Berita > Artikel

Disiplin dan Komitmen itu Memang Tidak Enak, Tapi...

Selasa, 09 Oktober 2018 08:14:28
398 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Keberhasilan dua tunggal putra Indonesia, Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie, pada pesta olahraga Asian Games 2018 begitu melekat di ingatan masyarakat Indonesia, khususnya penggemar bulutangkis. Rasanya masih seperti kemarin melihat kehandalan aksi mereka di Istora GBK Senayan, Jakarta.

Mereka berhasil menumbangkan para elit tunggal putra di kawasan Benua Asia. Akhirnya Anthony mempersembahkan medali perunggu, sedangkan Jonatan mendapat medali emas.

Seperti kata Jonatan, dirinya hanya juara di kala berada di podium juara saat menerima kalungan medali emas. Turun dari podium, dirinya bukan lagi sang juara. Ada tantangan baru yang harus dilalui untuk kembali berjuang agar bisa kembali naik ke podium juara.

Dan itulah kini yang dihadapi Jonatan dan Anthony. Keduanya memiliki tantangan lebih berat untuk bisa tampil konsisten dan meraih gelar-gelar bergengsi lainnya. Hendry Saputra, selaku Kepala Pelatih Tunggal Putra PBSI, terus menggembleng kedua pemain utama ini.

"Yang paling harus dijaga untuk bisa konsisten itu adalah disiplin dan komitmen. Disiplin harus dijaga. Setelah hasil Asian Games, pasti Anthony dan Jonatan punya komitmen sendiri, mereka pasti tidak puas sampai di Asian Games saja, namanya manusia pasti tidak ada puasnya, mau juara Asian Games, juara olimpiade," ujar Hendry dalam jumpa pers acara penyerahan bonus Asian Games 2018 kepada Jonatan dari PB Tangkas Intiland.

"Memang disiplin itu tidak enak, berkomitmen itu tidak enak. Tapi perlu diingat, olimpiade itu sebentar lagi. Cita-cita semua pemain dan bangsa ini adalah olimpiade," tambah Hendry, seperti kami lansir di situs resmi PBSI.

Kembali ke Asian Games, Hendry bercerita bahwa sejak kemenangan Jonatan atas Shi Yuqi (Tiongkok) di babak pertama, ia merasa punya keyakinan. Ditambah lagi saat Anthony berhasil menaklukkan Kento Momota asal Jepang.

"Kalau melihat hasil undian dan kondisi Jonatan (di turnamen sebelumnya), rasanya memang tidak memungkinkan. Tapi kalau Tuhan sudah berkehendak, tidak ada yang mustahil," sebut Hendry.

"Waktu Jonatan menang dari Shi, saya optimis sekali, tapi saya tidak bisa utarakan, saya diam saja. Kemudian Anthony menang dari Momota, itu adalah handicap saya, saya punya feeling, dari dua pemain saya itu, pasti akan ada yang dominan di Asian Games. Saya harus akui, lucknya memang ada di Jonatan, tapi Jonatan punya rekor pertemuan yang bagus dengan Chou Tien Chen. Kalau Anthony bisa menang dari Chou pun bagus, bisa all Indonesian final. Jadi, saya harus optimis, akan optimis terus," tuturnya.

Jonatan pun mengakui jika awalnya ia tak yakin bisa merebut emas, pasalnya penampilannya di beberapa turnamen terakhir kurang menggembirakan.

"Awalnya saya nggak optimis, apalagi sebelumnya di Kejuaraan Dunia saya kalah di babak pertama. Tapi dengan berkat dari Tuhan, saya tidak berhenti berusaha, hadiahnya saya dapat di Asian Games. Sekarang saya berlatih lebih keras karena ekspektasi masyarakat pasti lebih besar. Selanjutnya target terbesar saya adalah olimpiade, mulai tahun depan sudah fokus untuk mengumpulkan poin ke olimpiade," ungkap Jonatan.

PB Tangkas Intiland memberikan bonus sebesar Rp. 300 juta kepada Jonatan atas raihan medali emas di Asian Games 2018. Acara penyerahan bonus dilangsungkan di Jakarta Royal Golf Club, bonus diserahkan langsung oleh Ketua Umum PB Tangkas Intiland, Justian Suhandinata. (*)

Berita Artikel Lainnya