Berita > Berita > Klub

50 Tahun Perjalanan Emas Bulutangkis PB Djarum

Senin, 29 April 2019 10:41:00
671 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Air mata kesedihan maupun kebahagiaan mewarnai kiprah perjalanan PB Djarum, sebuah klub bulutangkis yang berawal di Kudus, kota kecil di Jawa Tengah. Terbentuk pada tahun 1969, kini rentang usia PB Djarum telah mencapai 50 tahun. Sepanjang 5 dekade itu pula, air mata kesedihan kemudian bertransformasi menjadi mata air prestasi PB Djarum bagi bulutangkis Indonesia.

Berbagai cerita tentang air mata duka dan air mata bahagia inilah yang kemudian mengemuka dalam acara puncak perayaan syukur HUT ke 50 PB Djarum. Digelar di GOR Djarum, Jati, Kudus, Jawa Tengah, pada Minggu (28/4) malam, ratusan legenda bulutangkis maupun alumni PB Djarum turut hadir. Beberapa di antaranya Christian Hadinata, Hastomo Arbi, Hariyanto Arbi, Sigit Budiarto, Tontowi Ahmad, Liliyana Natsir, Hendrawan, dan lainnya. Mereka saling berbagi kisah tentang perjalanannya bersama PB Djarum.

GOR Djarum yang biasa menjadi arena berlatih para atlet PB Djarum atau ajang audisi, Minggu malam berubah menjadi panggung hiburan raksasa. Sisi ke arah dinding membelakangi asrama disulap menjadi panggung raksasa hampir selebar gor. Sedangkan lapangan bulutangkis telah ditutupi karpet-karpet untuk menjaga lapangan dari kerusakan, dan menjadi tempat duduk para tamu.

Rangkaian perayaan usia emas PB Djarum diawali sejak siang dengan peluncuran empat buah buku yang mendokumentasikan tentang berbagai cerita dan perjalanan prestasi atlet PB Djarum yang mewarnai dunia bulutangkis Indonesia. Kemudian puncak perayaan HUT ke 50 PB Djarum diisi dengan pemberian penghargaan berupa pin emas kepada tokoh-tokoh dan legenda PB Djarum yang telah berjasa mengharumkan nama bangsa di kancah bulutangkis dunia. Selain itu, PB Djarum juga berkomitmen memberikan dukungan kepada atlet disabilitas yang akan berlaga di cabang para badminton di level internasional.

Tidak hanya memberikan penghargaan, perayaan HUT ke 50 PB Djarum juga diramaikan oleh penampilan seni tari dari para atlet muda PB Djarum. Sementara itu, para alumni PB Djarum juga menunjukkan kemampuan “istimewa” mereka dengan tampil sebagai grup band di mana Tontowi Ahmad didapuk sebagai vokalisnya. Tampil bagaikan konser band lawas, Sigit Budiarto duduk di bangku drummer, lalu ada Bandar Sigit Pamungkas memainkan guitar.

Di penghujung lagu, Tontowi yang tampil memukau menyanyikan ''Sahabat Kecil" mendapat hadiah bunga dari Liliyana Natsir yang duduk di jejeran para alumni. Liliyana berlari kecil ke atas panggung
memberi hadiah bunga kepada Tontowi. Tepukan para hadirin pun riuh mengapresiasi penampilan Tontowi.

Mengenang awal mendirikan PB Djarum, 50 tahun lampau, Pendiri PB Djarum Robert Budi Hartono, seperti dituturkan Kang Maman yang bertindak sebagai pembawa acara bersama Yuni Kartika.

“Kita waktu itu sudah melihat bahwa Indonesia paling menonjol di bulutangkis. Saya pikir kenapa tidak kalau kita bisa menyumbangkan sesuatu untuk Indonesia melalui bulutangkis, kebanggaan nasional, menggalang persatuan,” kenang Robert Budi Hartono.

Ada sebuah fragmen menarik diceritakan Robert Budi Hartono tentang air mata yang turut mewarnai periode awal berdirinya PB Djarum. Sekitar tahun 1971, dalam sebuah kejuaraan lokal di Kudus, Budi Hartono melihat seorang lelaki muda berusia 15 tahun menangis di anak tangga pojokan gedung. Lelaki muda itu menangis karena baru saja kalah bertanding.

Kepadanya, Budi Hartono memberikan nasehat agar tak putus asa. Bahkan ia juga menawarkan lelaki muda ini untuk ikut bergabung dan berlatih di PB Djarum. Kini, sosok anak muda berlinang air mata itu kita kenal sebagai Liem Swie King, seorang legenda bulutangkis Indonesia dengan prestasi kaliber dunia. Budi Hartono berharap kisah air mata King ini dapat menjadi inspirasi dan motivasi bagi para atlet saat ini agar tidak pernah menyerah berjuang dan berlatih keras demi meraih prestasi.

Sementara itu, di hadapan para legenda dan alumni PB Djarum, President Director Djarum Foundation Victor R Hartono, mengatakan usia 50 tahun PB Djarum hanyalah permulaan. Ia berharap kiprah PB Djarum bisa melampaui 100 tahun atau bahkan lebih sehingga bisa semakin mengharumkan Indonesia di mata dunia.

“PB Djarum akan tetap eksis selama kita yakin dan bertekad kuat untuk membantu menyatukan Indonesia. Ini sesuai dengan itikad besar PB Djarum: membantu kejayaan sport untuk persatuan Indonesia. Kita tak bisa bersatu dalam kesengsaraan sport, tapi kita bisa bersatu dalam kejayaan sport,” ujar Victor.

Sejak 1969 hingga saat ini, komitmen PB Djarum tidak pernah berhenti untuk melahirkan bibit-bibit baru berbakat di cabang olahraga tepok bulu. Perkumpulan yang mulanya hanya untuk kebutuhan olahraga para karyawan PT Djarum terus melakukan inovasi demi prestasi bulutangkis Indonesia. Salah satunya melalui program pencarian bakat “Audisi Umum Djarum Beasiswa Bulutangkis”.

Lewat ajang ini pula, lahir sosok Kevin Sanjaya Sukamuljo yang saat ini menjadi ganda putra peringkat pertama dunia.

Selain itu, untuk menghadirkan iklim kompetisi yang berkualitas, Djarum juga menggelar berbagai kejuaraan bulutangkis untuk berbagai kelompok usia dan berskala nasional maupun internasional, seperti Djarum Superliga Junior, Djarum Sirkuit Nasional, dan Djarum Superliga Badminton. Dengan begitu, Indonesia selalu memiliki stok pebulutangkis berkualitas yang mampu meraih kejayaan di panggung bulutangkis dunia.

Semangat meraih kejayaan ini pula yang disebarkan dari Kudus ke seluruh penjuru dunia melalui jejaring alumni dan legenda PB Djarum. Meski telah gantung raket, tetapi banyak dari antara para alumni PB Djarum yang berdiaspora ke berbagai daerah hingga mancanegara.

Contohnya, Fung Permadi yang didapuk sebagai pelatih nasional Taiwan pada 2005 hingga 2006 sebelum akhirnya ia kembali ke Tanah Air dan menjadi Manager Tim PB Djarum. Lalu ada pula Minarti Timur, peraih medali perak Olimpiade Sydney tahun 2000 yang menjadi pelatih Timnas Filipina. Setali tiga uang, ada pula peraih perak Olimpiade 1992, Ardy B. Wiranata, yang menjadi pelatih Kanada dan Amerika Serikat.

Kesuksesan legenda PB Djarum juga tak hanya di lini kepelatihan, tapi juga menjalar hingga ke aspek-aspek lain di dunia bulutangkis. Misalnya saja Hariyanto Arbi yang kini menggeluti bisnis yang tak jauh dari dunia bulutangkis. Dengan bendera bisnisnya, pemilik julukan ‘smash 100 watt’ itu memproduksi berbagai apparel bulutangkis.

Eksistensi PB Djarum di ekosistem bulutangkis ini senada dengan ucapan pendiri PB Djarum, Robert Budi Hartono.

“Mari kita terus dukung bulutangkis nasional. Karena bulutangkis memang layak kita banggakan sekaligus kita perjuangkan eksistensinya. Karena kita sudah sama-sama melihat bagaimana bulutangkis mampu mempersatukan Indonesia, mengharumkan nama Indonesia di pentas dunia,” pungkasnya. (*)

Berita Klub Lainnya