Berita > Artikel

Ucok Bagaikan Printer Kehabisan Tinta

Rabu, 30 Januari 2019 08:02:36
1786 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Berbicara tentang kombinasi atau siapa yang harus dipasangkan butuh pertimbangan dari banyak hal. Sebagai orang awam yang hanya bisa menjadi pecinta sekaligus pengamat olahraga ini, saya ingin menyuarakan sesuatu. Mungkin sebenarnya hal ini sudah diketahui oleh para pelatih kita yang ada di pelatnas dan mungkin juga oleh teman-teman disini.

Hanya saja tulisan ini dimaksudkan sebagai sebuah pengingat yang mungkin saja kalau ternyata ada yang sempat terlupa. Saya hanya bisa bicara tentang perkembangan bulutangkis dari era 90-an karena saya memang tumbuh dan besar di era tersebut.

Dulu, kita punya beberapa ganda putra terbaik dunia yang begitu ditakuti dan disegani di eranya. Di sektor Ganda Putra (MD), kita punya Ricky Subagja/Rexy Mainaky, Candra Wijaya/Sigit Budiarto, Candra Wijaya/Tony Gunawan, Hendra Setiawan/Markis Kido, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan hingga Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon. Di sektor Ganda Campuran (XD) kita punya Trikus Harjanto/Minarti Timur, Nova Widianto/Liliyana Natsir hingga Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir. Lihatlah nama-nama pasangan ini, ada sebuah pola yang hampir sama yang membuat mereka menorehkan tintanya sendiri di kancah perbulutangkisan dunia. Disamping faktor talenta, bahwa untuk menciptakan sebuah pasangan yang fenomenal butuh perpaduan 2 manusia yang mengandung unsur visi, kreativitas, determinasi dan kerja keras.

Saya tidak ingin menyebutkan yang mana yang mengandung salah satunya atau mana yang mengandung ke semuanya. Karena bagi saya 4 faktor tersebut tidak bisa dipisahkan untuk membentuk sebuah pasangan yang kuat. Untuk lebih meyakinkan lagi, kita mungkin bisa mencari rekam jejak mereka semua ketika berpasangan dengan pemain yang berbeda, entah itu sebelumnya ataupun sesudahnya. Meski mungkin sama-sama pernah menorehkan prestasi atau menjadi juara, tetapi menurut saya tetap saja mereka menjadi berbeda ketika mendapatkan pasangan seperti yang saya sebutkan di atas tadi.

Di sektor XD teman-teman disini sudah mengutarakan pendapatnya bahwa si A lemah disini atau si B kuat disitu dan seterusnya. Menurut saya, memang di antara pemain putra XD memang Praveen Jordan secara kemampuan yang paling di atas, bahkan sebenarnya dari modal awalnya saja ia udah lebih unggul dari Owi, sapaan akrab Tontowi, jika menilik pada usia yang sama. Teman-teman bilang bahwa Ucok, demikian Praveen kerap dipanggil, bermasalah pada mental. Ya, saya tidak meragukan hal itu. Tapi yang saya lihat adalah bahwa Ucok (mungkin saja) sedang mengalami kelesuan karena masih belum menemukan pasangan yang memiliki visi yang sama dengannya.

Kondisi Ucok saat ini diibaratkan seperti sebuah printer multifungsi (print, fotocopy, scan, fax, dsb) yang jika tintanya habis atau ada yang mengalami gangguan maka alat tersebut tidak bisa kita gunakan sepenuhnya. Jika visi itu diibaratkan dengan sebuah tinta, maka Ucok perlu partner yang bisa mengisi ‘tinta’nya di atas lapangan dan itu yang belum ia temukan lagi setelah perpisahannya dengan Debby Susanto. Saya sebenarnya menyayangkan keputusan Debby untuk pensiun karena sebenarnya justru saat ini kemampuannya sedang matang-matangnya. Meski begitu, saya tetap menghormati keputusannya dan berharap yang terbaik untuknya di masa depan.

Kini Ucok harus menjadi leader di tengah ''kegoyahannya''. Sementara Hafiz Faisal membuat saya teringat dengan Riky Widianto. Ia menutupi kekurangan fisiknya dengan kerja keras dan determinasinya. Bahkan sempat terlintas kekhawatiran di benak saya jika ia akan bernasib sama seperti seniornya. Lain Ucok dan Hafiz, lain pula Alfian Eko Prasetya. Dulu saya sempat meramalkan bahwa ia akan melejit bersama dengan Ucok. Namun apa hendak dikata, ketidak beruntungan lebih banyak memihak padanya. Sempat gonta ganti pasangan, dari Gloria Emanuella Widjaja ke Shendy Puspa Irawati lalu Annisa Saufika, dan kini harus ''meng-emong-i'' Marsheilla Gischa Islami di saat ia masih belum begitu banyak pengalaman bermain di level atas. Saya melihat dari cara bermain Eko akhir-akhir ini, semangatnya terasa berbeda. Padahal anak ini modalnya sudah bagus.

Melihat kenyataan seperti ini, saya melihat tim pelatih ataupun PBSI harus punya program khusus terkait dengan mental dan juga dalam pembangunan mindset para atlet kita jika ingin menghasilkan banyak ‘peluru’ untuk meraih gelar juara. Saya harap program ini tidak lagi hanya ada saat event-event beregu saja seperti Thomas-Uber atau Sudirman Cup, tapi juga menjadi program rutin layaknya program latihan teknik dan fisik yang mereka jalani setiap harinya.

Tanpa bermaksud untuk tidak objektif atau bias, tapi di mata saya selain Owi yang sudah memberikan banyak sumbangsih untuk bulutangkis Indonesia, Ucok masih tetap menjadi sebuah aset berharga yang terbaik yang kita punya hingga saat ini bagi sektor XD kita dengan kemampuannya yang tidak biasa. Suka tidak suka dengan kenyataan ini, Ucok memang harus diberi perhatian khusus jika tidak ingin aset ini terbuang sia-sia. Teman-teman disini sudah memberikan masukannya terkait bongkar pasang dan siapa yang harus disandingkan dengan Ucok. Saya setuju bahwa pelatih XD harus berani mengambil resiko jika tidak ingin sektor ini jatuh terjerembap selepas kepergian Liliyana dan Debby. Tidak hanya dengan pemain yang seangkatan dengan Ucok, kalau perlu sandingkan ia dengan yang lebih muda seperti dengan Siti Fadia Silva Ramadhanti dkk misalnya.

Mencari atau mendapatkan atlet-atlet muda seperti saat menemukan Liliyana di tahun 2000-an dulu memang tidak mudah. Seorang legenda baru akan muncul lagi puluhan tahun kemudian setelah legenda sebelumnya pergi. Namun saya harap itu tidak akan segera terjadi pada sektor XD kita. Saya adalah seorang yang percaya bahwa legenda itu bukan melulu hanya dilahirkan, tapi ia bisa diciptakan dengan sebuah kerja keras. Sekarang tinggallah keputusan ada di tangan mereka, apakah mau bekerja keras atau tidak.

Seperti kata teman-teman disini, Zheng Siwei/Huang Yaqiong kini menjadi kiblat bagaimana XD China menjadi digdaya. Kedigdayaan ini membuat saya teringat dengan generasi mereka sebelumnya Zhang Nan/Zhao Yunlei. Mereka sama-sama punya 2 pasang XD yang sama-sama tangguh & saling bahu membahu menundukkan lawan untuk bisa sampai ke partai puncak. Zhang Nan/Zhao Yunlei ditemani Xu Chen/Ma Jin, sementara Siwei/Yaqiong ditemani Wang Yilyu/Huang Dongping. Untuk mengalahkan Siwei/Yaqiong satu-satunya cara adalah harus lebih siap ''membaca'' permainan di depan net daripada Yaqiong serta harus lebih ''lincah'' dan penuh ''determinasi'' daripada Siwei.

Sebagai pecinta bulutangkis, saya ingin menantang adik-adik saya di pelatnas. Saya tidak ingin menantang mereka untuk melebihi pencapaian seorang Liliyana Natsir, tapi saya ingin menantang kalian untuk lebih fasih membaca dari Huang Yaqiong dan siapa yang siap berlari kesana kemari ''bekerja keras'' untuk mengejar bola '' seolah tidak ada hari esok'' melebihi Zheng Siwei. Kalau mereka bisa lakukan itu, maka mungkin kita bisa berharap bahwa ada titik cerah di sektor ini. (Lily Dian)

Berita Artikel Lainnya