Berita > Berita

Kala Wiranto Bercerita Perjuangan Susy Susanti Di Tahun 1989

Minggu, 12 Mei 2019 10:29:49
1145 klik
Oleh : admin
Kirim ke teman   Versi Cetak



Tiga hari ke depan, tepatnya Rabu 15 Mei, tim Indonesia akan terbang ke Nanning, China, untuk mengikuti perhelatan Piala Sudirman 2019. Doa restu masyarakat Indonesia dimohonkan Ketua Umum PP PBSI, Wiranto agar tim yang dipimpin kapten Hendra Setiawan ini bisa meraih sukes dan membawa Piala Sudirman kembali ke Tanah Air.

Wiranto menyampaikannya pada acara Pelepasan Tim Piala Sudirman 2019 yang berlangsung di Hotel Century, Senayan, Jakarta, pada Sabtu (11/5) siang.

"Kami mohon doa restu dari seluruh masyarakat Indonesia agar atlet-atlet kita yang berjuang di Tiongkok, mudah-mudahan dapat membawa kembali Piala Sudirman ke Indonesia," ujar Wiranto.

Kepada skuat Piala Sudirman 2019, Wiranto pun berharap para atlet memiliki semangat juang seperti seorang Susy Susanti, salah satu pahlawan Indonesia di Piala Sudirman 1989. Indonesia baru satu kali memenangkan Piala Sudirman pada tahun 1989, pertama kalinya lambang supremasi ini mulai dipertandingkan.

Wiranto mengenang kisah sukses Indonesia kala itu dimana Susy turun di partai ketiga, dan Indonesia sudah tertinggal 0-2. Namun Susy mampu membalikkan keadaaan dan memenangkan pertandingan sehingga menjaga asa tim Indonesia yang akhirnya juga terbakar semangat dan merebut Piala Sudirman.

"Pada saat tertinggal 0-2, kan teorinya satu poin lagi kalah. Tapi tunggal putri penentu bisa main kesetanan, sehingga membalikkan keadaan dan menang. Bukan hanya teknik permainan, tapi juga mental. Jadi para pemain di Piala Sudirman ini harus punya mental seperti Susy di tahun 1989. Apalagi persaingan sekarang semakin ketat," kata Wiranto.

"Sejarah di Piala Sudirman 1989 ini bisa menjadi sumber inspirasi yang bisa kita jadikan pelajaran terutama untuk para atlet yang beberapa hari lagi akan berangkat. Tidak ada yang tidak mungkin kalau kita berusaha, kalau kita gigih dan dengan dibantu pertolongan Tuhan Yang Maha Esa, pasti bisa. Bukan hanya teknik dan skill saja, atlet harus punya semangat dan mental baja, tidak menyerah dan tertanam dalam diri bahwa kita mampu mengatasi setiap lawan yang dihadapi," tutur Wiranto.

"Kerinduan untuk membawa kembali Piala Sudirman sudah sedemikian dalam. Bukan hanya kami yang merindukan Piala Sudirman, tetapi juga seluruh masyarakat Indonesia," ujar Wiranto.

Acara pelepasan tim Piala Sudirman 2019 bertepatan dengan syukuran HUT PBSI ke-68. Menginjak usia PBSI ke-68, Wiranto berharap PBSI dapat mengembalikan kejayaan bulutangkis. Dituturkan Wiranto, Indonesia telah mengalami peningkatan prestasi dari tahun ke tahun di nomor perorangan. Di tahun 2017 ada 38 gelar yang berhasil diraih, kemudian ada peningkatan di tahun 2018 menjadi 51 gelar. Sedangkan pada tahun 2019 sudah 18 gelar juara.

Lebih lanjut Wiranto mengatakan, bahwa PBSI tidak boleh puas dengan hasil gelar ini karena masih ada obsesi untuk meraih tiga lambang supremasi bergengsi di nomor beregu yaitu Piala Thomas, Piala Uber dan Piala Sudirman. Piala Thomas terakhir kali direbut pada tahun 2002. Piala Uber juga tentunya jadi incaran setelah sudah 23 tahun lepas dari Indonesia. Piala Sudirman pun sudah 30 tahun belum kembali ke Tanah Air.

"Saat ditunjuk sebagai ketua umum, saya katakan kita akan rebut kembali kejayaan bulutangkis Indonesia. Pada akhir abad ke-20, bulutangkis Indonesia sangat disegani. Sekarang kita belum (dapat gelar) di beregu, Piala Thomas, Piala Uber, dan Piala Sudirman, tapi di nomor perorangan sudah bagus," sebut Wiranto.

Pada kesempatan ini, PBSI juga melantik delapan pengurus provinsi yang telah memasuki masa bakti baru yaitu provinsi Maluku Utara, DI Yogyakarta, Sulawesi Barat, Kepulauan Riau, Nusa Tenggara Barat, Papua, Kepulauan Bangka Belitung dan Jambi. (*)

Berita Berita Lainnya