Berita > Berita

MBI Goes To Sabah Episode II (Bagian Dua)

Jumat, 15 Februari 2019 09:12:15
266 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak

  • Arief Rachman ©Bulutangkis.com

  • Arief Rachman ©Bulutangkis.com

  • Arief Rachman ©Bulutangkis.com

  • Current
Hari kedua di Sabah, kembali semuanya harus bangun lebih awal. Sesuai jadwal, pada hari Sabtu (26/1) para perserta akan berwisata menuju Pulau Manukan. Tapi sebelumnya semua peserta diboyong untuk sarapan menuju Segama. Segama merupakan sebuah lokasi dengan banyak ruko yang menjual berbagai macam jenis barang dagangan. Ruko/toko yang menjual pakaian, elektronik, makanan dan lainnya.

Untuk mengisi perut, kami datang bersama Bapak Ajahar menghampiri salah satu restauran di kota Kinabalu, Resturant Sri Rahmat. Restaurant muslim ini sudah berdiri sejak tahun 1978. Hal ini terlihat dari pigura yang dipajang di salah satu sisi restauran dengan mencantumkan tanggal awal buka beserta nama pengusahanya, yakni Rahmat Ismail. Di sini, semua peserta mencoba menu makanan ala Malaysia. Ada yang sengaja memesan roti telur atau yang di Indonesia mirip dengan Roti Cane. Jika di Malaysia, jenis roti ini dimakan dengan kuah kari yang memang selalu disediakan. Tak lupa, Ki Cai Ping sejenis minuman jeruk dingin menjadi sasaran berikutnya.

Selagi masa menunggu, beberapa peserta sengaja berjalan-jalan di sekitar restauran. Rupanya tak jauh dari lokasi merupakan pesisir pantai. Tetapi jangan membayangkan pantai yang ditemui adalah dengan hamparan pasir yang luas membentang. Di lokasi ini sepertinya sengaja dibuat dermaga tempat berlabuhnya kapal kecil. Tak ayal, bagi para wisatawan yang datang, lokasi ini menjadi tujuan untuk berswafoto atau juga dengan teman-temannya. Kesempatan ini juga yang tidak disia-siakan oleh beberapa peserta. Patung Ikan yang tepat berada di tengah-tengah persimpangan jalan seolah-olah menjadi Ikon dari Sabah yang harus di abadikan.

Sambil menunggu jemputan, semua peserta dibawa oleh Bapak Ajahar untuk mengunjungi pasar tradisional yang jaraknya hanya lima menit dari restauran. Tak berbeda juga dengan di Indonesia, hanya saja untuk ikan yang sudah dimasukkan kedalam plastik, sudah diberi label harga oleh para pedagang. Di pasar ini juga dijajakan buah-buahan yang juga ada di Indonesia. Nampak rambutan dan durian di antara buah-buahan lainnya.

Lepas melihat-lihat pasar ala Sabah, seluruh peserta langsung diangkut mobil rombongan menuju pelabuhan tempat bersandarnya kapal boat yang sudah disewa. Pelabuhan dengan nama Jeselton Jetty Point sangat nyaman untuk disinggahi. Berjejer bangku-bangku dari kayu tersedia bagi pengunjung yang menunggu kedatangan boat. Sambil mengisi waktu, mereka bisa minum kopi yang ditemani dengan pisang goreng khas Sabah. Atau jika belum sempat sarapan, disana tersedia makanan dengan menu dasar dari laut. Mengabadikan dengan foto juga begitu mengasikkan. Di bibir pelabuhan kita bisa berfoto dengan latar belakang laut dan boat atau juga apartemen.

Kurang lebih 20 menit waktu yang dibutuhkan untuk bersandar di pulau Manukan. Kesan pertama melihat pulau terbesar di Taman Tunku Abdul Rahman begitu menggoda. Warna lautnya yang hijau dan begitu jernih. Kita bisa melihat berbagai satwa laut berseliweran diantaranya. Binatang dengan sebutan Bulu Babi pun terlihat dengan jelas. Tak heran memang jika di sepanjang pantai dijadikan tempat untuk wisata snorkling. Pasirnya yang lembut dan berwarna putih juga enak untuk dipijak. Begitu mendarat, kami langsung dibawa oleh Adzlin, teman kami yang ada di Sabah menuju salah satu sudut pantai. Rupanya selain wisata laut, di sana kami akan dijamu dengan hidangan ala barbeque. Ada daging ayam yang sudah diberi bumbu, lalu daging domba muda yang juga sudah berlumeran bumbu sudah siap untuk dibakar. Tim dari Jakarta rupanya sangat handal membakar makanan yang siap saji. Firdaus, Kamal, Pae, Untung saling bergantian menyumbangkan tenaga dengan kipasannya agar arang yang sudah membara tidak padam.

Lewat tengah hari, seluruh makanan sudah siap. Hamparan makanan yang sudah ditata diatas meja dengan aroma barbeque ayam, domba menjadi suasana menjadi semarak. Seluruh rombongan tak perlu takut kehabisan akan makanan. Agak sedikit berbeda memang antara bumbu olahan Malaysia dengan Indonesia. Yang membuat beda mungkin karena di Malaysia menggunakan bahan kare sebagai bumbu dasar. Tapi, justru disinilah nikmatnya. Semuanya menikmati makanan dengan cita rasa Malaysia.

“Enak juga ya,” ujar Wahyu Agung Setiawan.

Sayangnya, hampir selama di Pulau Manukan, cuaca kurang bersahabat dengan kami, karena seharian cuaca diselimuti oleh hujan gerimis. Wal hasil hanya beberapa dari kami yang memanfaatkan Indahnya pantai dengan berwisata snorkling. Sisanya? Tidur. Ya, sebagian besar peserta rupanya sengaja beristirahat sejenak karena waktu istirahat yang begitu sedikit. Juga, persiapan malam hari nanti untuk melakukan Friendly Match yang kedua.

Puas dari Pulau Manukan, pasukan pun kembali ke hotel. Hanya tersedia waktu sekitar satu jam setengah bagi semuanya untuk beristirahat.

Belum lagi puas menyandarkan punggung, panggilan lagi-lagi terdengan dari dering whatssap mesenger. Semua sudah harus turun di lobby karena jemputan sudah menanti. Malamnya memang kami dijadwalkan melakukan pertandingan persahabatan dengan teman-teman dari Tangkis Kinabalu Racquet Club (TKRC). Bagi sebagian peserta dari Indonesia tim TKRC bukan lagi orang baru. Hampir semuanya pernah datang mengunjungi Jakarta di tahun 2016 lalu. Dan inipun kali kedua bagi sebagian peserta dari Indonesia datang ke Sutra Harbour. Tuan rumah dipimpin langsung oleh Datuk Kadzim Bin Mohd Yahya. Dalam sambutan singkatnya Datuk berharap agar hubungan antar negara serumpun ini bisa tetap terjaga. Tim TKRC menampilkan pemain-pemain terbaiknya. Sementara tim MBI berkunjung dengan kekuatan apa adanya. Tetapi hasil akhir memang bukan segalanya. Usaha menyatukan hati diantara sesama penggemar bulutangkis adalah tujuan utamanya. (Arief Rachman)

Berita Berita Lainnya