Berita > Berita

Susy Susanti: ''Tidak ada yang mustahil''

Rabu, 13 Maret 2019 06:10:50
512 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Satu gelar juara berhasil dibawa pulang dari turnamen bulutangkis tertua dan bergengsi di dunia. Adalah Hendra Setiawan/ Mohammad Ahsan yang kini lebih pantas disebut pebulutangkis veteran, sukses mengulang prestasi lima tahun silam, kembali naik ke podium juara Yonex All England Open Badminton Championships 2019 hari Minggu (10/3) di Birmingham, Inggris.

Gelar juara disegel duet Hendra/Ahsan yang lebih kerap disebut The Daddies usai menaklukkan pasangan Malaysia, Aaron Chia/ Soh Wooi Yik dengan rubber game 11-21, 21-14 dan 21-12.

Penggemar bulutangkis di dunia pun merasa kagum atas torehan manis Duo Hendra/Ahsan ini. Begitu juga dengan penggemar bulutangkis di Tanah Air yang tadinya sempat pasrah, bakal tak ada gelar kali ini dibawa pulang dari All England Open 2019 setelah cedera betis Hendra/Ahsan saat babak semifinal turnamen berhadiah total USD 1,000,000. Namun rupanya, kejutan selalu datang di penghujung turnamen, Hendra/Ahsan sukses naik ke podium juara.

Susy Susanti, selaku Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI pun melontarkan pujian kepada Hendra/Ahsan yang kini memilih karir di jalur profesional dalam mengikuti turnamen internasional bukutangkis.

Usai turnamen di Birmingham ini, Susy Susanti menyempatkan obrol-obrol dengan jurnalis Badmintonindonesia.org mengenai penampilan Hendra/Ahsan dan evaluasi penampilan tim pelatnas di All England 2019, seperti kami lansir di bawah ini. Selain gelar juara yang diraih Hendra/Ahsan, catatan terbaik yang dicatat pebulutangkis Indonesia adalah sukses pasangan Fajar Alfian/ Muhammad Rian Ardianto dan pasangan ganda campuran Praveen Jordan/Melati Daeva Oktavianti yang mencapai semifinal.

Bagaimana komentarnya mengenai hasil yang dicapai Hendra/Ahsan?
Seperti yang saya bilang sebelumnya, tidak ada yang mustahil, sebelum pertandingan berakhir, semua memungkinkan saja, kita lihat perjuangan dari Hendra/Ahsan luar biasa. Kami semua terharu, saya sampai menangis. Karena (dengan Hendra cedera), peluangnya kecil. Ini jadi panutan buat adik-adik, kesempatan sekecil apapun kalau kita berusaha, pasti ada jalan.

Saya percaya, dan untuk Hendra/Ahsan, mereka betul-betul berjuang. Bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk Indonesia, itu yang kita patut bangga.

Apa komentar tentang permainan tadi?
Lihat kondisi Hendra/Ahsan, di game pertama tertekan, di game kedua mulai dapat dan mulai naik lagi, mereka kayaknya lebih percaya diri. Pasangan Malaysia mungkin over confidence karena sudah memenangkan game pertama, sudah di atas angin. Tapi dengan pengalaman dan ketenangannya Hendra/Ahsan, itu yang membuat mereka menang.

Waktu game kedua menang, di game ketiga awal mereka menekan lawan, saya sudah ada keyakinan. Tapi saya berharap Hendra/Ahsan tidak kendor, satu poin demi satu poin, cukup menegangkan.

Itu yang membanggakan, banyak hal yang membuat mereka patut dijadikan panutan. Saya katakan kepada adik-adik mereka semua, itu panutan, dari disiplinnya, attitude -nya, sikapnya, pada saat di lapangan, di latihan, benar-benar mencerminkan seorang juara.

Apa ada pesan khusus kepada Hendra/Ahsan sebelum pertandingan?
Pesan khusus tidak ada, saya kirim Whatsapp saja. Lalu saya bilang good luck untuk pertandingan final. Hendra bilang, ''Doain ya cik,". Saya jawab, ''Pasti!''. Cuma itu saja, karena kan mereka yang lebih tahu mempersiapkan pertandingan. Kami kasih support saja.

Bagaimana dengan dukungan supporter selama di All England?
Kami mengucapkan terima kasih sekali atas dukungan supporter dan KBRI di Inggris yang setiap tahun selalu membantu kami, mengerahkan supporter, memberikan semangat terus. Walau tadi game pertama kalah, tapi disemangati terus, itu yang sangat membantu, jadi pemain merasa tidak sendiri di lapangan. Merasa ada support dari rakyat Indonesia.

Bagaimana evaluasi untuk hasil di All England kali ini?
Meskipun pemain profesional, Hendra/Ahsan tetap latihan di pelatnas, jadi saya tidak pernah menganggap mereka sudah di luar. Tetap menganggap mereka sebagai anak-anak kami.

Secara keseluruhan untuk pemain muda, saya melihat ada progres. Kalau tahun lalu yang lolos ke semifinal ada satu, sekarang bisa tiga. Padahal kans ke final bisa tiga wakil, tapi balik lagi ke pengalaman, ketenangan, yang bisa menentukan si atlet itu bisa tampil sampai akhir, apalagi di turnamen bergengsi seperti ini.

Fajar/Rian saya harap lebih konsisten saja. Mereka tinggal butuh ketenangan, kematangan, jam terbang yang lebih. Karena masih muda, seringkali mereka agak sedikit 'goyang', harus lebih berani, yang kurang sedikit dari mereka itu keberanian di lapangan, cueknya mereka, tenangnya mereka. Secara pukulan, permainan, sebetulnya sudah mulai bagus, sudah mulai naik, tapi harus lengkapi di non-teknisnya. Dari servis, poin-poin kritis, ada beberapa hal yang harus dibenahi.

Pastinya senang dengan hasil Hendra/Ahsan, intinya bisa terus konsisten berprestasi, apalagi di turnamen bergengsi. Ini memberikan semangat baru dan keyakinan, paling tidak menuju olimpiade. Apalagi yang dapat gelar sekarang Hendra/Ahsan, biasanya kita selalu bergantung pada Kevin/Marcus, yang selalu stabil kan mereka. Tapi sekarang ada Hendra/Ahsan, Fajar/Rian, jadi ganda putra kita bisa lebih percaya diri. Tapi tetap kerja keras lagi, karena di sektor lain masih belum, sekarang persaingan ketat, kami harus terus mempersiapkan atlet lagi.

Jangan terlena dengan satu kemenangan ini, justru ini menjadi awal untuk kami terus semangat lagi mencapai yang lebih tinggi di olimpiade nanti.

Ganda putra Indonesia bisa mencetak hat-trick di All England walaupun beda pemain, bagaimana komentarnya?
Saat ini kekuatan ganda putra memang ada di kita, mudah-mudahan pembinaan ini bisa terus berkesinambungan. Kami harus mempersiapkan untuk generasi berikutnya, untuk di sektor lain harus 'nguber' juga. Paling tidak ganda campuran kemarin bagus, Tontowi/Winny juga, meskipun mereka baru dipasangkan di dua turnamen. Lalu Praveen/Melati, sebetulnya kan kualitas mereka sudah sama, tinggal bagaimana merapkan strategi, pola dan keyakinan pada saat-saat akhir, di bola-bola kritis. (*)

Berita Berita Lainnya