Berita > Artikel

Kekalahan ''The Minions'' Dalam Catatan Lily Dian

Sabtu, 13 April 2019 23:47:52
958 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Menyaksikan kekalahan ''The Minions'' kali ini membuat saya semakin gelisah. Kegelisahan saya bukanlah karena kemampuan mereka yang semakin menurun tapi lebih karena kini permainan mereka benar-benar mulai terbaca. Itu yang saya lihat pada permainan mereka akhir-akhir ini. Berawal dari membaca pukulan dan pergerakan Gideon, kemudian membuat Kevin harus bekerja keras untuk membuat perbedaan dalam permainan untuk membuka celah lawan, lalu berakhir dengan kesalahan antisipasi ataupun adanya celah kosong yang terlihat oleh lawan yang akhirnya mampu membuat mereka menuntaskan permainan.

Saya tidak meragukan kerja keras mereka baik itu di dalam latihan maupun di dalam lapangan. Sebagai fans yang mencintai negeri dan olahraga ini, saya hanya mengkhawatirkan kondisi fisik mereka. Usai mengalami cedera leher akhir taun lalu, saya merasakan bahwa Gideon kini lebih benar-benar berusaha menjaga dirinya agar tidak terkena cedera yang sama untuk ketiga kalinya, terutama dalam melakukan smes. Akibatnya dalam melakukan serangan, mereka kini tidak lagi terlihat menakutkan. Saya melihat bahwa dalam mematikan lawan, sebagian besarnya The Minions bergantung pada Kevin sebagai finisher.

Ya, memang Kevin selama ini sering terlihat berperan besar dalam mematikan lawan ketimbang Gideon. Namun sebenarnya itu tidak terlepas dari peran kekuatan Gideon dari baseline. Kini Gideon tak lagi seleluasa seperti sebelumnya. Ia benar-benar harus berhitung dengan jeli agar ia bisa tetap prima hingga, paling tidak, waktu olimpiade tiba. Kini Kevin sepertinya harus mulai membiasakan diri dengan settingan yang baru, memutar otak untuk mengolah permainan yang bisa sesuai dengan kondisi Gideon saat ini namun tetap bisa menampilkan permainan khas mereka yang menyerang. Mungkin itu sebabnya Kevin kini terlihat sedikit lebih ceroboh dan banyak melakukan kesalahan sendiri.

Kini gelar All England sudah terlepas, merekapun sudah kehilangan banyak poin. Tahta ganda putra nomor 1 dunia sudah mulai goyah karena jarak antara mereka dan lawan kini sudah mendekat. Sejujurnya, saya bukan tipe pribadi yang senang merubah orang lain. Saya sebenarnya sangat menyukai bahkan menghargai pilihan gaya main yang diperagakan oleh The Minions hingga saat ini. Namun tampaknya dengan kenyataan yang sekarang terjadi membuat saya sempat berkata di dalam hati bahwa mereka harus berpikir kembali tentang jati diri permainan mereka. Apakah mereka akan tetap dengan jati diri permainan yang sama ataukah mereka bersedia melakukan perubahan (penyesuaian) demi tetap menjaga asa untuk bisa meraih titel bergengsi berikutnya yang masih belum tergapai oleh mereka.

Seperti yang sudah disebutkan oleh teman kita di forum diskusi Bulutangkis.com bahwa yang membuat permainan mereka tidak lagi digdaya adalah karena bola-bola mereka saling menyulitkan bagi satu sama lain. Saya memiliki analogi lain tentang The Minions yang juga memilik makna yang tidak jauh berbeda. Bagaikan sebuah motor bakar yang selalu menjadi penggerak bagi berbagai alat/mesin. Kevin bisa dianalogikan sebagai piston dimana poros atau kendali permainan dipegang olehnya. Namun bagi mesin sesungguhnya piston tidak akan bisa bekerja tanpa ada stimulus dari busi yang memulainya. Percikan listrik yang dihasilkan dari busilah yang membuat piston bisa bergerak dalam menghasilkan energi bagi sebuah mesin untuk bekerja. Dalam analogi saya, Gideonlah sebagai busi bagi permainan mereka. Selama Gideon tampil prima, maka performa The Minions akan jauh dari bahaya.

Jika sebelumnya tampil prima selalu dikaitkan dengan kemampuan fisik saja, kini definisinya sudah berbeda. Gideon harus prima tidak hanya fisiknya, tetapi juga pergerakannya dan pukulan-pukulannya. Sepanjang pertandingan semifinal tadi Gideon benar-benar kalah ‘perang’ dari Kamura. Kamura selalu berhasil membaca arah pukulan atau bola-bola apa saja yang Gideon mainkan yang kemudian berefek pada Kevin yang meski berupaya menutupi namun tetap saja harus gagal karena Kamura sudah selangkah lebih maju untuk mengontrol permainan. Melatih bola-bola kecil menjadi pekerjaan rumah bagi The Minions, khususnya Gideon, agar lawan tidak lagi bisa leluasa mengontrol permainan dan mengalahkan mereka.

Pekerjaan rumah juga tidak hanya dimiliki oleh Gideon saja. Sebagai duo maut, Kevin juga mendapatkan hal yang sama. Hanya saja pe-ernya menjadi berbeda karena fungsi dan keahliannya di atas lapangan. Bermain cepat memang menjadi keahliannya karena disitulah semua senjata terbaiknya bisa keluar baik dari segi tekanan maupun keahlian aneh bin ajaibnya. Namun kini, saya berharap Kevin bisa lebih menyempurnakannya dengan satu hal, kesabaran (ketenangan). Kesabaran atau ketenangan berhubungan erat dengan kebijaksanaan. Saya masih belum lupa bahwa saya pernah mengingatkan tentang hal yang sama untuk Kevin saat mereka berlaga pada ajang SEA Games 2015 di Singapura. Jika mau contoh yang konkrit, maka sang legenda, Hendra Setiawan, adalah bentuk nyatanya.

Melihat penampilan Kokoh (Hendra) dan Babah (Ahsan) dari awal taun ini memang sungguh luar biasa. Di tengah tergerus usia, kondisi fisik dan rentannya cedera, mereka tetap mampu tampil memukau. Permainan Hendra di depan net memang masih belum ada tandingannya jika ia berada pada kondisi prima. Bukan hanya tentang skill-nya, bukan juga tentang kepintarannya mengontrol permainan, tapi lebih kepada kebijaksanaannya dalam mengolah bola. “Man in the right place at the right time” menjadi julukan yang selalu komentator lekatkan padanya. Karena faktor fisik dan usia, ia tak lagi ingin mubazir dengan waktu dan tenaga. Ia berusaha menghemat energinya dengan pilihan-pilihan olahan bola yang begitu bijaksana. Saya bisa merasakan betapa Hendra begitu perhitungan dengan pilihan dan arah pukulannya. Ia tidak hanya memperhatikan posisi lawan namun juga mempertimbangkan posisi sang partner yang berada di belakangnya.

Saya berharap kemampuan Hendra yang satu ini bisa dimiliki oleh Kevin. Saya tidak membutuhkan hasil yang instan. Sebagai fans, saya akan terus tetap bersabar dan menunggu perubahan demi perubahan kecil darinya karena saya ingin Kevin bisa bertahan lama di kancah perbulutangkisan dunia. Kevin memang sudah mendekati sempurna sebagai pemain dunia, tapi ia tetap harus terus belajar agar segala kelebihannya tidak sirna dengan sia-sia.

Fokus menjadi pesan lain yang juga ingin saya sampaikan disini. Bagaimana dengan sistem rally point sebuah fokus yang prima menjadi faktor utama selain kondisi fisik tanpa cedera. Fokus terletak pada otak yang menjadi pusat kendali seluruh gerak tubuh manusia. Melatih pikiran kini menjadi sangat penting bagi setiap pemain di atas lapangan. Pikiran tidak mau kalah, pikiran yang pantang untuk menyerah, pikiran yang harus berjuang keras tanpa merasa lelah harus selalu ada dan terpasang sebelum menuju ke lapangan. Saya berharap meski kekalahan melanda, pikiran-pikiran di atas masih melekat erat di kepala mereka untuk mereka bisa buktikan lagi di pertandingan-pertandingan berikutnya. Seperti cinta saya sebagai fans untuk mereka para pejuang tepok bulu Indonesia yang akan selalu melekat dan mengiringi dimanapun mereka berada.

Tetap semangat ya, guys! (Lily Dian)

Berita Artikel Lainnya