Berita > Artikel

Surat Seorang Penggemar Untuk The Minions

Rabu, 01 Mei 2019 00:00:08
948 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Dear The Minions,

Yang sudah menjadi kebanggaan dengan segala prestasi yang sudah ditorehkan.

Saya adalah Lily Dian. Meski itu hanya nama samaran, namun rasa cinta dan bangga saya tak pernah samar pada kalian. Itu adalah nyata dan selalu akan ada. Tidak hanya untuk kalian berdua, namun juga bagi seluruh punggawa bulutangkis Indonesia.

Kali ini dengan berat hati harus saya katakan bahwa sekarang kalian sudah dalam keadaan lampu merah alias sangat berbahaya.

Saya tidak akan pernah lupa ketika seorang Gideon selalu berusaha tampil prima bahkan terkadang tidak peduli bagaimanapun kondisi, situasi dan posisinya demi supaya bisa tampil perkasa. Turnamen Malaysia Open dan Super Series Final 2017 menjadi buktinya. Namun kini saya harus mendengar bahwa kamu sudah merasakan kelelahan yang luar biasa hingga harus tampil tak berdaya di game kedua.

Meski mungkin ini akan sedikit terkesan kasar namun dengan terpaksa saya harus berkata bahwa saat ini kamu sudah benar di'telanjangi' oleh lawan-lawanmu, Nyo. Seolah seperti tidak ada lagi ruang bagimu untuk menutupinya. Saya tidak tahu dengan pertandingan yang lain, namun semifinal Singapore Open 2019 menjadi contoh yang sangat terpampang nyata bagi saya bagaimana seorang Gideon benar-benar tereksploitasi oleh lawan (Kamura) yang saat itu seolah seperti sudah memiliki indera keenam saking sudah sangat hafal dengan semua pergerakanmu. Andai kamu bersedia untuk melihat kembali rekaman pertandingan itu, lihatlah ketika setiap kamu memukul bola lalu lihatlah bagaimana pergerakan Kamura saat itu, area depan dengan segera dikuasainya bahkan beberapa kali Kamura dengan tepat berada di posisi dimana kamu mengarahkan bola. Kini kejadian yang hampir sama terulang kembali dan kembali saya merasa sedih saat menyaksikannya.

Bagi saya kamu seperti busi bagi sepeda motor untuk menyalakan mesinnya. Meski kamu tidak sejenius partnermu, tapi tanpa penampilan yang prima dari kamu, partnermu juga tidak bisa berbuat apa-apa. Bukan karena ia tidak mampu, namun karena ia sudah benar-benar kehilangan akal untuk mencari bentuk permainan yang pas dengan kondisi kamu sebagai partnernya (meski saya yakin bahwa di dalam pikirannya, Kevin punya banyak akal dan strategi untuk mengubah akhir cerita hanya saja ia tidak mungkin melakukannya mengingat kondisi kamu yang sudah tampak tak berdaya).

Apakah kamu dan Kevin akan masih mempertahankan jati diri permainan kalian saat ini ataukah kalian bersedia untuk merubah diri demi menjaga asa untuk bisa meraih gelar juara? Itulah pertanyaan yang ada di benak saya ketika saya harus melihat dengan sedih bagaimana lawan mengeksploitasi dan mendikte kalian hingga membuat kalian tidak mampu untuk keluar dari tekanan.

Saya percaya bahwa Tuhan tidak akan pernah memberi ujian tanpa adanya jalan keluar. Tuhan selalu memberikan solusi pada setiap masalah jika kita benar-benar berusaha untuk menemukannya.

Jika memang kehidupan dan status barumu sebagai kepala rumah tangga menjadi sebuah ujian bagimu, maka kamu bisa tiru seniormu Tontowi Ahmad sebagai salah satu solusinya. Ketika ia sadar bahwa permainannya bersama Liliyana sudah mulai terbaca dan itu mulai menghalangi mimpi mereka untuk meraih medali emas olimpiade, demi tidak ingin menjadi hambatan bagi mimpi mereka, dengan kerelaan hati seniormu kembali menjalani kehidupannya seperti layaknya saat ia berstatus sendiri. Ia tidak melakukannya sendiri, ada dukungan keluarga, anak dan istri yang selalu menemani.

Mungkin ini bukan solusi yang terbaik, namun tidak ada salahnya untuk dicoba. Meski saya tahu akan berat bagi kamu untuk menjalaninya, namun saya percaya mereka yang berada di sekelilingmu adalah orang-orang yang luar biasa yang akan selalu mendukungmu tanpa batas dan dengan rasa rela.

Introspeksi diri menjadi hal yang wajib kamu lakukan saat ini. Apakah kamu akan begini terus hingga mimpi berkalung medali emas olimpiade harus hilang dari depan mata ataukah kamu akan berani mengambil resiko dan meninggalkan zona nyamanmu demi sebuah medali emas olimpiade di Tokyo nanti yang mungkin akan bisa membuat jagoan kecilmu memiliki perasaan bangga ketika ia mengetahui bahwa ia berayahkan seorang pahlawan bangsa yang mengharumkan nama negara di pentas dunia ditambah dengan sebuah titel bernama 'legenda'? Ini akan menjadi pertanyaan saya berikutnya padamu, Sinyo.

Seperti busi yang harus selalu dalam keadaan kering dan bersih untuk bisa menghasilkan percikan api agar mesin bisa menyala dan piston bisa bekerja. Jika kering dianalogikan dengan motivasi dan bersih dianalogikan dengan fokus, saya ingin kamu bisa seperti busi yang tetap menjaga motivasi serta fokusmu agar mimpimu untuk meraih medali emas olimpiade tidak mati. Tidak hanya mimpimu tapi juga mimpi partnermu, Kevin, karena sejatinya ia juga tidak akan berada di posisi tertinggi jika bukan karena andilmu, seperti sebuah piston yang hanya akan mampu bergerak setelah busi memercikkan ledakan apinya.

Kamu tidak ingin dicap sebagai orang yang punya andil dalam menggagalkan mimpi orang lain, bukan? Maka dari itu berusahalah, cegahlah agar hal itu jangan sampai terjadi. Kembalilah berlatih. Contohlah seniormu, Hendra Setiawan. Tidak hanya mencontoh tentang hal non teknis saja, namun juga contohlah hal-hal teknis darinya seperti tentang bagaimana ia melakukan variasi pukulan dalam permainan terutama jika berada di baseline, karena jujur saja itulah yang menjadi kelemahan terbesar kamu yang sudah sangat terbaca dan sering dieksploitasi oleh lawan.

Saya tidak akan meminta kamu menjadi seperti Kevin dengan segala keunikan dan keanehan pukulannya yang selalu tidak terduga. Jika kamu tidak bisa menjadi luar biasa seperti partnermu, paling tidak berikanlah sebuah tampilan yang tidak biasa bagi lawanmu karena sekarang semua lawan sudah bisa membacamu dari A hingga Z, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kagetkan mereka dengan perbedaan penampilanmu di atas lapangan. Variasikan jenis dan arah pukulanmu. Paling tidak itu dulu yang harus kamu perbaiki.

Jangan hanya menekan dengan kekuatan dan pace yang sama dalam seranganmu karena pada akhirnya kamu akan mengalami apa yang kamu alami di pertandingan kemarin, kelelahan. Ingatlah, bahwa tenaga manusia juga ada batasnya. Jika tenagamu habis maka fokusmu juga akan menurun. Dan jika fokusmu sudah menurun, maka akan sulit untuk menguatkan mental berjuangmu kembali karena tidak ada lagi sumber tenaga dan peluru untuk menjatuhkan lawan-lawanmu. Saat ini sesuatu yang lebih besar sedang menunggumu seperti gelar juara dunia dan medali emas olimpiade. Maka dari itu kamu tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan fisikmu semata, asahlah dan perbanyak senjata andalanmu, Nyo.

Sejatinya sebuah pasangan yang tangguh tidak hanya bergantung pada satu orang saja. Meski kamu sudah mendekati sempurna sebagai pemain namun ada yang harus kamu ingat bahwa kemewahan skillmu masih belum mampu mengangkat partnermu jika ia dalam keadaan terpuruk di lapangan, Vin. Apa yang kalian alami dalam beberapa bulan terakhir menjadi bukti bahwa mengandalkan otakmu semata tidak menjadikan kalian digdaya dalam waktu yang lama. Ada hal non teknis yang tak terlihat namun nyata. Sesuatu yang bukan hanya bersumber dari pikiran namun lebih kepada sesuatu yang menyentuh dan mengikat hati menjadi faktor penting bagi kesuksesan kalian berdua. Saat ini, itulah yang menjadi ujian terbesarmu jika ingin predikat legenda benar-benar melekat pada dirimu, Vin.

Liliyana Natsir menjadi contoh nyata dimana bukan karena bakat dan kemampuan skillnya yang membuat seorang Tontowi Ahmad memiliki improvement yang signifikan, namun karena pribadi dan leadershipnya yang membuat Tontowi Ahmad bersedia dan rela untuk meninggalkan semua kenyamanan lalu menjalani kehidupan atlet bulutangkis layaknya saat ia masih menjadi pemula. Kamu sebenarnya punya aura dan kharisma yang luar biasa, Vin. Namun akan lebih luar biasa lagi jika kamu bisa bersama-sama, bahu membahu bersama Gideon untuk mengintrospeksi permainan kalian dan membuat visi baru tentang permainan jenis apa lagi yang ingin kalian kembangkan karena kini permainan cepat kalian benar-benar sudah terbaca.

Saya mengatakan hal-hal seperti ini karena saya tidak ingin kamu bernasib sama seperti Lee Yong Dae, seorang pemain dengan banyak talenta namun sayangnya ia masih belum mampu menjadi pemain yang 'memeluk' partnernya hingga akhirnya ia harus gagal di event-event besar. Saat ini kamu memiliki nasib yang sama dengannya di masa lalu, begitu digdaya dengan menjadi langganan juara hampir di seluruh turnamen reguler. Namun saya ingin kamu bisa menjadi berbeda, Vin. Saya ingin melihat kamu bisa menjadi juara dunia dan berhasil meraih medali emas olimpiade karena berhasil 'memeluk' partnermu. Asian Games tahun lalu menjadi bukti bahwa sebenarnya kamu bisa memberikan 'pelukan' itu, Vin. Saya ingin dan berharap sekali jika hal yang sama bisa terulang kembali.

Surat 'cinta' ini mungkin hanya sebuah surat 'cinta' biasa. Meski hanya mampu saya sampaikan dengan cara yang biasa, namun di dalamnya selalu terdapat sebuah dukungan dan untaian doa yang tidak henti-hentinya. Untuk kalian pahlawan bangsa yang sudah memberikan banyak inspirasi pada saya dan juga bagi fans lainnya.

Salam damai penuh kehangatan untuk semuanya.

Lily Dian

Berita Artikel Lainnya