Momota saat balik unggul 20-19. Poin krusial diraih Ginting dan ia mengamankan game pertama.

Kematangan mental Ginting kembali teruji di game kedua. Lagi-lagi Ginting tertinggal 10-15, Ginting mampu mengacaukan mental bertanding Momota saat berhasil menyamakan kedudukan 16-16. Memimpin 18-16, Ginting semakin dekat menuju gelar juara. Ginting kian yakin dengan pukulan-pukulannya, sedangkan Momota tak lagi dapat mengendalikan Ginting.

"Puji Tuhan hari ini saya bisa menang. Hari ini pertandingannya ketat, skornya tipis. Waktu tertinggal, saya hanya mencoba menjalankan apa yang saya jalankan di pertandingan-pertandingan sebelumnya, saat saya tertinggal juga," ujar Ginting soal pertandingan.

"Saya tidak memikirkan poinnya ketinggalan berapa, fokus saja di cara main, jadi ya mukul untuk dapat poin, begitu saja. Di game kedua saya coba kuasai kondisi angin yang membuat saya melakukan kesalahan sendiri. Saya terus berusahan menekan lawan dengan serangan-serangan saya," tambah Ginting.

"Soal pukulan halus di depan net, memang itu salah satu usaha saya untuk mendapat kesempatan menyerang," ujarnya.

Ginting berhasil meraih gelar pertamanya di level Super 1000. Sebelumnya, mengawali tahun 2018, Ginting telah berhasil meraih gelar di Daihatsu Indonesia Masters 2018 BWF World Tour Super 500. (*)

Berita Berita Lainnya