Berita > Artikel > Wawancara

Greysia/Apriyani Dalam Catatan Eng Hian

Senin, 17 Desember 2018 12:53:45
1252 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Sukses menembus ajang HSBC BWF World Tour Finals 2018, Greysia Polii/ Apriyani Rahayu, yang menjadi harapan Indonesia di sektor ganda putri belum berhasil meraih hasil maksimal. Tiga kekalahan di penyisihan grup A, membuat pasangan peringkat empat dunia ini gagal melangkah ke semifinal.

Kekalahan pertama dialami dari ganda putri Jepang, Misaki Matsutomo/ Ayaka Takahashi. Dan dua kekalahan lainnya atas ganda tuan rumah China, Chen Qingchen/ Jia Yifan dan Du Yue/Li Yinhui.

Capaian Greysia/Apriyani ini tentunya tak diharapkan para penggemar bulutangkis di Tanah Air. Begitu juga, Eng Hian, sang pelatih. Dalam wawancara dengan Badmintonindonesia.org di Tianhe Gymnasium, Eng Hian menuturkan hasil pengamatannya akan performa anak-anak didiknya tersebut.

Bagaimana coach menilai penampilan anak-anak di turnamen ini?
Pertama, saya lihat ada pressure dari mereka dari start turnamen, ini pengalaman pertama buat Apri. Dia belum pernah menjalani turnamen dengan sistem round robin yang isinya pemain top semua, yang biasanya baru mereka hadapi di perempat final. Kali ini di pertandingan pertama sudah harus berhadapan dengan pemain top. Buat Apri, ada tekanan, kalau kalah bagaimana ini?

Hal ini sangat mempengaruhi performa Apri dan ke partnernya juga. Kemampuan Apri tidak bisa keluar semua. Inilah hal utama yang saya evaluasi.

Apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka di lapangan?
Dalam masa persiapan ke turnamen ini, ada perubahan pola permainan, setelah pulang dari Hong Kong Open 2018, kami mengadakan review dan analisa video pertandingan. Ada beberapa poin yang harus ditambah, ada yang harus diperbaiki lagi. Ternyata ini berpengaruh pada penampilan mereka di turnamen ini. Mereka masih belum nyaman dengan perubahan ini. Kalau tidak mencoba, hasilnya selama ini tidak maksimal. Mau coba, tapi kok masih tidak nyaman? Mereka struggle sendiri, ini sudah kami diskusikan.

Apakah pola baru ini akan tetap dilanjutkan?
Menurut saya, harus dilanjutkan. Tergantung seberapa berani mereka terus mencoba, mempraktekkan, karena dengan pola lama, hasilnya seperti itu. PR Greysia/Apri ya itu, harus berani mencoba, kalau membuat evaluasi, itu tugas saya. Greysia/Apriyani juga harus bisa mengakali berbagai kondisi shuttlecock yang dipakai di pertandingan.

Pola baru ini sudah diuji coba di latihan?
Di latihan sudah berlangsung sangat bagus, pelatih-pelatih lain, pelatih ganda campuran dan lainnya pun melihat, lebih enak, lebih bagus. Tapi kalau di turnamen, ada pressure, ada rasa tidak mau kalah, beban mental dan lain sebagainya, jadi saya memahami penampilan mereka. Efeknya sampai tidak tahu apa yang harus diperbuat di lapangan, tapi saya tahu mereka tidak mau kalah, mereka masih struggle untuk menghadapi.

Pola ini masih akan tetap dipakai, harus coba terapkan di pertandingan, karena kalau di latihan saja tidak akan merasakan. Akan kami evaluasi lagi, bukan berarti dengan pola ini mereka seratus persen akan mulus. Tapi kalau tidak berani aplikasikan, bagaimana saya mau evaluasi? Dengan pola lama kan tidak berhasil, maka kita harus cari metode-metode baru.

Di penghujung tahun akan ada promosi dan degradasi, sejauh mana perubahan yang akan terjadi di ganda putri?
Untuk perubahan pasangan dan lain-lain, hingga saat ini masih berjalan sedang digodok lagi. Untuk kuota dari binpres (bidang pembinaan dan prestasi) adalah enam pasang, sesuai dengan apa yang diharapkan, tapi saya sedang mencoba, kalau bisa lebih dari ini kenapa tidak?

Sejauh ini memang pemain-pemain yang ada sekarang ini yang terbaik di pelatnas utama. Yang pasti ada dua pasangan junior yang naik ke atas (level utama). Untuk lebih lengkapnya nanti akan diumumkan oleh binpres.

Bagaimana dengan kondisi Nitya?
Dengan kondisi Nitya yang sekarang ini, setidaknya enam bulan lagi baru bisa ketahuan, dia masih bisa main lagi atau tidak. Dia perlu recovery secara fisik maupun mental. Setelah pembicaraan terakhir dengan tim dokter, progress operasi lututnya yang dulu, sudah pulih, sudah siap seratus persen untuk main lagi, tapi Nitya masih ragu-ragu, itu membutuhkan waktu yang lama.

Lalu dia terkena cedera achilles dan harus operasi. Setelah operasi, progressnya pun sudah sesuai dengan yang diharapkan. Sekarang semua tergantung dari Nityanya, apakah ada keraguan lagi?

Ini bukan kondisi yang mudah untuk Nitya, seseorang yang sudah membantu membangkitkan lagi ganda putri. Ibaratnya waktu pemulihan cedera lututnya, dari jongkok, sudah berdiri dan mau jalan, dia jatuh lagi dan harus jongkok lagi. (*)

Berita Wawancara Lainnya