Berita > Artikel > Wawancara

Tiga Ganda Putri Dalam Catatan Eng Hian

Jumat, 12 April 2019 16:20:53
724 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Tiga ganda putri Indonesia, Greysia Polii/ Apriyani Rahayu, Rizki Amelia Pradipta/ Ni Ketut Mahadewi Istarani dan Della Destiara Haris/ Tania Oktaviani Kusumah, mendapat catatan tersendiri oleh Eng Hian, Kepala Pelatih Ganda Putri PBSI pada tiga turnamen terakhir yang mereka ikuti.

Ketiga turnamen mulai dari ajang India Open Super 500, Malaysia Open Super 750 hingga Singapore Open Super 500. Catatan ini menjadi bahan evaluasi sekaligus pertimbangan Eng jelang kualifikasi menuju Olimpiade Tokyo 2020.

Gelar juara berhasil dikantongi pasangan Greysia/Apriyani di India Open 2019. Sayangnya, di turnamen berikutnya pada Malaysia Open 2019, Greysia/Apriyani dikalahkan oleh Rizki/Ketut.

Pada ajang India Open 2019, justru Rizki/Ketutlah yang dikalahkan oleh teman sendiri, yaitu Della/Tania. Padahal di atas kertas, Rizki/Ketut lebih diunggulkan karena Tania merupakan pemain yang lebih muda dan baru dipasangkan dengan Della.

Penampilan Rizki/Ketut semakin menurun kala di Singapore Open 2019 mereka kalah telak di babak pertama oleh ganda Thailand, Jongkolphan Kititharakul/ Rawinda Prajongjai dengan skor 10-21 dan 6-21. Pada pertemuan sebelumnya di kejuaraan beregu campuran Asia, Tong Yun Kai Cup 2019, Rizki/Ketut menang mudah atas pasangan Thailand tersebut dengan skor 21-13 dan 21-11.

"Hasilnya tidak sesuai yang diharapkan, tapi per individu ada evaluasi plus minus yang harus dikaji lagi bersama-sama. Contohnya, kenapa Rizki/Ketut bisa kalah dari Della/Tania? Greysia/Apriyani bisa kalah dari Rizki/Ketut? Kenapa Rizki/Ketut bisa kalah begitu drastisnya di Singapura, skornya jauh? Kenapa Rizki/Ketut kok performanya naik-turun, di Tong Yun Kai Cup menang, tapi di Singapura bisa kalah dengan skor telak? " ungkap Eng, mengutip wawancara Badmintonindonesia.org di Pelatnas Cipayung.

"Tapi ada tren positif, dari mereka sendiri ada persaingan. Seorang Tania yang baru dipasangkan dengan Della, dia baru naik dari level junior, bisa mengalahkan seniornya. Ada evaluasi buat yang mengalahkan dan yang dikalahkan," ujar Eng.

"Saat Rizki/Ketut menang dari Greysia/Apriyani, saya pikir ini adalah momentum untuk Rizki/Ketut melangkah lebih jauh, tapi kenapa pada saat di babak selanjutnya mainnya bisa drop sekali? Mungkin ada faktor kepuasan bisa mengalahkan teman sendiri?" lanjutnya.

Pada ajang India Open 2019, prestasi tertinggi tim ganda putri Indonesia diraih Greysia/Apriyani yang menggondol gelar juara. Sedangkan di Malaysia Open 2019, Rizki/Ketut mencapai babak perempat final sebelum akhirnya dikalahkan oleh ganda China, Li Yinhui/Du Yue, dengan skor 18-21 dan 16-21.

"Saya melihatnya lebih ke faktor non teknis, tidak stabil. Kalau stabil contohnya seperti Greysia/Apriyani, mereka lebih banyak ke faktor teknik. Misalnya kemarin si A di posisi menyerang lagi kenapa, defense lagi kenapa. Ini lebih mudah buat saya untuk menginstruksikan dan membuatkan program, tapi kalau non teknis, balik lagi harus berangkat nggak cuma dari saya, tapi dari atletnya," ujar Eng.

Di Singapore Open 2019 yang kini tengah berlangsung, pasangan Yulfira Barkah/Jauza Fadhila Sugiarto terhenti di babak kedua dari pasangan Jepang yang merupakan Juara Dunia 2018, Mayu Matsumoto/Wakana Nagahara dengan skor 21-23 dan 17-21. Sedangkan Rizki/Ketut dan Della/Tania terhenti di babak pertama, dan Greysia/Apriyani tak ambil bagian di Singapore Open. (*)

Berita Wawancara Lainnya