Berita > Artikel > Sosok

Ginting: ''Sekarang baru beda rasanya''

Selasa, 25 September 2018 00:36:52
1645 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Tiada yang menyangka gelar juara tunggal putra pada ajang China Open 2018, akhirnya menjadi milik pebulutangkis Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting. Olympic Sports Center Xincheng Gymnasium, Changzhou, menjadi saksi keperkasaan pebulutangkis Indonesia ini naik ke podium juara usai membantai lawan-lawan tangguhnya tanpa ampun.

Pekan lalu di Japan Open 2018, peraih medali perunggu Asian Games 2018 ini, tersingkir di babak perempat final saat menghadapi Viktor Axelsen, andalan Denmark yang merupakan pebulutangkis momor satu dunia. Ginting, demikian namanya selalu dipanggil penggemarnya, dijegal Axelsen dua game langsung 17-21 dan 15-21. Menyimak bagan tunggal putra China Open 2018 di paruh atas, tentunya penggemar bulutangkis kembali menempatkan Axelsen yang merupakan unggulan satu diprediksi bakal bertemu Kento Momota dari Jepang di partai final. Atau setidaknya andalan tuan rumah, Chen Long, unggulan enam yang kemungkinan besar lolos bertemu Momota.

Namun, perkiraan di atas kertas tinggal perkiraan semata. Axelsen yang kembali bertemu Ginting di babak dua, kali ini harus menelan pil pahit. Ginting membalas lunas kekalahannya di Tokyo sepekan sebelumnya. Ginting menyingkirkan Axelsen dari turnamen BWF World Tour Super 1000 dalam laga dua game langsung 21-18 dan 21-17.

Sebelumnya, mengawali laga di babak pertama turnamen berhadiah total USD 1,000,000, Ginting menaklukkan satu andalan tuan rumah, Lin Dan, peraih medali emas Olimpiade Beijing 2008 dan Olimpiade London 2012. Ginting menyingkirkan Lin Dan dalam laga tiga game, 22-24, 21-5 dan 21-19.

Melaju ke perempat final, publik Changzhou yang hadir di Olympic Sports Center Xincheng Gymnasium, kembali menyaksikan andalannya menjadi korban ketangguhan Ginting. Chen Long, pemain tuan rumah yang merupakan peraih medali emas Olimpiade Rio de Janeiro 2016, dan juara dunia dua kali (2014 dan 2015), harus menelan pil pahit kekalahan usai laga yang melelahkan tiga game 18-21, 22-20 dan 21-16. Ini kekalahan beruntun kedua kali Chen Long sejak Asian Games 2018, kala itu Chen Long menuai kekalahan dua game langsung dari Ginting, 19-21 dan 11-21.

Peruntungan memang tak bisa diduga, semifinal China Open 2018 menjadi ulangan semifinal Asian Games 2018. Kala itu Ginting harus mengakui keunggulan Chou Tien Chen usai laga tiga game 21-16, 21-23 dan 17-21. Namun kali ini di Changzhou, kemenangan berpihak ke Ginting usai memenangkan laga atas Chen juga dengan rubber game, 12-21, 21-17 dan 21-15. Ginting pun merebut tiket final bertemu unggulan pool bawah yang diperkirakan melaju ke final, Kento Momota.

Partai puncak pun tak lantas mudah bagi Ginting. Ia mesti berhadapan dengan Kento Momota, sang Juara Dunia 2018 yang permainannya tengah menanjak. Namun rupanya, ketangguhan Ginting belum terpatahkan. Ginting ternyata berhasil mengatasi Momota dua game langsung, 23-21 dan 21-19.

"Saya bersyukur bisa melewati undian yang berat, kuncinya ya saya cuma berusaha, nggak terbebani. Waktu draw keluar, saya cuma melihat siapa lawan saya di babak pertama, itu saja. Makanya kalau ditanya, peluang lawan si A si B di perempat final, semifinal, saya tidak tahu, karena saya tidak perhatikan sampai ke sana. Saya fokus pada lawan yang akan saya hadapi besok," ujar Ginting seperti kami lansir di situs resmi PBSI Badmintonindonesia.org.

Julukan "The Giant Killer" saat Asian Games 2018 kepada Ginting, pemain jebolan klub SGS PLN Bandung, rasanya tak salah. Di Zhangzhou, China, Ginting kembali membuktikan dirinya benar-benar ''The Giant Killer'', menepis keraguan orang akan ketangguhannya.

"Sekarang baru beda rasanya, saya merasa senang karena mendapat gelar di turnamen level Super 1000 pertama saya, dan saya merasa perjuangan di turnamen ini komplit karena saya bisa keluar sebagai juaranya. Bukan cuma mengalahkan unggulan saja," ucap Ginting.

Menjawab pertanyaan banyak orang mengenai grafik penampilannya yang menanjak, Ginting menyebutkan bahwa ia memang belajar banyak hal demi meningkatkan performanya. Ginting memetik banyak pelajaran dari ajang Asian Games 2018, dimana ia meraih medali perunggu di perorangan, dan medali perak bersama tim beregu putra.

"Hal paling penting yang saya pelajari adalah dari Asian Games kemarin, saya mencoba untuk lebih menikmati permainan saya di lapangan. Kalau dari segi persiapan, yang paling berpengaruh adalah soal fisik saya. Kita tidak tahu bagaimana hasil undian kita di sebuah turnamen, jadi kalau dapat lawan yang berat terus, harus punya fisik yang prima untuk bisa sampai ke final dan juara," ujar Ginting. (*)

Berita Sosok Lainnya